Pengaruh Gaya Kepemimpinan Baru Iran Terhadap Hubungan Barat –Iran Terkait Penurunan Aktifitas Program Nuklir Iran
Latar Belakang
Kesepakatan nuklir Iran (The Joint Comprehensive Plan Of Action / JCPOA) merupakan sebuah perjanjian yang sulit tercapai. Sejak lama negara-negara Barat (As dan sekutunya) menginginkan akan terjalinnya kesepakatan ini, namun segala bentuk usaha yang diupayakan barat selama ini masih juga belum membuahkan hasil. Iran selama beberapa tahun belakangan ini masih terus mengembangkan program nuklirnya, bahkan pengembangan tersebut telah mengalami kemajuan yang pesat. Iran telah mampu memanfaatkan tekhnologi nuklirnya sebagai sumber energi yang dapat memenuhi pasokan listrik di Iran, tidak hanya sebagai sumber energi, tekhnologi nuklir Iran saat ini juga telah berhasil dimanfaatkan Iran sebagai media riset dalam bidang kedokteran serta pertanian di Iran. Perkembangan tekhnologi nuklir Iran ini juga ditandai dengan telah dibukanya beberapa tempat sentral pengembangan nuklir baru di Iran. Sedangkan kesepakatan ini mengharuskan Iran untuk mengurangi dan membatasi program nuklir yang selama ini dikembangkan Iran. Langkah Iran dalam menyepakati perjanjian nuklir tersebut tentu secara otomatis akan membatasi agenda program nuklir Iran selama ini.
Sulitnya terjalin kesepakatan ini juga disebabkan oleh gaya kepemimpinan Presiden Iran sebelumnya yang selalu menolak segala bentuk hegemoni dengan Barat. Iran selalu mengambil langkah-langkah menentang terhadap barat dan tetap teguh melakukan pengembangan terhadap program nuklirnya. Titik klimaks pertentangan Barat dan Iran terjadi, ketika Negara-negara Barat sepakat untuk memberikan peringatan terhadap Iran dengan cara menekan Iran melalui kebijakan untuk memberikan sanksi-sanksi terhadap Iran.
Terbentuknya kesepakatan antara Iran dan Barat
Sulitnya Negara-negara Barat mengadakan kesepakatan dengan Iran ternyata hanya sampai ditahun 2013 saja. Negara-negara Barat yang tergabung dalam kelompok P5+1 (AS, Inggris, Perancis, Rusia, Cina plus Jerman) ternyata berhasil membujuk Iran untuk mengadakan kesepakatan terkait dengan isu nuklir Iran selama ini. Kesepakatan ini terjadi pada tanggal 24 November 2013 dan dilanjutkan dengan kerangka kerjasama yang lebih komprehensif lagi yang disepakati Iran pada 14 Juli 2015 di Jenewa Swiss yaitu The Joint Comprehensive Plan Of Action, sebuah kesepakatan yang akan membicarakan dan mancari solusi damai terkait dengan penurunan serta pengurangan aktifitas program nuklir Iran.
Melalui teori Indiosinkratik (indiosyncratic sources),bahwa pengambilan Kebijakan Iran dalam menyepakati perjanjian dengan Barat tentu dipengaruhi oleh aktor pengambil keputusan yang dalam hal ini yaitu presiden Iran Hassan Rouhani. Presiden Hassan Rouhani merupakan salah satu aktor yang menentukan dalam pengambilan kebijakan luar negeri Iran.
Peran Pemimpin Baru Iran Hassan Rouhani terhadap Hubungan Iran — Barat
Hassan Rouhani memiliki andil yang besar terhadap terbentuknya kesepakatan nuklir Iran yang disepakati bersama dengan Negara-negara Barat. Sebagai seorang Presiden, Hassan Rouhani memiliki otoritas terkuat kedua setelah pemimpin Agung Iran dalam mengambil sebuah kebijakan luar negeri di Iran. Ditinjau dari profilenya, Hassan Rouhani adalah seorang ulama dan politikus yang memiliki latar belakang pendidikan barat yang kuat, pendidikan Magister dan Doktoralnya di selesaikan di Glasgow Caledonian University, Skotlandia UK. Hal ini telah mempengaruhi gaya pemikiran Hassan Rouhani yang terkenal memiliki pemikiran moderat, yaitu cenderung menghindari perilaku atau cara-cara yang ekstrem. Hassan Rouhani lebih mengedepankan terhadap penggunaan cara-cara diplomatik yang intensif dalam menyelesaikan setiap permasalahan, dan selalu menghindari segala bentuk tindakan konfrontatif dengan siapapun. Setelah kepemimpinan Hassan Rouhani, Iran terlihat cenderung membuka diri untuk melakukan negosiasi dan pembicaraan serta menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara luar.
Hassan Rouhani juga memiliki pengalaman baik dalam melakukan negosiasi dengan Negara-negara Barat, ia pernah dijuluki sebagai seorang Syekh diplomat Iran, hal ini dikarenakan kepiawaian beliau yang baik dalam berdiplomasi, dan ditahun 2003 Hassan Rouhani pernah ditunjuk menjadi kepala negosiasi nuklir Iran. Negosiasi tersebut akhirnya berhasil membentuk kesepakatan dan menjalin kerjasama bersama dengan Negara-negara Barat.
Hassan Rouhani juga memiliki kedekatan yang baik dengan para Mullah di Iran, ia dikenal sebagai seorang ulama mujtahid syiah. Hassan Rouhani dibesarkan dan dididik oleh lingkungan yang sangat religious, dari mulai keluarganya yang sangat religious sampai pengajar ilmu agama beliau yang juga merupakan para ulama-ulama besar Syiah, ia juga memiliki pengalaman jabatan sebagai Penasehat Keamanan Presiden Iran Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami, ini juga yang telah membuat mengapa Hassan Rouhani mendapat dukungan dari kalangan Mullah di Iran, termasuk dukungan Pemimpin Agung Iran kepada Hassan Rouhani.
Pembatasan Aktifitas Nuklir Iran
Kesepakatan yang telah terbentuk ini akhirnya membuat Iran bersedia untuk membatasi aktifitas program nuklirnya, tetapi dengan syarat bahwa sanksi-sanksi yang selama ini dijatuhkan oleh Negara-negara Barat terhadap Iran harus segera dicabut. Kedua belah pihak akhirnya menyetujui untuk sama-sama melaksanakan komitmen mereka masing-masing. Selanjutnya melalui kesepakatan ini, Iran juga bersedia untuk mempersilahkan pihak internasional, yaitu Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency /IAEA) untuk melakukan inspeksi terhadap segala fasilitas-fasilitas nuklir yang ada di Iran diantaranya ialah Pabrik Tenaga Nuklir Iran yang terletak di Bushehr, Isfahan dan di Natanz, kemudian terhadap tambang uranium Iran di Gachin, dan satu tempat lagi merupakan pusat penelitian dan pengembangan kompleks militer Iran yang teretak di Parchin.
Kesimpulan
kesepakatan nuklir Iran yang berhasil di bentuk bersama dengan Negara-negara Barat merupakan salah satu kebijakan Hassan Rouhani yang berhasil dilakuakan sebagai bentuk dan upaya Hassan Rouhani dalam memperbaiki kondisi hubungan diplomatiknya dengan dunia internasional khususnya dengan Negara-negara Barat. Hassan Rouhani telah menjanjikan dalam kapmpanyenya bahwa ia akan memperbaiki hubungan negaranya dengan Negara-negara Barat, karena itu Peran dan karakter Hassan Rouhanil merupakan faktor yang dominan mengapa Iran bersedia untuk mengadakan kesepakatan dengan Negara-negara Barat terkait dengan isu nuklir Iran.