Kastrat BEM FISIP 2019
Nov 4 · 5 min read

Media Digital Pengaruhi Aksi Mahasiswa Abad 21

Oleh : Fariz Muntashir Billah

Mahasiswa Melihat Masalah Sosial

“Untuk Melawan Struktur Kekuasaan Oligarkis

Media Digitalah Yang Mampu Menjadi Alat Terkuat Yang Bisa digunakan Masyarakat”

Rostapsell, Kuasa Media, Kaum Oligarki dan Revolusi Digital

​Baru -baru ini mahasiswa kembali turun kejalan Bersama-sama menyeruakan penolakan RUU yang dinilai tidak memihak pada masyarakat kecil. Mahasiswa yang memiliki status sebagai bagian dari masyarakat memiliki tanggung jawab untuk merespon, bergerak dan melawan terhadap penguasa yang menggunakan hukum secara sewenang-wenang. Muhamad Hatta pernah menyampaikan bahwa “Mahasiswa itu hati dan pergerakannya merupakan penyambung dari rakyat”. Mahasiswa tidak sebatas pada Gerakan BEM, HIMA maupun organisasi eksternal lainnya namun mahasiswa ialah seluruh manusia yang memiliki status sebagai pelajar yang memiliki tanggung jawab akademik pendidikan tinggi, tanggung jawab berfikir ilmiah melalui riset dan tanggung jawab mengabdi pada kepentingan sosial yaitu masyarakat.

​Menjadi pertanyaan penting dari mana mahasiswa mengenal isu yang menjadi rujukan untuk bergerak, tujuannya untuk apa dan apa manfaatnya bagi mahasiswa sebagai aktor? Media digital saat ini banyak menjadi conter media arus utama, dengan mengklik berita kita dapat mengetahui apa yang bermasalah dari RUU yang dibawa DPR dan seberapa signifikan dampak yang dirasakan masyarakat jika RUU tersebut disahkan.

​Rostapsell seorang Ko-Digital Indonesian Connectivity Digital and Divergen menulis sebuah buku berjudul Kaum Oligarki, Warga dan Revolusi Digital, pada pembahasan medium dan pesan menyampaikan bahwa 70 persen anak muda Indonesia (15 -30 tahun) memakai perangkat digital. Perangkat digital menyediakan akses informasi untuk mahasiswa dalam hal ini untuk mereka akses dan kaji. Kita bisa liat sendiri bahwa terjadinya pergerseran rasa untuk aksi dari melihat langsung dengan cukup mencerna informasi digital (Rostapsel, 2019: 125).

​Dengan kehadiran media alternatif berbasis digital seperti Tirto.id, indoprogress, Tempo dan media lainnya mahasiswa membaca, mengamati dan terpengaruh hatinya untuk merespon isu tentang perubahan dalam RUU yang dibuat secara diam-diam dan tidak transparan dalam pembentukan RUU baik itu RUU KPK, KUHP, RUU MINERBA, Tengaga Kerja dan Pertahanan. Sebagai bahan kajian untuk memulai aksi.

Pemberitaan yang disiarkan oleh media massa tentang isu sosial yang berlangsung terutama pemberintaan tentang. pelemahan KPK secara kelembangaan yang merubah status KPK dari Lembaga Ad Hoc menjadi Aparatus Sipil Negara (ASN) dibawah pemerintah dan adanya dewan pengawas di atas KPK melalui RUU akan membuat praktik korupsi semakin mudah terutama untuk kejahatan kerah putih.

​Tidak kalah penting pemberintaan pasal-pasal KUHP yang bermasalah terutama pasal “makar” dan Pasal 128 dalam RUUKUHP “penghinaan presiden” yang multitafsir ada juga penghinaan Lembaga negera dalam pasal 407 dan 408 yang berakibat pada kriminalisasi masyarakat awam yang tidak paham logika hukum positif.

Haris Azhar dalam siaran Indonesia Lawyers Club (ILC) dalam paket list Perundang-undangan (KUHP) dimana letak social sciencenya? Jika hanya mengandalkan UU no 12 tahun 2011 tentang pembentukan perundang-undangan yang pihak penyusun cukup datang kesetiap kampus untuk meminta pendapat, gembel tidak masuk kampus sejak kapan gembel masuk kampus …saya heran dengan kepada pak Menteri dalam KUHP yang awalnya mencegah pengambilan dari budaya barat tapi dalam pemberian sangki denda kepada gembel itu juga merupakan tradisi barat..lalu. pak menteri mau ngomongin living law dimana RUU perlindungan Masyarakat adatnya?

Beberapa siaran Televisi, pemberitaan isu politik terkini oleh media alternative dan yang sangat mengejutkan publik terutama pada kalangan aktivis ialah tidak adanya isu HAM dalam sambutan pelantikan Presiden membuat banyak kecemasan publik akan adanya praktik politik seperti Orde Baru, karena komposisi parlemen yang sangat oligarkis dan tidak populisnya HAM dalam pembicaraan politik hari ini.

Tidak Populisnya HAM dan hampir setengah DPR merangkap menjadi pengusaha membuat Gerakan Twit dan Instagram terus menjadi pihak yang mengkritik pemerintah yang kita tahu gerakan yang ramai di Instagram #savekpk #tolakpasalngawur #tolakkuhp dan yang paling popular ialah #Reformasidikorupsi menjadi bukti bahwa kondisi demokrasi saat memang tidak sehat, mengutip istilah filsuf Roma Cicero “Ikan membusuk mulai dari Kepalanya” dan terbukti prilaku korupsi dilangengkan melalui pelemahan Lembaga KPK.

Dalam Demokrasi electoral opini publik dapat dibentuk melalui pesan media terutama digital, karena media memainkan peran sentral dalam memberikan informasi mengenai dunia. Media digital hari ini memiliki dampak selain kemudahan akses publik ialah mensetting persepsi publik, membentuk kepercayaan dan Gerakan. (Catre Happer, 2013: 1) menjadi konsekuensi logis bahwa media digital saat ini banyak menjadi rujukan publik dalam mencari informasi.

Peran Jurnalis Media Digitak memang harus mempertimbangkan akurasi informasi dan utuh (Unin, 2019) karena fakta sosial menggambarkan bahwa ketergantungan publik terutama mahasiswa dengan media digital terutama untuk mengenal isu seputar RUU yang akan disahkan DPR media digital banyak dijadikan rujukan utama. Lalu apakah itu merupakan kemajuan untuk mencerdaskan publik?

Fenomena Gerakan Mahasiswa terutama dalam Gerakan media sosial memang sangat efektif untuk membuat triger netizen agar terus peka terhadap isu yang terus berkembang namun ada beberapa konsekuensi logis yaitu fenomena post-truth semakin dominan dalam membentuk peresepsi publik. Post-truth istilah yang dikenalkan oleh Lee Mcintyre sebgai bentuk “alternative facts” yang menggantikan “actual facts” akibat fakenews yang terus dilemparkan kepada publik berulang dan massif (Lee Mcintyre, 2018 : 2).

Sulit membayangkan ada ribuan jenis berita yang satu sama lain saling bertolak belakang dan yang mana publik harus percayai, agar tujuan dari aksi tidak salah? Maka peran gerakakn mahasiswa pada saat ini akan semakin karena selain dari tantangan yang sama pada masa lalu melawan struktur oligarkis yang tidak berpihak pada masyarakat kecil ada tantangan baru yaitu bagaimana mahasiswa dapat menemukan informasi actual dan valid yang dijadikan sebagai dasar argumen untuk bertindak.

Karena berita digital yang semakin hari semakin ringkas dan tidak lengkap perlunya kemampuan mahasiswa untuk mengeksplorasi dan membandingkan setiap isi berita dalam forum kajian demi mendapatkan informasi yang utuh dan menghindari sifat mudah menjas karena memandang dengan sebelah mata atau lebih buruknya dapat membentuk “post-truth” dalam memandang suatu isu.

Maka untuk menutup tulisan ini perlunya kawan-kawan mahasiswa melihat siapa yang meciptakan inforamsi, lihat isi beritanya secara utuh dengan eksplorasi dan diskusi publik secara langsung memang sebaiknya tetap dipertahankan karena diskusi dengan memanfaatkan cyberspace kerawanan logika post-truth akan mudah sekali masuk dan mensetting persepsi publik melalui algoritma pengguna setiap kali kita mengklik berita dan media sosial. (Wisnu Prasetya Utomo, 2019)

Refensi.

McIntyre, L. (2018). Post Truth. London, England: The MIT Press. doi:9780262345965

Tapsell, R. (2019). Kuasa Media di Indonesia (Vol. II). (T. M. Kiri, Ed., & W. P. Utomo, Trans.) Serpong Tanggerang Selatan: Marjin Kiri.

The Role of the Media in the Construction of Public Belief and Social Change. (2013). Journal of Social and Political Psychology, 1.

TVchannel, B. (Director). (2019). Benarkah Media Sosial Sangat Mempengaruhi Opini Publik Jelang Pilpres 2019? [Motion Picture].

Wacthdoc (Director). (2019). Bedah buku Kuasa Media di Indonesia [Motion Picture].

Club, I. L. (Director). (2019). KERAS!! Haris Azhar Kritik Pernyataan Yasonna Laoly [Motion Picture].

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade