Pelajaran

Sebelumnya, tak apa, sungguh, kau berikan aku sebuah pelajaran.

Klise kedengarannya, tapi benar ini adalah sebuah pelajaran soal hati.

Ada sebuah malam yang dihabiskan dengan mengeluarkan satu per satu kartu soal diri sendiri, menatanya rapi di hadapan yang lain dan membiarkan semuanya terlihat seperti telanjang dan baru lahir. Lalu malam-malam berikutnya yang membuat kita buta soal siapa dia dan kenapa waktu itu kita mau ada untuknya. Malam bergulung menenggelamkan perasaan yang semakin memudar, pembicaraan tercekat di antara jawaban biasa dan pertanyaan lumrah. Sekedar mendampingi detik jam, mati-matian ingin memecahkan rekor, kerongkongan seperti tercekik kebisuan dan racun menetes darinya menuju ke degup dalam dada.

Lalu diputuskan lah, sudah, ah, sudahlah. Mungkin ini bukan pada tempatnya. Mungkin ini bukan pada waktunya. Mungkin ini memang tidak pernah seharusnya terjadi.

Lalu yang dulu itu apa? Anehnya, itu seperti sudah bertahun-tahun lalu dan dilakukan dalam mimpi. Segala jenis kata cinta dan harapan perhatian yang akhirnya tidak terbalas lagi itu enyah saja seperti jari yang menyeka air dari balik pelupuk mata.

Namun aku tidak pernah menangis karenamu.

Eh, bohong.

Aku menghabiskan dua jam terisak di balik telepon.

Aku mau jadi wanita sok kuat, padahal aku lah sama sebuah gumpalan emosi ketika mendeklarasi bahwa aku dimabuk cinta.

Ini seperti botol yang kosong padahal kamu masih ingin lupa.

Ada malam terakhir di mana akhirnya semuanya diputuskan untuk ditinggalkan. Lalu aku berkernyit sepanjang pembicaraan karena ini bukan seperti kamu yang kukira kukenal.

Tapi benar, ini adalah sebuah pelajaran.

Benar dugaanku, ada hal-hal yang begitu cepat basi saat tidak dijaga hangat. Atau mungkin dia dibakar terlalu cepat. Akhirnya gosong dan menjadi arang.

Aku akan duduk di atas abu itu, sampai hangatnya menjadi dingin batu. Lalu mungkin, aku bisa terpeleset lagi.

Untuk pelajarannya, terima kasih banyak.