Pulung Sastra itu Telah Jatuh di Barat

Beberapa esai sastra Jawa di Solo Pos akhir-akhir ini membahas mengenai pulung sastra Jawa dan Solo itu sendiri dalam kaitanya dengan kebangkitan sastra Jawa. Benarkah pulung sastra itu akan kembali ke Solo? Atau benarkah dengan atau tanpa pulung, Solo akan memrakarsai kebangkitan sastra Jawa?

Setidaknya, izinkanlah saya membabar bahwasanya bahasa Jawa tidaklah satu macam. Ia memliki beberapa jenis dialek, antraa lain yaitu Yogyakartan, Surakartan, Tegalan, Penginyongan (Banyumasan), Bloran, Surabayan, Osing, dan lain-lain. Namun memang bahasa Jawa yang diakui sebagai bahasa Jawa yang resmi adalah dialek Yogyakarta-Surakarta atau Jogja-Solo.

Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah di Jawa, khususnya Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa resmi (dialek Jogja-Solo). Mereka yang sehari-hari berbahasa Penginyongan (Banyumasan), sebagai contoh, mau tak mau dalam studinya harus memelajari budaya, bahasa, serta sastra Jawa yang sama sekali berbeda dengan budaya, bahasa, maupun sastra dalam kehidupan kesehariannya.

Inilah ironi dalam budaya Jawa. Telah terjadi pemberangusan hebat terhadap kekayaan lokal. Maka, mau tak mau mereka yang di luar Jogja-Solo selalu hadir sebagai manusia ambang antara budaya lokal sendiri, dengan budaya yang diakui secara resmi dan dimilikkan untuk mereka.

Untungnya, dalam waktu-waktu belakangan, kesadaran akan jati diri; lokalitas mengalami penguatan. Ada beberapa daerah yang begitu apik menampilkan “kekayaan Jawanya”.

Di Tegal, Lanang Setiawan secara tekun berolah diri mengupayakan mekarnya bahasa Tegalan. Berbagai genre sastra Jawa diolahnya sedemikian rupa menggunakan bahasa Tegalan. Tak heran, Yayasan Rancage mengganjarnya dengan pengharagaan bidang pengembangan kebudayaan pada tahun 2011.

Tak jauh dari Tegal, Penginyongan atau yang dulunya disebut Banyumasan, juga sedang menampakkan taringnya. Tahun 2010, budayawan Banyumasa Ahmad Tohari dkk menerbitkan majalah berbahasa Penginyongan, yakni Ancas.

Dalam kurun waktu enam tahun, Ancas telah menjadi media berekspresi bagi siapa saja yang hednak berolah sastra Jawa ala Penginyongan. Memang, belum muncul sastrawan Jawa yang kuat dari Penginyongan. Akan tetapi, Ancas secara efektif telah menyemai benih-benih sastrawan daerah kuat itu, yang diharapkan akan muncul dalam waktu yang tidak lama lagi.

Tentunya polemik pulung sastra Jawa dan Solo telah mengundang gairah dari berbagai pihak untuk menuliskan pemikirannya. Banyak harapan bahwa Solo akan kembali jaya dalam daratan akbar sastra Jawa. Bahwa pulung sastra Jawa akan kembali ke Solo.

Pulung biasanya akan jatuh pada mereka yang siap. Seperti halnya keberhasilan yang harus disambut dengan kesiapan yang mantap. Apakah Solo sudah siap bilamana pulung itu benar-benar hadir mendatanginya?

Saya rasa Solo siap. Tetapi ada juga daerah lain yang tak kalah siapnya. Daerah tersebut yakni Penginyongan. Mengapa Penginyongan?

Secara kesejarahan, Penginyongan merupakan cikal bakal bagi Jawa. Kerajaan tertua di Jawa, yakni Galuh Purba, tereletak di Banyumas. Bahasa Jawa tertua atau bahasa Jawa Kuna secara lebih lanjut juga masih terlestarikan di sini dan dikenal sebagai bahasa Penginyongan. Jadi dapat dikatakan, Penginyongan adalah daerah yang paling tua di Jawa.

Dalam bergulirnya roda sejarah, Penginyongan memang meredup lama sekali dari khazanah kebudayaan Jawa. Apalagi setelah munculnya bahasa Jawa gagrak baru, bahasa ini semakin terpinggirkan.

Arah kebangkitan Penginyongan, seperti yang sudah diuraikan, dimulai sejak tahun 2010. Diawali kelahiran majalah Ancas, setapak demi setapak Penginyongan mengukuhkan jati dirinya.

Tiap tahunnya Ancas secara rutin mengadakan lomba cerkak-geguritan Penginyongan bagi kalangan pelajar di kawasan Penginyongan. Pada tahun 2014 saja, majalah ini menerbitkan antologi cerkak berbahasa Penginyongan dengan judul Karcis Nggo Ramane.

Tak hanya di media cetak saja Penginyongan menguatkan jati diri. Akhir tahun 2015, bupati Banyumas, Achmad Husein, meresmikan kelahiran aplikasi kamus bahasa Jawa dialek Banyumasan. Aplikasi ini kian memperluas khazanah budaya Penginyongan untuk semakin dikenal secara lebih luas.

Perubahan istilah Penginyongan sendiri juga bukan sesuatu yang asal-asalan. Pada April 2016, bertempat di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Ahmad Tohari dan beberapa pemerhati budaya Penginyongan mencetuskan dirubahnya istilah bahasa Banyumasan menjadi bahasa Penginyongan. Pencetusan ini juga dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Pardi Suratno.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Penginyongan adalah suatu daerah yang sangat siap untuk menerima pulung sastra Jawa tersebut. Bahwa pulung itu, apapun hendak ditafsir maknanya dalam konteks kekinian, tak jadi soal. Kebangkitan sastra Jawa telah jadi keniscayaan.

Penginyongan telah memulai kebangkitan itu. Lalu, apakah dengan ini, mari kita kaitkan dengan polemik: apakah pulung sastra Jawa yang diperdebatkan di Solo ternyata sudah jatuh ke barat, ke suatu daerah tua di Jawa, tempat bahasa Jawa memulai perjalanannya?

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Solo Pos.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.