Sebuah Cerita Yang Tidak Akan Pernah Diceritakan

Semua orang punya cerita. Tentang kehidupan mereka, tentang perjuangan mereka, tentang kehidupan mereka, tentang orang yang mereka sayang. Semua orang pasti punya cerita yang terkadang tersebar atau mungkin hanya mereka simpan sampai hilang tertiup hembusan waktu.

Kali ini saya akan menceritakan sebuah cerita tentang saya dan dia, seseorang yang sangat saya sayang. Saya hanya menceritakan hal ini disini, setelah ini maka cerita ini tidak akan pernah saya ceritakan lagi. Bagi saya dan mungkin juga bagi dia, cerita ini sebaiknya tidak diketahui oleh siapapun, tapi saya tuliskan disini agar bisa saya baca lagi nanti. Sekedar untuk mengenang seseorang yang pernah saya perjuangkan nanti. Sebagai memori untuk saya agar tidak pernah saya lupakan.

Jadi awalnya kami tidak pernah mengenal satu sama lain. Saya tahu dia dalam sebuah acara, tapi dia mungkin benar-benar lupa tentang saya pada saat itu. Terdengar lucu tapi memang seperti itu kejadiannya.

Bertahun-tahun kami cuma sekedar bertemu secara kebetulan. Kebetulan yang saya maksud adalah saat dia menjalin hubungan dengan teman baik saya dan dia mungkin diajak untuk ikut bergabung. Saya tidak pernah menyapa dia dan dia juga begitu. Hal itu berlangsung selama bertahun-tahun. Bayangkan saja, bertahun-tahun kami mendapat kesempatan bisa berbincang-bincang tapi hal itu tidak pernah terjadi.


Beberapa bulan yang lalu, setelah dia memutuskan hubungannya dengan teman baik saya kami akhirnya bisa dekat. Semua dimulai dari sebuah percakapan saat dia mengajak saya untuk berkumpul bersama-sama teman-teman yang lain. Rencana untuk berkumpul memang tidak terlaksana tapi sejak saat itu saya sering berhubungan lewat pesan singkat dengan dia. Saya masih ingat saat itu kami sedang liburan idul fitri. Saya dan dia berada di kampung halaman masing-masing. Saat itu semua cerita tentang kami berdua dimulai.

Saat masa liburan habis, saya dan dia berangkat bersama menuju perantauan. Lucu ya padahal kami baru beberapa dekat tapi sudah bisa sedekat itu. Sepanjang perjalanan saya hanya menjaga dia karena memang dia tidak tahan dalam perjalanan jauh kalau naik kendaraan roda empat.

Sejak saat itu kami semakin sering bersama. Makan bersama, menikmati kopi bersama, menikmati pancake dan es krim bersama, berjalan mengunjungi tempat-tempat wisata bersama. Bagi saya saat itu adalah salah satu momen-momen terbaik dalam hidup saya.

Momen yang paling saya ingat adalah saat saya mengatakan pada dia saya mau serabi. Besok harinya dia menemui saya dan memberi serabi yang dia buat sendiri. Bagi saya itu adalah salah satu momen terindah dalam hidup saya. Rasa serabi buatan dia enak, sepanjang menikmati serabi tersebut saya hanya tersenyum berharap saya bisa merasakan kebahagiaan seperti itu setiap hatinya.

Setiap kali saya ingin menemui dia, saya membawakan hal yang sama untuk dia. Sop buah atau jus alpukat, hal itu berlangsung berkali-kali setiap saya ingin menemui dia. Setiap pagi dia selalu mengirim pesan untuk membangunkan saya, setiap malam dia menghubungi saya saat dia sudah tidak ada yang dikerjakan.

Terkadang kami juga pergi makan ke tempat makan kesukaan dia, walau tempatnya lumayan jauh dan berangkatnya pada malam hari tapi bagi saya itu bukan sebuah masalah besar. Apalagi yang lebih penting selain ibadah, orang tua, dan waktu bersama orang yang kita sayang ?

Walau tanpa kata, lagu, puisi, atau sejenisnya tapi yang jelas saya dan mungkin juga dia tahu bahwa secara tidak langsung kami sudah menjalin hubungan yang sebaiknya cukup kami berdua yang mengetahuinya. Selama beberapa bulan semuanya berjalan seperti itu. Kami sedang berada dalam hubungan yang tidak pernah terungkapkan lewat kata.


Suatu saat dia pergi untuk berlibur selama kurang lebih 1 bulan. Itu berarti kami harus menjalani hubungan jarak jauh. Selama 1 bulan tersebut, setiap hari, tidak ada hal lain selain ungkapan rindu yang hanya bisa disampaikan lewat rangkaian kata yang tak ada habisnya.

Ketika liburan dia sudah usai, keinginan saya untuk bertemu dengan dia sudah sangat menumpuk. Sayangnya karena kesibukan dia mengurus banyak hal membuat hal itu belum bisa terwujud. Saya hanya bisa terus bersabar, menikmati pedihnya rindu ditengah kesibukan saya.

Saat inilah sebuah petaka terjadi.

Pada malam hari saat itu, saya sedang bersantai di sebuah cafe. Dia mengirim pesan kepada saya bahwa mantan dia sebelumnya datang menemui dia dan mengajaknya kembali seperti dulu lagi sembari mengajak dia untuk makan. Entah kenapa saat itu saya dengan bodohnya merasa marah. Seharusnya saya percaya saja bahwa dia pasti masih bisa menjaga batasan dalam berteman.

Masalah itu memang bisa diselesaikan, saya sudah meminta maaf karena tidak mempercayai dia. Namun entah kenapa sejak saat itu rasanya hubungan kami semakin merenggang. Berkali-kali saya mengajak bertemu tapi dia selalu menolak. Saya pun hanya berusaha positif bahwa mungkin dia sedang sibuk. Saat dia tidak lagi membangunkan saya di pagi hari atau menghubungi saya saat malam hari, saat itu saya merasa bahwa memang ada yang berubah.

Suatu hari saya nekat menemui dia sekalian saya ingin menyerahkan hadiah untuk dia. Walaupun pada akhirnya bisa bertemu meskipun cuma sebentar tapi saat itu saya tahu bahwa memang hubungan kami berada di ujung tanduk tapi mungkin masih bisa diselamatkan.

Setelah itu berkali-kali saya mengajak bertemu. Makan, ngopi, makan pancake, hal-hal yang biasa kami lakukan sebelumnya tapi dia selalu menolak.

“Susah banget dihubungin”

“Hahaha ga juga ah”

“Oh gapapa. Kalo masih ada kesibukan yasudah selesaikan aja dulu”

Lalu kemudian saya mengajak dia bertemu berkali-kali tapi tidak pernah dia pedulikan. Selama sekitar seminggu dia tidak pernah memberi respon, akhirnya saya merasa bahwa hubungan saya dan dia sudah tidak bisa diselamatkan.

Halo. Maaf mengganggu jam segini. Aku cuma mau bilang entah kenapa rasanya kamu sudah tidak mau aku ganggu lagi. Kalau memang seperti itu, aku bisa menghormati keputusan kamu.
Terimakasih selama ini sudah mau menemani aku kemana-mana. Mengajak aku kemana-mana. Aku tidak tahu apa salahku sehingga kamu mendadak jadi seperti ini. Aku tidak sempurna jadi mohon maklumi saja karena aku juga manusia.
Asal kamu tahu sampai detik ini aku masih sayang sama kamu, tapi aku juga ga bisa memaksa kamu tetap bersama aku.
Semoga kamu nanti mendapat kebahagiaan yang kamu cari yang tidak pernah bisa aku berikan.
Terimakasih atas apa yang sudah kita lewati :)

Itu adalah pesan terakhir yang saya kirim. Entah dia baca atau tidak, tapi yang jelas saya merasa cukup sampai disini saya mengganggu dia. Walau saya masih ingin bertahan tapi kalau terus-menerus seperti itu maka saya hanya mengganggu dia lebih lama lagi.

Saya memilih mundur. Bukan berarti saya berhenti berjuang untuk dia, saya hanya tidak mau hidupnya terus-menerus saya ganggu dan saya terus menyiksa diri sendiri.

Entah bagaimana dia setelah membaca pesan yang saya kirim, tapi bagi saya kebahagiaan dia adalah yang utama. Bagian terburuk dari hubungan yang tidak diketahui banyak orang adalah saat hubungan itu berakhir maka hanya yang menjalani hubungan tersebut yang menikmati akhirnya.

Biarlah saya memperbaiki hati untuk kembali menemukan kebahagiaan saya sendiri lalu setelahnya membagi lagi kebahagiaan saya ke orang baru yang saya rasa tepat.


Jatuh cinta bukan tentang mencari kebahagiaan setelah keterpurukan, tetapi saling membahagiakan dalam kondisi apapun.
Kazzo
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.