Masa Kecil…

Aku ingin sedikit bercerita mengenai masa kecilku. Sebenarnya gak ada yang istimewa dari masa kecilku, sama seperti anak-anak lain yang selalu bahagia menjalani masa kecil mereka (most of them i guess). Meskipun orangtuaku asli orang jogja, tapi aku dilahirkan di bandung. Karena saat aku lahir, orangtuaku tinggal di bandung. Ayahku kerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), yang sekarang sudah berubah nama menjadi PTDI (PT. Dirgantara Indonesia). Mamaku sendiri menjalani profesi yang tidak kalah beratnya, Ibu Rumah Tangga, dengan 2 anak, satunya kakak perempuanku, dan yang terakhir…aku.


Pertama kali bersekolah, aku didaftarkan oleh mamaku di TK Andria, sebuah TK kecil di komplek perumahanku, Bumi Citeureup Permai, Cimahi, Bandung. Aku terkenal sebagai anak yang agak ‘hiperaktif’. Hampir gak pernah bisa diam, dan mama sering dibuat kewalahan karena tingkahku (well, im sorry mam). Kalau sudah bermain dengan teman-temanku di sekitar komplek perumahan, seringkali aku bermain petak umpet dengan mama ketika jam tidur siang tiba. Mama selalu berteriak keliling komplek menjadi tarzan sambil memanggil namaku. (Bagaaaaas !…. Bagaaaass!!).

Mama selalu menerapkan aturan untuk tidur siang, dan aku selalu mencoba mencari cara untuk menghindarinya!. tapi seperti kebanyakan cerita televisi, si penjahat selalu tertangkap, maka digiringlah aku menuju rumah, tidak menggunakan borgol, tapi cukup dengan jepitan telunjuk dan ibu jari mama di telingaku….aku dijewer, karena secara sepihak membatalkan perjanjian, melanggar kesepakatan kami bahwa aku harus pulang sebelum jam 2 siang. (sebenarnya bukan kesepakatan kami, karena aku gak pernah benar-benar punya kesempatan untuk bernegosiasi).

Saat tiba di rumah, mama akan menyuruhku untuk mencuci kaki, dan tidur siang. Mama selalu menemaniku tidur siang. sebenarnya tidak tepat juga kalau dibilang menemani, lebih tepatnya seperti sipir penjara yang mengawasi narapidana agar tidak kabur (hahaha). Seringkali dia terlelap duluan, dan itulah kesempatanku untuk….Kabur!. Diam diam aku beranjak dan berjingkat turun dari tempat tidur, hampir tanpa suara, keluar kamar, kemudian menuju pintu depan rumah, memutar kunci rumah dengan sangaaaat perlahan agar suara ‘klik’ yang ditimbulkan saat pengunci-nya terbuka tidak sampai mengganggu mimpi indah mamaku tercinta, dan aku sukses melarikan diri, mendapatkan waktuku lagi untuk berkumpul bersama teman-temanku, paling tidak sekitar satu hingga dua jam, sampai mama bangun, mendapatkan aku sudah tidak ada dikasur, dan mencariku, lalu aku digiring kembali dengan jeweran yang lebih menyakitkan…..hiks.

Mungkin karena pelarianku sudah terjadi berulang kali dengan modus operandi yang sama, akhirnya setiap kali menemaniku tidur, pintu rumah selalu dikunci, dan kuncinya ditaruh dibawah bantalnya. Aku hampir frustasi oleh langkah preventif yang cerdas dari mama. 2 jam waktu tidur cuma kugunakan untuk berpikir, bagaimana caranya aku bisa kabur?! apakah berakhir sudah masa-masa indah pelarianku?

Dasarnya aku memang gak pernah bisa diam kecuali sedang terlelap, aku masih ingat sekali saat itu aku cuma guling-guling gelisah, sesekali melihat mamaku yang sudah terlebih dahulu terlelap, melirik ke bagian bawah bantalnya, ahh..andai kunci rumah itu bisa keluar dari bawah bantal itu, kemudian membalikkan arah badanku, melihat keluar jendela, dan dari posisi tubuhku yang sedang rebah itu, aku hanya bisa melihat genteng rumah tetangga…dan AHAA ! tercetuslah sebuah ide brilian.

Jadi tempat tinggalku dulu adalah sebuah komplek perumahan, dengan susunan rumah yang bisa dikatakan mirip, setiap blok terdiri dari 10 kavling, saling berbaris memanjang, dengan posisi rapat. bagian atas rumah - rumah itu adalah genteng, dan dibagian belakang genteng, ada sepetak ruang yang dibeton, tanpa atap, berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, dan dihubungkan dengan tangga menuju kedalam rumah. Nahh inilah jalan kebebasanku yang baru.

Keesokan harinya aku mulai menjalankan rencana itu. Seperti biasanya, setelah mama tertidur lelap, aku mulai mengendap-endap keluar kamar, hanya saja kali ini tujuanku bukan ke pintu depan, tapi ke belakang, menaiki tangga, membuka penutupnya…dan sampailah aku dibagian atas rumah, tempat menjemur pakaian. Bau udara kebebasan sudah mulai tercium, tapi perjuangan belum usai. Aku merayap menyusuri genteng rumahku, menuju genteng tetangga sebelah rumahku, begitu terus melewati rumah demi rumah. Panasnya genteng rumah yang terasa membakar telapak tangan dan kakiku saat itu kuanggap sebagai harga yang harus kutebus untuk kebebasanku, hingga akhirnya aku tiba di rumah paling ujung blok, dan memang sejak awal rumah kawanku ini yang kuincar, karena merupakan satu-satunya rumah yang posisi tangga-nya berada dibagian luar rumah, bukan dibagian dalam seperti rumah-rumah lain. Aku menyusuri tangga itu, berjalan melalui teras rumahnya, dan akhirnya aku bebas lagi… berlari menuju teman-temanku lagi. Apa yang terjadi jika mamaku menemukan anaknya hilang? dengan posisi pintu rumah masih terkunci? dan kuncinya masih berada dibawah bantalnya? hahaha, tenaaang, ketika saat itu tiba, aku sudah menyiapkan jawaban super perfect.

Aku gak pernah mengira, aksi kabur dengan menyusuri genteng tetangga yang kulakukan ini jadi cerita yang kelak selalu dibahas sampai aku dewasa, terutama saat acara kumpul keluarga. Setelah berhasil menemukanku sore itu mama marah besar, sampai dirumah, aku dicecar habis-habisan. Masih ingat sekali suasana saat itu habis maghrib, papa baru saja pulang kantor, kakak-ku juga ada disana, semua berkumpul di ruang tamu, mirip sebuah persidangan mini, dengan mama sebagai jaksa penuntut merangkap hakim. Papa dan kakak-ku sebagai juri, dan aku sebagai tersangka yang tidak memiliki hak untuk didampingi pengacara.

Berat sekali ketika mama memintaku menjelaskan bagaimana aku bisa kabur dengan pintu rumah tetap terkunci. Mungkin yang paling kutakutkan adalah, kalau sampai aksi terakhirku ketahuan, aku tidak akan pernah punya cara lagi untuk kabur. Akhirnya aku bilang sama mama bahwa aku membuka pintu rumah pakai lidi. Iya pakai lidi, jawaban itu terinspirasi dari film MacGyver, salah satu film favoritku waktu kecil, di film itu sering sekali aku melihat Macgyver membuka pintu menggunakan 2 batang besi tipis yang saat itu kukira lidi. Perfect answer! pikirku.

Tau apa yang terjadi kemudian? mama pergi ke belakang, memotong beberapa buah lidi dari sapu yang ada di dapur, memberikan-nya padaku, kemudian mengunci pintu rumah, dan mencabut kuncinya. Aku disuruh mendemonstrasikan bagaimana aku membuka pintu rumah dengan lidi itu ! Dengan konyolnya aku memasukan lidi itu ke lubang kunci, dengan tampang serius memutar-mutar lidi, entahlah mama menyadari atau tidak keringat dingin yang menetes dari dahiku, karena rasa takut dan khawatir. Yang pasti mama tidak mengatakan apapun, hanya menyilangkan tangan didepan dada, melihat-ku bermain dengan lidi dan lubang kunci !. Akhirnya setelah hampir 15 menit aku gagal membuka pintu, aku menyerah dan menjawab “Tadi bisa koq maah, sekarang koq susah ya”. Mama tetap tidak percaya (Ya eyaaa laaaah!!). Karena sudah kehabisan cara untuk membuatku mengatakan yang sebenarnya, mama mengeluarkan jurus pamungkas, yang selalu berhasil membuatku menangis dan memohon ampun.

Mama mulai mengambil sebuah tas, dan mulai memasukkan baju-bajuku kedalamnya. Ya itulah jurus pamungkas mama, mau mengirimkan aku ke panti asuhan! si bagas kecil saat itu mulai ketakutan, menangis sambil memeluk mama dan mencoba menahan tangan-nya yang masih terus memindahkan baju dan celanaku ke dalam tas. Aku terus memohon ampun, dan akhirnya menceritakan yang sebenarnya. Mama benar-benar terkejut, aku melihat ada rasa khawatir yang sangat besar dimatanya. Aku dipeluk, dan sambil menangis mama memintaku agar berjanji untuk tidak mengulangi-nya lagi, mama menjelaskan resiko yang mungkin terjadi, apabila aku tergelincir dari genteng, atau ada bagian genteng yang rapuh dan pecah saat aku menginjak-nya. Terasa lama sekali mama memelukku sambil menangis, kami berdua menangis. (miss you so much mam…)


Kabur dari tidur siang cuma salah satu dari tingkah masa kecil-ku yang aneh. Pernah suatu ketika, mama sedang bersiap-siap untuk memasak. Aku bahkan belum menginjak TK pada saat itu, sehingga kegiatan sehari-hariku ya bersama mama di rumah. kakak-ku sudah berangkat ke sekolah, papa juga sudah meluncur ke kantor. Mama baru saja membeli gori (*sayur nangka muda) di tukang sayur yang selalu keliling komplek tiap pagi. selesai berbelanja, seperti biasanya mama langsung bersiap untuk masak, membersihkan getah yang menempel pada nangka tersebut, mencuci-nya, kemudian mengiris-nya, lalu dipisahkan pada sebuah baskom. Setelah itu, mama beranjak untuk meracik bumbu dan memanaskan air diatas kompor.

Aku yang sejak pagi menonton tv, menghampiri mama ke dapur, melihat mama sedang serius mengulek bumbu, dibelakang-nya kulihat sebaskom penuh nangka muda yang sudah siap untuk dimasukkan kedalam air yang sedang dipanaskan dipanci di atas kompor. Baskom berisi nangka tersebut tampak dihinggapi beberapa ekor lalat, entah setan apa yang tega membisikkan sesuatu pada anak yang bahkan belum menginjak TK, aku tiba-tiba memiliki inisiatif untuk mengambil sebuah benda berbentuk pompa tabung yang bagian ujung-nya terdapat semacam wadah untuk menampung cairan….Obat Nyamuk Semprot.

Bagaikan seorang anak cerdas nan pintar serta penuh inisiatif, aku memompa tabung obat nyamuk tersebut, menyemprotkan ke arah baskom berisi nangka muda yang siap dimasak… “sroot…srooott…sroott….”

Mama membalikkan badan mendengar suara itu, dan melongo menyaksikan seorang anak kecil, anaknya sendiri, sedang menyemprot nangka muda dengan baygon, lalu si anak menatap mata ibunya dan tersenyum bangga “tadi ada yayeh-nya mah…” (laler, -lalat).

Malam hari-nya, Kami sekeluarga menikmati makan malam, dengan menu hanya tempe goreng, sambal dan nasi panas, tidak ada sayur sama sekali. Mama terpaksa membuang semua nangka muda dan bumbu yang sudah diracik, karena ulahku. Tapi aku tidak dimarahi, setelah mendengar cerita mama, papa bahkan menggendongku dan memanggilku ‘Anak pintar’ baru kemudian memberikan pengertian, bahwa lalat yang sedang menempel pada makanan, sebaiknya diusir tanpa menggunakan obat nyamuk, agar makanan-nya tidak berasa seperti obat nyamuk. hmm…make sense… pikirku saat itu.


Kalau diingat, sepertinya gak akan pernah habis aku bercerita tentang kenakalan-kenakalan masa kecilku. Waktu TK aku memiliki seorang teman yang selalu baik padaku, dia sering membagikan beberapa bekal makan-nya padaku, dia selalu bermain denganku saat jam istirahat, saling membantu menyusun balok-balok berwarna ketika ibu guru meminta kita bermain dengan beberapa mainan edukatif. Tapi seperti kebanyakan sekolah, selalu ada juga yang berperan sebagai ‘anak brengsek’, selalu bikin onar, mengganggu anak-anak lain hingga menangis. Hal itu pula yang dialami oleh temanku. Entah mengapa dia sering sekali jadi korban bullying si anak brengsek ini. sepertinya tidak pernah ada hari yang terlewatkan tanpa mengganggu anak lain, manjambak rambut anak-anak cewek, melempar sepatu temanku ke genteng sekolah, memutar alat permainan ‘mangkok putar’ dengan kecepatan tinggi, sampai ada beberapa anak berteriak dan muntah karenanya.

Aku tidak luput juga dari gangguan si anak brengsek ini, sayangnya ukuran tubuhku jauh lebih kecil dari si anak brengsek. beberapa kali aku terjatuh karena didorong olehnya, ketika mencoba bersikap sok pahlawan dengan melindungi teman baikku. Tau kan rasanya geram tapi tanpa daya? Kemarahanku sudah sampai batas toleransi, aku gak tahan melihat temanku selalu jadi korban kenakalan-nya. di tengah jam sekolah TK yang belum usai, aku melarikan diri, pulang kerumah. Jarak rumah dengan sekolahku hanya sekitar 5 menit berjalan kaki. Sampai rumah aku mengambil sebuah golok. Iya golok beneran! aku masih ingat, golok itu ukurannya tidak terlalu besar, dengan gagang yang sudah dimodifikasi, diganti dengan karet stang motor. Aku mengambil golok itu dari gudang, lalu berlari keluar rumah, kembali ke arah sekolah untuk memberi pelajaran pada si anak brengsek, tanpa menyadari mama ternyata sempat melihatku keluar dengan golok ditangan, dan mengikutiku dari belakang. Mungkin firasat-nya sudah merasakan sesuatu yang gak beres, mengingat anak-nya yang satu ini selalu melakukan hal-hal yang berada diluar batas wajar.

Sampai TK, aku langsung memburu-nya dengan golok ditanganku, mengacung ke udara. Aku bersumpah saat itu mendengar guruku berteriak histeris, sementara si anak brengsek ini ketakutan dan berlari sambil menangis, dan aku terus mengejarnya, hingga tiba-tiba ada sebuah tangan mencengkram pergelangan tanganku yang sedang mengacung ke atas dengan golok dalam genggaman. Ternyata tangan mamaku, yang langsung menghentikan lariku. diambilnya golokku, dan dibawa aku digiring kembali kerumah. aku disuruh menunggu di rumah, sementara mamaku kembali ke sekolahan. Entah negosiasi macam apa yang dilakukan mamaku dengan ibu guru, yang pasti, setelah aku diomeli habis-habisan oleh mama sekembalinya ke rumah, keesokan harinya aku sudah diperbolehkan kembali bersekolah.

Guess what? si anak brengsek ini gak pernah berani lagi mengganggu aku dan temanku. Hahaha, ternyata shock therapy itu memang kadang diperlukan dalam situasi tertentu. Hidup ini keras jenderal!


Masih banyak sekali hal yang gak mungkin aku tuliskan disini, tentang semua kenakalan masa kecilku. Aku sangat bersyukur, aku mengalami masa kecil yang begitu banyak warna, begitu banyak peran mama dalam mengimbangi tingkahku, nasehat-nasehatnya, cara-nya mendidikku, terkadang saat ini aku berpikir, kesabaran macam apa yang dimiliki mama, memiliki anak yang bahkan tidak bisa memenangkan tantangan dari om-ku, yaitu tantangan : ‘duduk diam 5 menit, dapat 5 ribu’. Pada waktu itu uang 5 ribu rupiah sangat besar nilainya! dan aku gagal di menit pertama!

Tak jemu-jemu nya mama mencari cara untuk meredam-ku, memberikan banyak buku untuk menemani kebosananku, bermain denganku…

miss you so much mom….

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.