September Weekend


11th

Masih kurasakan hangat nafasku didalam selimut merah yang menutupi seluruh badan hingga kepalaku di pagi yang dingin ini. beberapa kali aku menggeram karena rasa sakit di gerahamku yang sering kambuh beberapa hari belakangan ini. Hampir setiap musim dengan suhu seperti ini, selalu membuat gigiku bermasalah. Sudah 2 tahun ini aku perhatikan, gigiku selalu bermasalah ketika siang hari panas terasa sangat menyengat, namun dipagi harinya sangat dingin, hingga rasanya kulit seperti mengencang ketika tersapu udara pagi. Tidak tahan, kutenggak 50mg diclofenac potassium untuk meredakan nyeri yang sudah menelan habis kesabaranku. Sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu menunda meminum obat, hingga memang benar benar diperlukan (atau sakit tak tertahankan), ngeri rasanya membayangkan bahan bahan kimia itu dihancurkan dilambungku, lalu efek kimiawi-nya dikirimkan keseluruh tubuh melalui darah… well, aku tidak tau juga sih bagaimana cara kerjanya…. toh itu cuma imajinasiku saja, hehehe.

Hampir setengah jam setelah menenggak obat, aku masih menggeram-geram didalam selimut, membolak balik badan, menekuk kaki, memijat pipi, hingga menjambak rambut sudah kulakukan, gak ada satupun yang berhasil mengurangi nyeri-nya, hingga akhirnya pil sialan itu mulai beraksi, perlahan sakitnya mereda kemudian hilang. Terkadang ada rasa penyesalan juga, kenapa tidak kuminum saja obat itu daritadi?? Yeahh, toh lain waktu juga selalu terjadi lagi. kecewa karena kebodohan dan keras kepala kita sendiri, haha.

Akhirnya kusingkap selimut itu, duduk, mengerjap ngerjapkan mata membiasakan cahaya lampu mess yang memang masih menyala. Kuambil smartphoneku. 7.30, kemudian kembali kecewa karena seharusnya dihari libur ini aku bisa bangun menjelang tengah hari tanpa harus berkutat dengan sakit gigi.

Seperti biasa, rutinitas liburku di tempat antah berantah ini adalah mencuci. kuambil ember oranye berisi setumpuk pakaian kotorku menuju tempat cuci baju dibagian belakang mess. ada 2 mesin cuci disana. kulihat salah satunya sedang menganggur. Syukurlah. Untuk bisa menggunakan mesin cuci disini perlu ketelitian melihat jadwal. mesin cuci disini hanya ada 2 unit, dengan jumlah pemakai mencapai puluhan orang di satu camp. Yap, boleh dibilang, mesin cuci disini bekerja jauh lebih keras dibanding para penggunanya…hahaha. Di hari minggu pagi adalah saat yang tepat untuk mencuci, karena para pekerja dari negeri tiongkok yang berada satu camp denganku, tetap bekerja seperti biasa. jadi biasanya jam jam segini adalah waktu yang tepat untuk si mesin cuci beristirahat (hingga kedatanganku) hahahaha *senyumJahat.

Kunyalakan sebatang rokok, sambil menikmati suara mesin cuci, aku sulit membedakan apakah itu suara mesin cuci atau suara tangisan mesin cuci?menderu-deru sambil memutar baju-bajuku. Kutatap mesin cuci itu dengan tatapan kasihan, tapi dalam sekejap saja perhatianku teralihkan, tepat diseberang area cuci, ada kandang kambing lengkap dengan beberapa ekor kambing milik pekerja tiongkok yang ‘menyambi’. mengasah kemampuan beternak mereka sembari menggeluti pekerjaan dibidang pertambangan. Aneh? well, dont ask me.

Melihat kambing-kambing itu langsung membuatku menyunggingkan sedikit senyum, teringat kelakuan masa kecilku yang sempat kuceritakan ke ganci. baru saja cerita kemarin, pikirku. Kuambil smartphoneku dari kantong celana, dan menjepret beberapa gambar kambing untuk kukirimkan ke buah hatiku, yang belum lama ini meneleponku, dan dengan antusias-nya meminta ijinku agar boleh memelihara kambing. Tujuannya mulia, merawatnya hingga dewasa, lalu dijual. Si kecil mencoba meyakinkanku dengan memberikan bukti bahwa salah satu tetangga kami, Pak Sis, juga melakukan hal yang sama. hihihi…

ahh…. koq capek ya nulisnya… udah dulu deh…

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.