Catatan Diskusi “Future Industrial Engineers Towards Disruptive Era”

Ditulis oleh Dimas Anandras (TI’15) dan Andika Bayu Prasetya (TI’15). Disunting oleh Reynaldi Satrio Nugroho (TI’14) dan Muhammad Umar Fathurrohman (TI’15)

Poster Diskusi “Future Industrial Engineers Towards Disruptive Era”
Catatan diskusi yang dipublikasikan ini merupakan yang tercatat dan sudah disetujui oleh pihak bersangkutan. Pihak Departemen Pengembangan Wawasan Keilmuan MTI ITB memohon maaf apabila ada kesalahan konten dalam catatan ini.

Pengantar

“Future IE Towards Disruptive Era” adalah diskusi panel yang diadakan oleh Zaldy Ilham Masita, Calon Ketua IA ITB TI 2017–2021, dalam rangka silaturahim alumni TI ITB pada hari Selasa (11/07/2017). Diskusi panel ini terdiri dari dua sesi pemaparan dengan sesi tanya jawab di setiap akhir sesi pemaparan.

Sesi pemaparan pertama yang bertopik “Disrupting Conventionality with Industrial Engineering Expertise” diisi oleh Agung Wicaksono (TI’95) selaku Director of Operations and Maintenance MRT Jakarta dan Zaldy Ilham Masita (TI’90) selaku Ketua Asosiasi Logistik Indonesia. Agung membahas keberjalanan pembangunan MRT Jakarta yang sifatnya disruptive dan Zaldy membahas logistik yang sekarang dimasuki oleh pemain disruptive pula.

Sedangkan sesi pemaparan kedua yang bertopik “Industrial Engineering Impact for Emerging Startup” diisi oleh Dwi Larso (TI’84) selaku Dosen SBM ITB, Jaka Wiradisuria (TI’03) selaku Head of User Experience & Product Design ‎PT Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA), dan Dayu Dara (TI’08) selaku Vice President PT GO-JEK Indonesia, Co-Founder & Co-Head of GO-LIFE. Dwi Larso membahas mengenai keadaan entrepreneurship di Indonesia dengan pengalamannya sebagai dosen, sedangkan Jaka dan Dayu banyak bercerita mengenai pengalaman mereka sebelum dan sesudah memasuki dunia startup.

Pada sesi tanya jawab, terdapat pembahasan mengenai dunia startup dan peran ikatan alumni TI ITB dalam menyinkronkan apa yang diajarkan di kuliah dengan apa yang sedang dibutuhkan di dunia kerja.

Sesi Pemaparan Pertama: “Disrupting Conventionality with Industrial Engineering Expertise”

Zaldy Ilham Masita bercerita bahwa pernah ada investor asing yang menawarkan jasa bike sharing. Namun menurut Zaldy, hal tersebut tidak feasible dikarenakan budaya transportasi di Indonesia masih point-to-point sedangkan ide tersebut lebih cocok diterapkan kepada masyarakat yang sudah terbiasa dengan budaya transportasi terminal-to-terminal. Oleh karena itu Zaldy menganggap proyek MRT ini sebagai sesuatu yang disruptive.

Setelah itu Calon Ketua IA TI ITB 2017–2021 ini bercerita mengenai logistik Indonesia. Menurutnya, sistem logistik Indonesia biasanya memiliki input dan output yang jelas. Misalnya saja dalam logistik cabai, input jelas berupa luas tanah, berapa kali panen setahun, jumlah pekerja dan output juga jelas berupa konsumsi cabai per daerah. Namun proses di dalamnya seringkali tidak clear di Indonesia. Padahal terdapat dua faktor yang membuat biaya logistik tinggi, yaitu volume dan ketidakpastian (hal ini berkaitan dengan hukum inventory). Konsekuensinya faktor ketidakpastian di Indonesia tinggi (rentang ketidakpastian waktu yang panjang) menyebabkan biaya logistik melambung. Sebagai contoh, biaya logistik Jakarta-Papua dengan Jakarta-San Fransisco berbeda jauh.

Zaldy berpendapat untuk menjawab tantangan ini secara makro perlu ada roadmap jangka panjang yang jelas seperti investasi MRT setahun kedepan. Selain itu teknologi informasi menjadi penting karena infrastruktur di Indonesia bersifat fragile serta memiliki ketidakpastian tinggi, sehingga pemain logistik perlu memiliki informasi yang cepat terkait perubahan volume barang dikirim, keterlambatan pengiriman, dan lain-lain.

ALI (Asosiasi Logistik Indonesia) yang diketuai oleh Zaldy ini juga mencoba menjawab tantangan logistik di Indonesia dengan cara meningkatkan kualitas SDM logistik di Indonesia, karena infrastruktur logistik di luar kendali pemain logistik sedangkan SDM bisa ditingkatkan melalui training. Menurut Zaldy, asosiasi profesi lebih seperti ALI fleksibel dalam bergerak karena biasanya tidak ada conflict of interest apabila dibandingkan dengan asosiasi perusahaan. Inilah yang memungkinkan ALI mendukung Go-Box yang juga memiliki visi menurunkan biaya logistik di Indonesia, pada saat perusahaan lain banyak yang memprotesnya.

Sesi Tanya Jawab Pertama

“Bagaimana relevansi TI ITB di industri sekarang serta apa peran alumni dalam mengatasi ketimpangan antara kuliah dan lapangan?” — Jaka Wiradisuria.

Salah satu alumni TI ITB yang hadir dalam diskusi berpendapat ilmu bisa dilihat dari 2 sisi yaitu relevance dan robust/rigor. Ilmu yang relevan dengan masalah sehari-hari belum tentu memiliki body of knowledge yang rigor seperti yang diajarkan di kelas kuliah. Hal ini menyebabkan belajar di kelas kuliah saja untuk menjadi relevan tidak dimungkinkan. Solusinya adalah memberikan kuliah yang diisi oleh praktisi bisnis sehingga pembelajaran tidak hanya dari aspek teoritis tetapi juga dari aspek penerapannya. Mengingat hal ini, alumni menjadi added value di luar kegiatan kampus.

Tomo juga berpendapat bahwa di masa depan perguruan tinggi mungkin saja tidak ada lagi pembagian berdasarkan school of thought, melainkan berdasarkan permasalahan sehari-hari yang harus dihadapi dengan berbagai macam keilmuan. Sistem baru ini bisa mengatasi situasi dosen-dosen saat ini yang memang diajarkan untuk menjadi spesialis sehingga terkadang kurang relevan ketika menghadapi masalah di lapangan.

Sedangkan menurut Zaldy Ilham Masita, seorang TI harus bisa melakukan continuous improvement di era industri saat ini di manapun Ia berada. Zaldy juga menambahkan bahwa alumni TI sebetulnya menarik mengingat tempat berkumpul lulusan jurusan lain cukup jelas misalnya PU diisi lulusan teknik sipil, Toyota diisi lulusan teknik mesin, tetapi lulusan TI tersebar di seluruh sektor industri. Oleh karena itu bisa disimpulkan diversity adalah kekuatan TI.

Mengingat potensi ini, alumni TI sangat perlu turun ke kuliah karena bisa menutup ketimpangan pengetahuan bisa dengan memperbanyak dosen tamu. Alumni TI sebagai yang sudah ‘cepat’ seharusnya bisa membantu supaya bisa bersinergi dengan yang masih ‘lambat’ sampai akhirnya bisa ‘berlari’ sama kencangnya.

Sesi Pemaparan Kedua: “Industrial Engineering Impact for Emerging Startup”

Menurut Jaka Wiradisuria, dalam merancang jasa atau produk untuk konsumen kita tidak hanya harus mengerti cashflow dan people management, tetapi kita juga harus memperhatikan sisi user experience (UX). UX terdiri dari tiga komponen yaitu bisnis, user dan design. Tanpa memperhatikan aspek user, orang tidak akan nyaman menggunakan produk atau jasa kita, berbanding terbalik dengan perilaku orang yang kita inginkan. Apabila seseorang mencoba produk atau jasa kita dan merasa nyaman, mereka akan menyebarkannya melalui mulut ke mulut. Sesuai budaya orang Indonesia, mereka pasti akan menceritakan pengalaman tersebut ke keluarga ataupun teman terdekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai user sangat penting supaya produk atau jasa kita bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Setelah itu Jaka lebih banyak bercerita mengenai pengalaman selama berkecimpung di dunia startup dan kepala UX Ruma. Menurutnya walaupun secara umum dunia startup dikuasai oleh jurusan-jurusan seperti computer science dan informatika, seorang TI bisa melihat angle yang tepat untuk dimasuki. Contoh pengalaman Jaka adalah dengan posisi dia sebagai Kepala UX di RUMA, ilmu-ilmu terkait ergonomi khususnya terkait kognitif banyak digunakan.

Dayu Dara kemudian memaparkan bahwa alumni berperan dalam mengekspos lulusan muda dengan dunia kerja. Contohnya adalah saat dia belajar cara interview di McKinsey dengan alumni TI ITB. Setelah itu VP GO-JEK ini bercerita mengenai pengalaman karirnya. Sebelum masuk ke Mckinsey, Dayu sempat bekerja di XL Axiata dan Ia terpikir untuk bekerja di consulting firm sampai magang di empat perusahaan consulting. Sebagai seorang generalist, Dayu merasa cocok menjadi consultant karena tugasnya untuk solving client problem dari berbagai industri. Dalam waktu 3,5 tahun banyak sekali hal yang dipelajari dari pengalman menangani bermacam client.

“As a consultant you learn twice as much because you work twice.” — Dayu Dara.

Sebagai dosen entrepreneur di SBM ITB, Dwi Larso menjelaskan tentang konsep-konsep umum dari entrepreneur dan menghubungkannya dengan pembicara lain (Dayu Dara dan Jaka). Menurutnya, pulau kewirausahaan seharusnya dimulai oleh anak SBM dan TI dan disebarkan ke jurusan lain yang ada di ITB supaya masalah di negeri ini bisa diselesaikan dengan cepat.

“Enterpreneurship is about creating value. It’s not about the numbers or the spotlight, but it’s about the purpose.”

Dwi Larso sebagai pendidik entrepreneurship dalam diskusinya juga menekankan mengedepankan perlunya menciptakan banyak startup demi kemakmuran bangsa. Kemakmuran suatu komunitas itu tergantung dari jumlah startup yang diciptakan per jumlah penduduk dalam satuan waktu tertentu. Menciptakan entrepreneur baru, pelaku startups, sangat tepat diarahkan pada mahasiswa perguruan tinggi maupun alumninya. Namun, menciptakan entrepreneur berbasis perguruan tinggi tidak cukup hanya berbekal kurikulum. Kurikulum ini harus dijalankan dengan sistem pembelajaran yang cocok dan didukung oleh ekosistem yang 'nurturing’. Dua tantangan utama di sini adalah adanya pendidik yang berkarakter entrepreneurial (entrepreneurial educators) dan tersedianya cukup mentor yang adalah para entrepreneur. Jejaring alumni bisa mendukung usaha ini.

Sesi Tanya Jawab Kedua

“Apa alasan kalian pindah pekerjaan dari pekerjaan dengan income dan fasilitas yang lebih baik ke startup yang berisiko lebih tinggi?” — Zaldy Ilham Masita.

Dayu mengatakan bahwa setelah bekerja dua tahun di Mckinsey, Dayu mendapatkan tawaran dari Nadiem Makarim pada tahun 2015 dengan keadaan GO-JEK baru memiliki 20 pegawai. Pada awalnya Dayu tidak pernah terpikirkan bergabung dengan usaha rintisan, tetapi akhirnya tawaran tersebut diterima karena Dayu merasa sangat suka dengan mimpi besar yang dibawa Nadiem waktu itu untuk Indonesia. Dayu berkata bahwa di zaman sekarang, memiliki smartphone adalah salah satu akses ke banyak hal sehingga dengan aplikasi GO-JEK ini banyak driver yang sebelumnya tidak menggunakan smartphone akhirnya memiliki smartphone sendiri dan belajar banyak hal seperti finansial pribadi. Dayu percaya melalui konsep sharing & crowdsourcing economy yang diusung oleh GO-JEK, ratusan ribu bahkan jutaan pekerjaan dapat tercipta melalui platform online ini. Hal inilah yang akhirnya memantapkan keputusannya untuk bergabung dengan GO-JEK.

Jaka kemudian bercerita mengenai pengalamannya berpindah dari P&G ke dunia startup. Setelah dua tahun bekerja di P&G, Jaka bertanya ke dirinya sendiri apakah kehidupan korporat seperti itu yang mau Ia jalankan selama 10–20 tahun ke depan. Alumni TI 2003 ini berpikiran demikian karena sebelumnya dia memiliki teman yang sedang mengikuti training yang mengadaptasi buku “7 Habit of Highly Effective People” oleh Stephen Covey. Salah satu dari tujuh kebiasaan tersebut adalah “Begin with the End in Mind”. Dari situ Ia merasa gelisah karena kehidupan di dunia korporat (P&G) ternyata tidak sesuai dengan panggilan jiwanya. Kebetulan beberapa teman dekatnya sudah memulai berwirausaha dan media saat itu memberikan pandangan bahwa anak muda berjiwa entrepreneur memiliki prestige tinggi. Walaupun kenyataannya tech startup juga butuh perjuangan ekstra serta orang tuanya menginginkan stabilitas, Jaka memantapkan keputusannya untuk resign dari korporat dan memulai startup baru bernama PT. Valadoo Indonesia.

“Bagaimana cara bridging the gap setelah menyadari kuliah di TI yang kurang bisa menjawab tantangan lapangan saat ini?” — Reynaldi Satrio Nugroho.

Dwi Larso mengatakan bahwa dosen sudah bertanya mengenai perspektif dari pemain bisnis khususnya startup, tetapi masalahnya ekosistem lebih cepat berubah dibanding perguruan tinggi negeri. Oleh karena itu Dwi Larso menyarankan dosen tamu.

Menurut Jaka, TI adalah jurusan yang multi-exposure dan multi-discipline. Hal yang membuat Jaka berubah perspektif terhadap korporat adalah entrepreneurship is all about creating value for community.

Jaka juga mengatakan bahwa dalam proses perkuliahan, pemahaman konsep dan teori perlu diimbangi dengan perkembangan industri dan masyarakat. Kehadiran alumni sebagai dosen tamu dan/atau perwakilan komunitas menjadi salah satu solusi yang dianggap penting untuk menjaga relevansi keilmuan para mahasiswa.

Dayu Dara memberikan tanggapan bahwa pertanyaan tersebut sangat kritis karena mata kuliah TI banyak yang sudah outdated di dunia startup. Contohnya Statistika Industri dan Data Mining karena sekarang sudah ada Big Data. Contoh lainnya adalah Classic Project Management. Di startup banyak interdependensi aktivitas dan pembuatan rencana pasti hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu yang sangat pendek.

Dayu menambahkan bahwa terdapat 3 hal yang bisa dilakukan untuk menutup gap antara kuliah dan lapangan. Pertama adalah internship sesuai bidang yang ingin dipelajari karena kita tidak bisa hanya mendengarkan kuliah tamu atau semacamnya tanpa terjun langsung. Berikutnya coaching dan mentoring. You need to choose your mentor karena Dayu sendiri memilih mentornya sendiri untuk tiap hal. Contohnya Dayu sendiri punya mentor yang berbeda khusus untuk Work-Life Balance. Ketiga adalah informal education. Menurut Dayu, kurikulum paling update-pun pasti memiliki gap. Seminar, workshop dan study trip ke company bisa dijadikan sumber insight.