Kenapa anak lelaki tak dekat dengan ayahnya?

Judul diatas tidak mengeneralisasi semua anak laki-laki tak dekat dengan ayahnya. Ini hanya sepenglihatan saya dalam memandang sosok ayah. Juga sosok ayah di lingkungan kelompok primer saya, sahabat-sahabat saya.

Di hidup saya, saya lebih dekat dengan sosok ibu. Kami lebih sering bertukar pikiran. Ibu adalah sesosok orang yang cukup asik diajak ngobrol. Walaupun kadang kelewat menggurui, ia tak pernah kelewat temperamental.

Nah, jika berbicara tentang ayah. Saya setidaknya harus mengernyitkan dahi. Saya tak terlalu akrab dengannya. Kami jarang mengobrol. Seperlunya saja berbicara, itu juga jika dianggap penting. Seperempat abad saya hidup, saya hanya ingat 3 kenangan dari sosok ayah; sewaktu main gundu saat taman kanak-kanak, saat diajarkan naik sepeda, serta disabet pakai ikat pinggang saat bolos sekolah dulu. Tak ada lagi kejadian memorable yang saya ingat selain tiga kejadian diatas.

Perkara perang dingin dengan ayah sendiri sebenarnya hanya karena ia pernah memarahi saya di depan umum, di depan tetangga. Penyebabnya adalah buat baret mobil keluarga. Masalah mengungkapkan kemarahan, kadang ayah memang tak kenal tempat & waktu. Semenjak kejadian itu, hubungan kami tak pernah sama lagi.

Sempat saya kira hanya saya yang tak akur dengan ayah, ternyata sahabat karib saya pun demikian. Kasusnya adalah dari ayah yang menikah lagi, ayah yang main tangan hingga ayah yang lebih perhatian terhadap anaknya yang lain. Kesamaan kami adalah kami tipe orang yang mencari kebahagiaan diluar rumah. Menghindari gaduhnya kejadian di rumah.

Tulisan ini harusnya masih berbentuk draft, belum layak untuk di share. Saya harus pergi, kerjaan memanggil.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.