Resign

Sepuluh hari yang lalu saya memutuskan mengundurkan diri dari tempat saya bekerja. Jenuh ditambah bosan akan di mutasi terus-menerus layaknya PNS membuat saya gerah. Saya sering berpikir bahwa saya saja yang mungkin manja. Tak biasa dengan beban kerja yang berat. Tapi tim yang satu divisi dengan saya pun sering curhat colongan bahwa beban kerja yang makin hari makin tak rasional.

Keinginan mengundurkan diri diperparah dengan hubungan saya dengan atasan saya yang tak ubahnya seperti generasi milenial yang sedang bermusuhan. Kami tak saling tegur-menegur walaupun kadang jarak kami berdua tak lebih dari sejengkal. Pada akhirnya saya tahu ternyata bukan hanya saya yang bermasalah dengan atasan, rekan kerja sejawat lainnya pun juga begitu. Tak saling bertegur sapa dengan atasan. Mereka bertahan karena mereka butuh, bukan betah. Juga karena mereka punya anak istri yang harus dihidupi. Dapur harus selalu ngebul.

Perkara resign ini ternyata susah-susah gampang. Ia ternyata lebih susah dari pada memutuskan hubungan asmara, setidaknya menurut saya. Saya googling alasan yang tepat untuk resign. Melanjutkan pendidikan adalah alasan yang tepat. Bos mana yang tega menolak surat pengunduran diri anak buahnya jika ternyata alasan resign si anak buah demi mengenyam bangku pendidikan lagi.

Lamunan demi lamunan telah saya lalui agar pengunduran diri saya elegan dan tetap di cap sebagai anak baik-baik. Tekad saya kuat, saya berencana mengundurkan diri setelah libur hari raya Idul Fitri.

Setelah mengumpulkan keberanian dan rasa percaya diri, saya menyerahkan surat pengunduran diri kepada atasan saya. Ia hanya tersenyum simpul, tak merasa kehilangan anak buah. Sepemahaman saya, saya memang begundal, tapi kinerja saya tidak jelek-jelek amat. Masih diatas rata-rata padahal. Matanya seakan berbicara, “bagus deh lo resign, berkurang satu anak buah bandel gue.” Ingin rasanya saya lempar petasan gangsing ke atasan saya saat itu juga, tapi tentunya tidak saya lakukan. Saya hanya menghela nafas, mencoba sedikit lebih sabar. Toh ini hari terakhir juga kan. Tak perlu lah saya bikin ulah aneh-aneh.

Yang berat dari pengunduran diri saya ini adalah saya belum mendapat tempat kerja baru. Sudah terbayang di benak saya akan menjadi kaum proletar yang kadang membeli rokok kretek saja susahnya setengah mati karena keterbatasan materi. Juga dianggap remeh karena di umur yang produktif ini saya hanya berdiam diri di rumah. Perkara kesusahan ini saya tepis dengan sebuah kalimat motivasi Jawa yang berbunyi “rezeki sudah ada yang ngatur”.

Hal memberatkan lain dari mengundurkan diri ini adalah berpisah dengan rekan kerja. Tak semua orang memandang perpisahan sebagai suatu hal yang enteng. Saya tak pernah siap dengan perpisahan.

Sebelum pamit, saya meminta maaf kepada rekan kerja saya. Saya bersalaman dengan rekan kerja sambil mengucapkan terima kasih atas enam bulan yang penuh dengan keceriaan. Enam bulan yang mengajarkan saya akan kerja keras dan kesabaran menghadapi orang lain serta atasan. Enam bulan yang walaupun jauh dari rumah tapi membahagiakan.

Sebelum saya benar-benar pergi, saya menengok tempat kerja saya terlebih dahulu. Dalam lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan terima kasih. Doakan semoga saya bisa cepat dapat kerja lagi serta berjumpa lagi dengan mereka yang sempat jadi rekan kerja saya dulu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated F Muzaky’s story.