Perkara Vakansi

Saya punya teman lawan jenis lumayan akrab, ia bernama Rara. Jauh-jauh hari kami berencana pergi salah satu provinsi di Sumatera sana. Tiket pesawat, penginapan, penyewaan kendaraan serta tujuan tempat wisata telah kami buat dengan mempertimbangkan asas budget yang sungguh sangat pas-pasan untuk perjalanan selama 5 hari tersebut. Kami lebih miskin dari seorang gelandangan di Afrika sana.

Layaknya anak kecil yang akan diajak vakansi oleh orang tua, saya tentu tak bisa tidur. Kata orang Jakarta, kelewat excited. Padahal jadwal terbang pesawat kami pagi buta. Maklum, maskapai pesawat murah-meriah. Dosen saya semasa kuliah dulu pernah bilang, jika ingin mengenal lebih jauh karakter seseorang, ajaklah ia bepergian. Disana kamu akan kenal karakternya dalam mengarungi kesusahan dan ribetnya perjalanan. Dan hingga hari ini, saya percaya ucapan dosen saya.

Awal perjalanan kami lalui dengan hingar-bingar keceriaan serta canda tawa, semua masih menyenangkan layaknya 11 tahun saya mengenal Rara. Pun dengan hari kedua.

Menginjak hari ketiga, cekcok dan saling sindir mulai sering terjadi. Diiringi makin sedikitnya intensitas berbicara kami satu sama lain. Hal-hal sepele diselesaikan dengan debat-debat kecil disertai tidak bertegur sapanya kami sepanjang hari layaknya prajurit Inggris dengan tentara Argentina di perang Malvinas dulu.

Hari keempat suasana sama, dingin seperti ruang karaoke yang dipasang ac dengan suhu 16°C. Tak berubah banyak. Hari terakhir justru yang paling mengenaskan, sesaat sebelum membeli cindera mata, dompetnya jatuh, saya berniat ambilkan, ia justru menolak dengan halus. Ia bisa ambil sendiri, katanya. Patah hati terhebat, mengalahkan patah hatinya Keenan Pearce ketika mengetahui Raisa ternyata tunangan bukan dengan dirinya, Hamish Daud menjadi pria beruntung tersebut.

Entah karena saya lelaki yang suka menggampangkan banyak hal, Rara mungkin sebal. Orientasi vakansi kami ternyata bagaikan bumi dengan langit. Rara serba teratur dan rapi, saya selalu spontan dan mendadak. Sok tahu adalah nama tengah saya. Saya malu menulis kisah ini sebenarnya. Hanya gara-gara vakansi kok hubungan pertemanan bisa retak macam asbes Posyandu di tempat saya tinggal.

Perkara kehilangan teman, saya sudah mengalami beberapa kali. Diperburuk dengan saya yang tidak bisa menimbulkan impresi awal yang baik ketika bertemu orang baru. Jadilah teman saya ya itu-itu saja. Bertambah cuma sedikit, berkurang justru banyak. Kali ini mungkin nominal angka mengenai kehilangan teman akan bertambah lagi. Mengikhlaskan kepergian sesosok orang yang bisa membuatmu ceria tak semudah bikin nasi goreng dengan bumbu instan. Ia selalu sulit, butuh waktu. Kadang lama dan ribet.

Yang saya tidak pernah suka dari kehilangan teman adalah ketika esok, lusa atau tahun depan bertemu lagi dan kami berjumpa dalam keadaan canggung. Kaku! Tak ubahnya seperti abg-abg generasi milenial bertemu gebetannya di pelataran parkiran kampus.

Kembali lagi ke hari terakhir vakansi. Rara ternyata mengalami kelelahan, ia ingin muntah ketika pesawat landing di Jakarta. Bodohnya saya yang tak menyadari itu. Awkward situation semakin menjadi-jadi. Kami lalu makan seadanya lalu pulang naik Damri. Di damri kami berpisah tempat duduk, ia duduk di baris ke 5, saya duduk di baris paling belakang. Saya tahu diri. Memaksakan satu baris bangku dengan Rara seperti mengulangi kebodohan di Belitung. Lagi pula saya tahu bahwa ia ingin istirahat. Kepala Rara menyembul dibalik tingginya bangku damri. Saya memandangi rambut Rara dari tempat saya duduk, pikiran saya kosong. Takut kehilangan.

Tiba di terminal, Rara segera pamit karena ia dijemput ayahnya. Saya memandangi rambut dan punggungnya. Saya tak pernah semelankolis ini hanya karena memandangi punggung dan rambut orang lain. Dan ternyata itu punggung dan rambut Rara terakhir yang saya lihat. Ia tak pernah muncul lagi, sekedar ngobrol via line atau mengajak makan KFC pun tidak. Ia pergi. Setidaknya sampai hari ini.

Nb: Tulisan ini sekedar buat curhat… Manusia selalu punya celah untuk curhat colongan

Show your support

Clapping shows how much you appreciated F Muzaky’s story.