Gas Lokal Mampu Menyaingi Gas dari Luar Negeri, Menuju Indonesia Mandiri Energi

Keppel Offshore and Marine, perusahaan asal Singapura, menawarkan pasokan LNG kepada pemerintah Indonesia. Tawaran tersebut telah disampaikan langsung kepada Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan dan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. LNG tersebut rencananya dialokasikan untuk bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik tenaga gas di beberapa wilayah Indonesia. Terkait hal ini, Arcandra pada Rabu (30/8/2017) malam, menyatakan bahwa LNG impor harus bersaing dengan gas pipa dan LNG dari dalam negeri, pasalnya LNG dalam negeri memiliki harga jual total yang lebih murah. LNG dari Tangguh di Papua yang dikirim ke Arun di Aceh, harga totalnya masih di bawah US$ 6/MMBTU; sementara untuk LNG Singapura, biaya transportasi dan regasifikasinya sudah mencapai US$ 3-4/MMBTU. Meskipun demikian, pemerintah tetap harus mempertimbangkan berbagai hal terkait impor gas ini agar dampak negatif tidak terjadi. Salah satu legal yang menjadi pertimbangan pemerintah adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 45 Tahun 2017 (Permen ESDM 45/2017) tentang Pemanfaatan Gas Bumi untuk Pembangkit Listrik; dimana impor gas baru dibolehkan apabila tidak ada pasokan gas dari dalam negeri yang harganya di bawah 14,5% Indonesian Crude Price (ICP) atau setara dengan US$ 7.25/MMBTU

Sumber: https://m.detik.com/finance/energi/d-3622952/lebih-murah-gas-lokal-atau-impor-dari-singapura-ini-kata-arcandra

-----------------------------------------------------
[OPINI]

Berita di atas menginformasikan pada kita bahwa ternyata Indonesia juga memiliki sektor keenergian yang dapat dieksploitasi dan diproduksi secara mandiri, dan penggunaannya juga dialokasikan untuk bahan bakar perusahaan negara. Hal ini jelas menjadi keuntungan bagi Indonesia pasalnya sumber daya alam yang dimiliki terbukti dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh bangsa untuk kepentingan bangsa itu sendiri. Selain itu, Indonesia mampu memproduksi bahan bakar yang cukup krusial bagi negara; dengan kualitas yang baik dan harga yang ekonomis, bahkan lebih ekonomis daripada LNG yang diproduksi Singapura. Hal ini mengindikasikan bahwa salah satu komoditi energi Indonesia telah memenuhi standar kualitas internasional, dengan harga ekonomis yang mampu bersaing di pasar internasional. Semoga hal ini tidak hanya terjadi pada LNG, tetapi juga pada komoditi energi Indonesia yang lainnya; agar Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri energi.

(Alysia Chaterine 12216036)
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.