Aku (Ternyata) Belum terpelajar

Murid-Murid Sekolah Rakapare 4

Semesta mendukung itulah inti tulisan ini, secara kebetulan menemukan propaganda dari komune rakapare di sosial media yang membuat hati ini tertarik mengikuti sebuah program “Sekolah Rakapare 4”. Dengan pengetahuan yang kosong tentang Rakapare dan bermodalkan nekat akhirnya terpenuhilah semua persyaratan dalam pendaftaran.

Sebuah surat elektronik tiba di gadget, tulisannya berisi bahwa aku diterima di Sekolah rakapare dan bagian yang mengejutkan adalah waktu pelaksanaan sangat mepet dengan waktu pengumuman dan juga yang tempat pelaksanaannya terbentang jauh, Bandung!.

“Berjuang tidak sebercanda itu” selesai sudah masalah transportasi dan perbekalan selama seminggu, sempat mendapat sentimen-sentimen aneh kala nyangkruk tentang Rakapare dari teman yang mengetahui lebih dulu namun hal itu tidak menyurutkan kehendak untuk mencari ilmu disana bahkan ujian di kampus pun aku tinggalkan.

Hari pertama, langsung bertemu dengan orang tua angkat, Pak Dadan dan Bu Ai bersama dengan sembilan orang lainnya tidur bersama, makan bersama, bercerita dan berdiskusi bersama. Dan pagi di hari kedua kami ikut membantu bapak dan ibu ke ladang untuk bertani. Melakukan aktifitas dengan keluarga Pak dadan membuatku lebih peka terhadap masalah sekitar yang ada.

Pelajaran pertama yang didapat adalah tentang kebenaran, menurut Kang Andi Bhatara pemateri sekaligus Founder dari Komune Rakapare mengatakan bahwa didunia tidak ada namanya benar atau salah yang ada hanya Kebeneran atau kebetulan yang mayor, Termasuk membahas tentang agama yang isinya kita lahir tidak bisa memilih agama kita, agama merupakan pembatas bagi diri kita misal kita membaca Al-Quran mungkin kita tidak membaca Alkitab karena batas batasan tuturnya. Namun inti dari materi ini adalah kita harus memaknai segala sesuatu temasuk agama kita dan jangan sampai agama kita hanya sebagai turunan dari orang tua saja kita juga harus memaknai kemurnian agama itu sendiri. Proses untuk mencapai kesejatian itu adalah tahap pertama tahu apa yang diajarkan, tahap kedua mengerti apa yang diajarkan, ketiga tahap memahami yang diajarkan dan memahamkan yang lain, tahap keempat membuktikan ajarannya, tahap kelima membaktikan ajarannya dan tahap terakhir adalah kesejatian itu sendiri terhadap ajarannya.

Pelajaran kedua dilaksanakan setelah tracking menyusuri bukit yang licin, di tempat terbuka kang tarjo dari Senartogok memberi sindiran kepada kami, kami adalah sapi dan di dunia ini adalah sebuah pabrik susu, minimal jadilah sapi yang pintar menurut kang tarjo.

Malam hari kami diberi siraman rohani oleh kan bhat, bagaimana cara bermeditasi yang baik dan kami menyatu dengan alam seperti tanpa batas berdiskusi tentang spiritualitas yang sebelum kumengerti.

Pelajaran ketiga berhubungan dengan sejarah pergerakan bangsa Indonesia yang dimulai dari Budi utomo sebenernya aku tidak setuju dengan itu karena Budi Utomo menjadi produk dari koran Belanda waktu itu dan juga anggotanya hanya terdiri dari suku jawa, namun SI atau serikat islam lah yang memulai pergerakan karena anggotanya dari berbagai suku juga berasimilasi dari orang Cina dan Arab pada waktu itu yang digagas oleh Tirto Adi Suryo bapak Pers dan juga pendiri koran dari pribumi untuk pribumi pertama di Indonesia berdasarkan Catatan Pramoedya Ananta Toer. Yang dapat dimaknai dari sejarah pergerakan itu yang bisa dibilang berhasil menghasilkan revolusi adalah waktu zaman kemerdekaan dan zaman pergerakan 98, mereka berhasil dikarenakan dapat menghimpun semua masyarakat tidak hanya mahasiswa saja, seperti petani dan buruh pun ikut beraksi pada waktu itu tapi paradigma itu menyebabkan mahasiswa menjadi besar kepala hingga akhirnya sudah tidak mau turun langsung ke masyarakat.

Pelajaran keempat yaitu mencari ideologi yang nantinya digabungkan dengan politik, strategi dan taktik untuk mencapai tujuan yang kita inginkan maknanya adalah kita tidak harus fanatik dengan ideologi karena pada dasarnya ideologi memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Pelajaran kelima dari narasumber ibu Ningsih seorang tokoh yang dulu tergabung dalam Serikat Buruh dan mendirikan Sekolah hijau untuk anak petani yang tujuan dari sekolah itu pada awaklnya untuk mengurangi kecurangan dari pengepul hasil panen. Beliau juga menceritakan kegigihan dalam hidup bagaimana menghadapi hidup dengan tegar walau divonis kanker dan ibunya hilang.

Pelajaran terakhir yaitu tentang teknik propaganda, bagaimana cara kita memberi makna kita untuk diterima orang lain

Hari terakhir adalah hari dimana kita diwisuda oleh orang tua angkat kita, dengan proses upacara sederhana, dihari itu kita dinyatakan lulus dari sekolah rakapare untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia inilah sebuah awal dari proses menuju kebenaran yang sejati.

Kini waktunya telah tiba, Kesempatan untuk menyelesaikan apa yang Munir perbuat,

Kesempatan untuk mempunyai pengetahuan seperti Tan Malaka,

Kesempatan untuk bertarung hingga mati seperti apa yang Pattimura lakukan,

Kesempatan untuk mengajarkan apa yang Kartini percayai,

Kesempatan untuk memimpin sebagaimana Soekarno memimpin,

Kesempatan untuk merasakan apa yang dituliskan Pramoedya.