Gelisah, Perlukah?

Wait. Sebelum mbleber kemana-mana ada baiknya kita dengerin sejenak Joan Baez dengan Donna Donna-nya. Dan kalau jeli, kita bisa temuin part yang cukup menohok hati (dan barangkali pikiran), begini bunyinya..
“Stop complaining”, said the farmer
Who told you a calf to be
Why don’t you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free.
Udah? Denger juga, kan?
Yagitu. Masuk tahun 2018, saya pribadi lelah nan muak dengerin orang mengeluh. Apalagi kalo masalahnya tergolong yang itu-itu aja. Gimanapun juga sebagai pengeluh temporal, saya punya prinsip, kalopun ngeluh harus sambil bawa opsi solusi — misalnya mandek/buntu, yaa, berarti masuk goa. Semedi. Tanggung jawab ke diri sendiri dulu, baru melibatkan orang lain. Fair enough, rite?
Sama halnya ketika memilih seni pertunjukan sebagai bidang yang ingin ditekuni. Aselik, BUANYAK banget hal yang bisa dan patut dikeluhin. Tapi, apa iya energi kita yang masih warbyasak ini mau kita bikin ludes buat mengolok-ngolok lembaga yang nolak proposal kita? atau dikuras habis buat balesin komen-komen netizen yang asbun cuma demi membela karya-karya kita? Oh, please. Sorry but that isn’t my strong suit.
Baca, tulis, tanya. Gitu aja, kok, repot? ya aselik repot banget, sih. Makanya banyak diantara kita yang berujung ambil gampangnya dengan ga ngapa-ngapain. Seolah-olah tidak menemukan pokok pengertian antara keluhan, pertanyaan, pencarian, dan upaya menemukan solusi. Pura-pura menerima dan mendengarkan masalahnya sendiri sambil mempersiapkan suasana mengeluh yang tepat (versi mereka) datang kembali.
Semoga kita ga tergolong di dalam kaum jenis itu, ya. Karena sungguh, pertemuan SDC ’18 kemarin, misalnya, sukses membuat siapa saja yang terlibat didalamnya cenat-cenut jiwa dan raga. Gimana engga? maksud hati datang jauh-jauh ke Kota Kembang dengan maksud temu kangen, update kehidupan — yang meski berjalan tak sesuai rencana tapi setidaknya kami semua masih memilih untuk bertahan — atau bersiap membagikan cerita/prestasi yang kami hasilkan selama beberapa tahun bergelut di dunia kesenian. Alih-alih kami disanjung-sanjung, eh, malahan kami banyak ditegur dan diingatkan dengan berbagai kritik dan pertanyaan, yang alhamdulillahnya, membangun.
Ini. Saya bagi sedikit catatan yang saya tulis ketika sesi lecture & discussion berlangsung, ya.


Tambahan catatan dari How Ngean, dramaturg and researcher.
My basic question to every artist here is, what do you want to say to people that it is so important? What do you REALLY fight for?
In my opinion, in the 21st century the STRUGGLE is STILL to fight capitalism, popular culture, and consumerism. And LIVE INTERACTION should and could be one of the alternative to oppose it.
Nah, kan. Pusing, ga? Saya sendiri sampe perlu makan 2–3 gorengan dalam setiap sesi. Demi menetralisir isi kepala dengan perut yang kekenyangan dan kesenengan. Tapi kalau mau waras sedikit, semua ‘cobaan’ yang tertulis di atas, baik yang diberikan oleh Ibu Amna Kusumo, Uni Hartati, Lim How Ngean, dan Mba Renee, adalah supaya kami semua yang memilih bergerak di jalur yang kelewat sepi ini mampu ‘bertahan hidup’ lebih lama dan pantang mundur sekalipun garis batas kemiskinan nampak gemar melambai-lambai dari kejauhan. Haha.
Ya, seperti pernikahan, aja. Gimana bisa memutuskan untuk bersama sehidup semati, didepan banyak orang sekaligus dan legal di atas kertas pula, jikalau tidak sama-sama punya dasar dan alasan, atau yah hasrat, yang kuat? Sehingga nantinya mau ombak, badai, bahkan el nino menyerang pun mestinya biduk rumah tangga itu bisa terus terjalin sebagaimana yang diutarakan oleh dua individu itu semenjak awal. Njir.. kek udah pernah nikah aja, gueh. Tapi ya kira-kira begitu.
Saya sendiri punya kegelisahan yang terus-menerus datang menghampiri ketika memilih hidup menekuni bidang ini, apalagi seusai membaca penelitian James R. Bradon, profesor seni pertunjukan Asia dan Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa 3/4 seni jenis seni pertunjukan di Asia Tenggara justru berada di Indonesia. Gelisahnya lebih ke arah, kok, ya modal kultural kita udah melimpah ruah begini tapi belum juga bisa dibarengi dengan modal ekonomi yang baik dan terstruktur? Atau kenyataan bahwa bangsa kita dihuni oleh sekitar 660 suku bangsa yang mendiami 6.850 pulau dari 13.700 pulau yang masuk dalam wilayah Republik Indonesia. Berarti setidaknya tercatat ada 660 ragam kebudayaan (bahkan lebih) dan 660 lebih jenis kesenian; belum terhitung 660 hukum adat yang lahir dan hadir sebagai representasi dari kebijaksanaan (wisdom) lokal masing-masing daerah*. Pertanyaannya: Sejumlah ‘kekayaan’ dan ‘harta karun kebudayaan’ yang kita miliki ini hendak diapakan? Adakah kebijakan politik kebudayaan (cultural policy) atau strategi kebudayaan untuk menanganinya sebelum terlembat? Sebelum satu per satu mati atau punah tak berbekas? Siapa yang wajb bertanggung jawab? Pemerintah?Masyarakat? Keduanya? atau Seniman dan budayawannya saja? Ya, ok, seni tradisi haruslah dipelihara dalam kerangka preservasi yang mana prinsipnya dapat dipertahankan dalam arti memperluas lingkaran apresiatornya serta memungkinkannya menjadi sumber inspirasi, tetapi apa itu berarti “memuseumkan” seni adalah jalan satu-satunya? Bagaimana dengan ungkapan seni lainnya? and the list could go on forever..
Memutuskan hidup dari dan untuk berkesenian memang perlu komitmen tingkat tinggi. Gelisah dengan alasan atau gelisah karena tidak gelisah itu pilihan. Selama kita masing-masing punya cara sendiri untuk menjaga api kecil dalam hati kita untuk bermanfaat bagi orang banyak terus menyala, yea, sure.. go for it. Dengan terus memelihara ‘kegelisahan’ diri sendiri sambil juga merawat dan mencocokkan hal tsb dengan hasrat koletif, niscaya segala macam cobaan dan pertanyaan yang datang menghantui bakal kita sambut, amati, lalu bilang, “I know you won’t be here long.. but thanks, thanks for stopping by”.
*diambil dari tulisan N. Rintiarno berjudul “Industri Budaya atawa Industri Kreatif dengan Sejumlah Pertanyaan”.
