Aditya Bayu Pratama
PATRA14020
Departemen Pengembangan Karya HMTM “PATRA” ITB 2017/2018
Suban Field — Suban — Reservoir gas dengan sumber daya dan tantangan yang besar.
Pembicara :
· Mr. Martin
· Mr. Hani Mohede
Pendahuluan
Sumber daya gas yang ada di Indonesia masih banyak yang dapat di eksploitasi dan di manfaatkan. Salah satunya adalah Lapangan gas Suban di Sumatera Selatan yang merupakan lapangan gas raksasa dengan cadangan gas yang banyak. Lapangan tersebut sekarang dikelola oleh ConocoPhillips. Lapangan gas Suban selain memiliki sumber daya yang besar juga disertai tantangan yang besar pula. Dalam kuliah tamu pertama pada Jumat lalu (26/08/17) telah dibahas mengenai potensi dan tantangan yang ada di lapangan ini.
Informasi Umum Lapangan

Gambar 1. PSC Corridod Block Operation Area
(Sumber: http://lifting.migas.esdm.go.id/lifting/informasi/profilkkks/MDA5/)
Lapangan Suban terletak di Sumatera Selatan dan merupakan sebuah lapangan gas. Jenis gas yang ada di lapangan tersebut adalah tipe retrograde gas. Lapangan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1998 dan hingga sekarang masih terus dikembangkan oleh ConocoPhillips. Informasi lainnya mengenai lapangan ini yaitu :
· Formasi
Batu Raja (Tertiary Limestone Formation)
Talang Akar (Tertiary Sandstone Formation)
Basement
· Tekanan reservoir : 4380 Psia
· Suhu : 280–360 oF
· Tekanan Dew Point : 3800 Psia
· Produksi Harian : 800 MMSCF/D
· Recovery Factor : 32%
Dari data diatas terlihat bahwa lapangan ini beroperasi pada suhu dan tekanan yang tinggi, namun dapat dilihat pula produksi harian gas yang sangat besar menjadikan lapangan ini seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, memiliki potensi sekaligus tantangan yang besar.
Permasalahan Lapangan
Seperti yang terlihat diatas, lapangan ini bekerja pada suhu dan tekanan yang tinggi sehingga membutuhkan peralatan yang canggih dan kompleks agar dapat terus berproduksi dengan laju optimum yang diinginkan. Namun, ada permasalahan khusus yang dialami oleh para engineer yang bekerja disana.
Pada tahun 2016, hasil pengolahan data menghasilkan sesuatu yang mengejutkan. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa grafik P/Z versus produksi kumulatif yang di plot dari data reservoir tidak membuat sebuah garis lurus seperti pada umumnya melainkan menunjukkan adanya deviasi. Deviasi ini membuat kita bertanya-tanya apa yang terjadi di reservoir. Ternyata ditemukan permasalahan dari reservoir tersebut adalah reservoir tersebut tidak dapat dilihat sebagai sebuah kesatuan melainkan harus dibagi-bagi menjadi blok-blok kecil yang dikarenakan adanya rekahan dan patahan yang menyebabkan adanya perbedaan tekanan differensial di masing-masing zona. Permasalahan tersebut ternyata dihadapi dengan memodelkan ulang reservoir menggunakan multitank reservoir model.

Gambar 2. Grafik Umum P/Z vs Produksi Kumulatif
Dari permasalahan diatas muncul kesimpulan bahwa semakin tua reservoir tersebut, geografi dari lapangan tersebut akan semakin kompleks dan membuat pemodelan harus dilakukan terus –menerus secara berkala.
Pengembangan Lapangan di Masa Depan
Sejarah pengembangan lapangan ini dapat dibagi menjadi tahap awal, tahap menengah, dan pengembangan di masa depan. Secara garis besar, pengembangan awal dan terdahulu meliputi bebagai tes tekanan dalam kondisi transien, interference test, log produksi, dll.
Sementara untuk pengembangan dimasa depaan akan berfokus pada Survey gradien statis maupun dinamis, PVT analysis, modelling, dan multiple rate FGS (fine Graularity Scalability).
Lapangan Suban ini pun memiliki tantangan dalam masalah pemodelan. Selain karena pemodelan harus dilakukan secara berkala untuk menentukan langkah pengembangan selanjutnya, pemodelan harus dilakukan menggunakan dua tahap, yaitu :
· Matrix Modelling yang hanya akan diaplikasikan ke formasi Talang Akar dan Batu Raja.
· Fracture Modelling yang akan diaplikasikan ke seluruh formasi termasuk Basement.
memanipulasi dan mengoperasikan peralatan bawah sumur.
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dilakukan diatas, dapat ditarik kesimpulan mengenai potensi dan tantangan yang akan dihadapi dalam pengembangan Lapangan Suban ini, diantaranya :
1· Potensi akan cadangan yang besar
Pada data umum lapangan, terlihat bahwa lapangan suban ini memiliki produksi yang sangat besar mencapai 800 MMSCF/D disertai dengan recovery factor yang cukup tinggi. Hal ini membuat lapangan ini tetap ekonomis meskipun memiliki berbagai tantangan yang disebabkan kondisi geografi yang kompleks.
2· Pemodelan secara berkala
Dengan semakin seringnya gas di eksplotasi, hal tersebut akan membuat perubahan pada kondisi geografi dibawah tanah. Semakin tua lapangan tersebut akan membuat geografi semakin kompleks, makin banyak daerah yang memiliki perbedaan tekanan differensial yang membuat pemodelan harus dilakukan secara berkala agar terus menyesuaikan dengan keadaan.
3· Identifikasi rekahan dan patahan
Identifikasi akan patahan dan rekahan, baik itu rekahan natural maupun buatan akan sangat membantu dalam pemodelan karena patahan dan rekahan tersebut yang akan membuat geografi reservoir berubah dan mungkin akan membuat zona tekanan baru di resercoir.
4· Berbagai opsi pengembangan harus dipertimbangkan
Dengan kompleksnya kondisi geografi bawah tanah, opsi-opsi pengembangan haruslah dibuat untuk mencakup berbagai kasus yang mungkin terjadi. Kesalahan dalam perencanaan akan membuat lapangan ini menjadi kurang ekonomis dalam pengembangannya.
Referensi
Catatan Kuliah Tamu Tim Proinovan HMTM “PATRA”
http://lifting.migas.esdm.go.id/lifting/informasi/profilkkks/MDA5
