Di Persimpangan

Wanitaku
Duduk dan terisak
Dibius waktu
Dicengkram jaman.

Ia menari
Tapi bukan untuk mata yang memandang
Ia menyanyi
Tapi bukan untuk telinga yang mendengar

Wanitaku tersenyum
Terdiam di sudut-sudut waktu
Dihimpit aneka pertanyaan
Dan dia hanya bisa tersenyum
Karena hanya itu yang bisa ia buat

Wanitaku
Berjalan dengan kaki penuh luka
Di jalan berlubang
Menjemput mentari pagi

Makassar, 26-10-2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.