Temanmu yang berhijrah.

Siapa bilang hijrah itu hanya sekali?

Ya... dulu saya pikir begitu. Hijrah, perlu dilakukan sekali seumur hidup saja. Saat itu saya melihat hanya ada satu titik hijrah di depan mata saya, titik hari saya memutuskan memakai kerudung.

Ternyata saya salah.

Setelah titik hijrah pertama, muncul banyak sekali titik-titik hijrah lainnya.

Hijrah, dengan tantangan yang terlihat sama besarnya, bahkan sering kali terasa jauh lebih besar.

Titik besar pertama saya: menutup aurat. (setiap orang pasti punya cerita yang berbeda-beda)

Hijrah dari masih membuka aurat menuju menutup aurat pun, masih panjang perjalanannya. Dalam prosesnya, masih banyak lagi titik-titik hijrah lainnya. Banyak sekali.

Dari hanya “yang penting menutup rambut, leher, pakai baju lengan panjang, celana panjang”,

kemudian “oke, tutupi pinggul”

kemudian “oke, pastikan baju dan celananya tidak ketat”

kemudian “oke, tutupi dada”

kemudian “oke, pakai kaos kaki--sadar kaki jg adalah aurat”

kemudian “oke, pastikan lengan tangannya tertutup sampai pangkal telapak tangan, jangan lengan yang 7/8 apalagi 3/4"

kemudian “oke, kerudung panjang terlihat lebih nyaman”

kemudian “oke, pakai gamis, pastikan lekuk tubuh ga terlihat”

dan seterusnya….menyempurnakan pelaksanaan perintah Allah, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Titik-titik hijrah itupun bercabang.

Bukan hanya soal bagaimana menyempurnakan menutup aurat. Tapi juga hijrah kebiasaan-kebiasaan, yang ternyata tidak sesuai dengan aturan Allah, menjadi apa yang disukai-Nya. Mengenal sunnah-sunnah Rasulullah. Termasuk, bagaimana kita mengisi waktu luang, dan banyak dosa lainnya yang sudah dianggap hal lumrah di masyarakat kita, di zaman ini. Nah, banyak banget hal kan tuh di dalamnya. (Apa saja itu, semoga bisa dibahas di tulisan lainnya, aamiin)

Yang pasti, semua hal yang dimaksud di atas tidak ada yang dilakukan dengan mudah. Semua proses pasti dilewati dengan pergejolakan hati, pikiran, jiwa, yang panjang, maupun pendek.

Dan yang jelas, semakin berusaha memahami apa maksud dibalik perintah Allah,

semakin kita berusaha mengenal-Nya,

semakin kita berusaha mengenal Rasulullah,

semakin kita berusaha mengenal orang-orang soleh terdahulu,

rasanya hati insyaAllah akan terus terarahkan ke titik-titik hijrah selanjutnya.

Jangan pernah puas atas perubahan yang berhasil kita jalani,

karena beberapa sahabat Rasulullah yang sudah mendapat jaminan surga pun masih ketakutan atas penilaian Allah terhadapnya,

karena Abubakar RA pun pernah menangis sampai pingsan (saat mengingat surat At-Takatsur, dan Abubakar adalah salah satu sahabat terkaya), ia begitu ketakutan siksa kubur yang tak pernah Rasulullah jaminkan kebebasan atas dirinya.

Apalah kita, yang masih banyak melakukan dosa.

Apalah kita yang masih mudah terpancing melakukan ghibah, dan dosa-dosa lainnya,

baik yang kita sadari, maupun tidak sadari.

Jika ada temanmu, keluargamu, orang di sekitarmu, sedang dalam proses berhijrah, mudahkanlah jalannya.

Karena percayalah, perjalanannya tidak mudah.

Titik hijrah awal memang berat, tapi mempertahankan hijrahnya, jauh lebih berat

Karena percayalah, banyak hal yang ia lewati, banyak gejolak yang ia hadapi, banyak ego yang sekuat tenaga ia redam, banyak ketakutan yang ia atasi setengah mati, banyak keraguan yang ia perangi.

Jika kamu tidak bisa menemani berjalan disampingnya, setidaknya jangan jadi orang yang menutupi jalannya,
atau jangan jadi orang yang sibuk meneriakinya di belakangnya,
apalagi memanggilnya agar kembali ke “posisimu”, atau “posisi awalnya”.

Jika ia mengajakmu berjalan bersama disampingnya, berarti ia menyayangimu.

Ia, hanya ingin berbagi kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ingin berbagi hal yang membuatnya merasa begitu bahagia. Ia ingin membawamu, merasakan apa yang ia tak sangka akan ia dapatkan. Ia ingin berbagi “rahasia” di balik ketenangan hatinya.

Karena dulu pun, ia ada di posisi yang mungkin sama dengan posisimu sekarang.

Dan di kala itu, dia tidak merasakan kebahagiaan, sebesar yang ia rasakan sekarang.

(Tulisan ini dibuat untuk menyemangati siapapun di luar sana yang sedang atau menuju hijrahnya ☺ termasuk diri sendiri.

Semoga Allah selalu menjaga hati kita, istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Khaira.’s story.