PENARGETAN PENGURANGAN TIMBULAN SAMPAH DI KOTA PAYAKUMBUH PADA TAHUN 2025

Khaniayu Dwi Putri
Sep 9, 2018 · 3 min read

Nama : khaniayu dwi putri

NIM : 15417115

Kota Payakumbuh ( Bahasa Minang : Payokumbuah , merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia, yang terletak di dataran tinggi dan merupakan bagian dari Bukit Barisan. Kota Payakumbuh berada di kaki Gunung Sago dengan bentang alam yang bervariasi. Topografi kota payakumbuh terdiri dari perbukitan dengan rata — rata ketinggian 514 meter di atas permukaan laut. Kota Payakumbuh dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Sinama. Temperatur udara rata — rata Kota Payakumbuh adalah 26

dengan kelembapan udara sekitar 45–50%. Wilayah administratif Kota Payakumbuh dikelilingi oleh Kabupaten Lima Puluh Kota. Kota Payakumbuh sendiri memiliki luas 80,43km persegi atau setara dengan 0,19% dari luas keseluruhan Sumatera Barat, kota ini merupakan kota terluas nomor tiga di Sumatera Barat.

Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Batiah ini merupakan kota yang banyak mendapatkan beberapa penghargaan beberapa tahun terakhir ini karena beberapa inovasi dibidang sanitasi, pengelolaan sampah, pasar tradisional sehat, pembinaan pedagang kaki lima, dan drainase perkotaan, beberapa penghargaan diantaranya adalah penghargaan Inovasi Managemen Perkotaan (IMP) pada tahun 2012, kota sehat wistara, Indonesia Green Regional Award (IGRA), dan penghargaan lainnya. Pertumbuhan ekonomi di kota payakumbuh juga meningkat pesat pada tahun 2011, yakni dari 6,38% meningkat hingga 6,79% sehingga kota payakumbuh menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera Barat.

Dengan berbagai macam kemajuan dibeberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Payakumbuh masih ingin meningkatkan pembangunan secara maksimal khususnya di bidang kebersihan. Bagaimana tidak, saat ini persoalan sampah masih menjadi perbincangan baik masyarakat maupun pemerintah kota, walaupun kota payakumbuh merupakan kota sedang di daerah Sumatera Barat, namun sampah yang dihasilkan warga payakumbuh sangatlah banyak, sehingga sampah merupakan permasalahan yang cukup berat di kota ini. Salah satu solusi yang diberikan pemerintah tentang penanggulangan sampah yaitu dengan cara membangun Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPA Regional).

Sesuai namanya, tempat penampungan sampah tersebut tidak hanya menampung sampah dari kota payakumbuh, melainkan dari kota dan Kabupaten lainnya, yaitu Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Sawah Lunto, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam. Dengan dibangunnya Tempat Pembuangan Akhir Regional dapat menyelesaikan beberapa persoalan tentang sampah, namun belum cukup dengan hal itu, Pemerintah Kota Payakumbuh bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Payakumbuh menargetkan timbulan sampah pada tahun 2025 berkurang sebanyak 30% dan 70% lainnya sudah dikelola.

Berdasarkan data, timbulan sampah yang di angkut ke tempat pembuangan akhir regional di kota payakumbuh mencapai 78 ton setiap harinya (antaranews.com), timbulan merupakan volume atau berat sampah yang di hasilkan dari berbagai sumber di suatu wilayah. Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah bekerja sama dengan masyarakat dan berbagai pihak, bukan hanya untuk mengurangi, masyarakat dan pihak lain juga bekerja sama untuk mengelola sampah agar target yang buat dapat tercapai. Upaya tersebut dapat dimulai dari yang paling dasar, yakni rumah tangga. Masyarakat yang mempunyai pekarangan yang cukup luas dapat membuat dua buah lobang untuk memilah sampah organik dan anorganik, hal tersebut dilakukan untuk memudahkan petugas kebersihan dalam mengelola sampah sebelum membawa sampah ke tempat pembuangan akhir. Bagi masyarakat yang tidak mempunyai pekarangan yang luas, dapat membuat biopori dan memasukan sampah organik ke dalamnya, agar sampah tersebut bisa menjadi pupuk organik dan berguna bagi sekitarnya, untuk sampah anorganik sendiri dapat dikumpulkan pada satu tempat yang telah disediakan pemerintah. Pemerintah juga mengoptimalkan kerja bank sampah disekolah — sekolah ataupun dikelurahan. Selain itu, pemerintah juga mengajak masyarakat dan pedagang untuk mengurangi memakai plastik, karena proses penguraian nya sangat lama dan berpengaruh pada perubahan iklim, solusi pemerintah untuk hal ini adalah dengan kembali pada pola tradisional, mengganti fungsi plastik dengan barang lainnya, contohnya membungkus bawang dengan daun pisang, dan menggunakan kantong yang terbuat dari kain atau goni untuk berbelanja. Mungkin dalam melaksanakan target ini membutuhkan waktu, namun semua pihak berharap target ini dapat tercapai agar terwujudnya kota payakumbuh sebagai kota yang bersih.

Sumber :

Harlina, N. (2018). (mukhlisun, Editor) Retrieved from sumbar.antaranews.com: https://sumbar.antaranews.com/berita/230694/kurangi-pemakaian-plastik-dlh-payakumbuh-dorong-pedagang-kembali-ke-pola-tradisional

Harlina, N. (2018). sumbar.antaranews.com. (mukhlisun, Editor) Retrieved from DLH Payakumbuh targetkan pada 2025 timbulan sampah berkurang 30 persen: https://sumbar.antaranews.com/berita/230694/kurangi-pemakaian-plastik-dlh-payakumbuh-dorong-pedagang-kembali-ke-pola-tradisional

Indra, S. (2012). scribd.com. Retrieved September Minggu, 2018, from TPA REGIONAL PAYAKUMBUH: https://www.scribd.com/document/113195812/TPA-REGIONAL-PAYAKUMBUH

wikipedia. (2018). Retrieved from Kota Payakumbuh: https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Payakumbuh

    Khaniayu Dwi Putri

    Written by