Catatan Kuliah #1: Simbolisme Keagamaan

Gereja Santa, Adi Purnomo

Sebuah rancangan yang baik tidak akan mengetengahkan konsep intimidatif. Konsep intimidatif yang dimaksud adalah;

1. Mengangkat konsep ke-Tuhan-an,

2. Konsep simbolik berdasarkan nenek moyang/ leluhur.

Kita tidak dapat menyalahkan kosep ke-Tuhan-an karena sesuatu Yang Trasedental merupakan kebenaran absolut. Tidak mengamini berarti tidak memercayai, yang ekstrimnya bisa diterjemahkan tidak memiliki agama. Di negara beragama seperti Indoneisa ini adalah salah apabila kita tidak memiliki agama. Pun juga demikian dengan konsep yang kedua, apakah kita bisa menyangkal apa yang sudah dipercayai oleh leluhur ratusan tahun yang lalu?


Suatu hari saya mendapat satu wacana dari Adi Purnomo mengenai Gereja Santa di Jakarta.

“Menemukan kedekatan dengan Yang Trasedental selalu menjadi upaya abadi manusia. Dalam hal ini Gereja dibangun atas dasar pertemuan vertikal-horizontal antara satu pribadi dengan Yang Maha Esa. Akan tetapi apabila simbol untuk mendekatiNya justru melebihi kadar, bukankah jarak semakin jauh? Lalu bagaimana mewujudkan ruang-ruang tadi tanpa mengada-ada?”

Dengan kehati-hatian dalam mewujudkan simbolisme yang tak berbelit, bangunan inipun terbentuk. Gereja ini jauh dari kata megah dan mewah, yang terlihat hanya kejujuran fungsi.

Dihari lain saya mendapati tulisan Romo Mangun mengenai simbolisme arsitektur di dalam keagamaan.

“Penghayatan arsitektural Hindu-Budhis mengarah ke ideal keheningan murni. Maka ditengah dinding-dinding yang serba ramai dan semrawut kita ditujukan kepada ruang-ruang yang penuh keheningan, kedamaian dan ketiadaan hasrat. Kebhinekaan yang membelenggu semesta dalam kesemuan Maya.”

Tidak ada satupun bidang pada dinding, daun pintu, tiang dan lain-lain yang dibiarkan polos dalam arsitektur Hindu-Budhis. Semua serba penuh dan ramai yang justru menimbulkan ketegangan dialektik. Antara vertikal dan horizontal, simetris dan asimetris, ruang hampa dan gatra masif, rupa geometris dan organis.


Ada keserasian dalam dua kotras yang jelas disini. Meski perwujudan dalam simbolisme berbeda, namun konsep yang dikembangkan bukan berdasarkan kebenaran absolut. Tanpa menginterupsi masing-masing keyakinan dalam beragama, kita tidak perlu mengagung-agungkan yang memang sudah agung dalam mewujudkan tempat peribadatan.


“Bukankah Dia datang dengan segala wujud… kicau burung, embun dan mentari pagi, bau tanah basah, semilir angin…”


Sekitar pertengahan 2013, dalam kelas Sejarah Arsitektur yang berjumlah tak lebih dari 30 orang