Dua: Dengar

“Sudah, jangan menangis”, kalimatku pecah dalam pelukannya. Yang ku dengar hanya helaan nafas panjang pada bahuku yang mulai basah. “Aku tau rasanya jadi kamu”.

Hening. Isak itu tidak lagi menggema. Dengan cepat ia mundur dan melepas peluknya. Wajah kagetnya mengisi seluruh ruangan.

“Gimana? Aku gak salah dengar?”, jawabnya sambil terheran.

“Nggak”, kataku sambil mengambil rokok miliknya yang sudah setengah. Aku hisap perlahan dan asap mengebul di hadapanku, namun tak lama dibelah oleh tangannya. Sambil merebut rokokku dengan cepat, secepat ia mematikannya di atas asbak.

“Kamu sungguh-sungguh. Aku tidak tahu kalau kamu merokok.”

“Aku gak merokok. Ku dengar mitosnya kalau mengobrol sambil merokok kamu jadi lebih tenang?”

Kemudian ia menyodorkan bungkus rokoknya, lengkap dengan korek dan asbak yang digeser ke arahku. Di balkon apartemen malam itu, aku membuka obrolan yang paling aku hindari dengannya. Ditemani asap rokok miliknya, kami terdiam selama 10 menit tanpa berkata apapun, memberikan waktu untuknya agar bisa tenang memproses segalanya.

“Waktu aku ada di posisi kamu, aku bangun setiap pagi selama tiga hari dengan menangis. Aku menyesal karena membiarkan semuanya terjadi. Dan prinsipku, yang aku jaga baik-baik di depan laki-laki selama aku hidup, aku runtuhkan di depan seseorang yang aku pikir akan menghabiskan sisa umurnya denganku. Padahal, siapa yang tahu ceritaku dengannya akan berakir indah atau tidak, kan? Aku tahu tindakanku bodoh, tapi aku tidak punya pilihan lain selain berdiri lagi dan melanjutkan hidup.”

Tidak, aku tidak boleh menangis lagi.

“Aku cukup sadar waktu itu. Dan seharusnya aku juga sadar semua risikonya”

“Kamu menganggapnya sebagai sebuah kesalahan?”

“Iya, tapi juga keputusan terbaik yang pernah aku buat”

“Kok bisa?”

“Karena ia adalah paradoks paling sulit yang pernah aku temui, pun aku mencintainya dengan cara yang paling sederhana. Aku mungkin menyesal, tapi juga sangat bersyukur telah jatuh sejatuh ini sama dia. Bagaimana pun, hubungan ini lebih dalam dari yang orang-orang ketahui. Dan aku akan memberikan ruang seluas-luasnya untuk orang-orang menghakimi kami. Hujat saja, kami tidak selemah itu untuk mendengar penilaian orang-orang dan menjadikannya alasan untuk meruntuhkan semuanya.”

“Kamu gila.”

“Dengar, aku memang gila karena jatuh cinta padanya. Tapi dibalik kegilaanku, ada banyak sekali pelajaran berharga yang aku ambil. Kamu tidak perlu tahu, tapi begini lah memang hubungan yang seharusnya. Membuatnya keduanya berkembang. Aku khawatir lama-lama aku akan retak (atau mungkin pecah) menghadapi ia yang keras, aku juga khawatir aku akan kewalahan karena penyelesaian masalahku beda jauh sama dia. Tapi kalau dilihat dari perspektif yang lain, bukankah aku akan justru makin kuat jika dibesarkan dalam lingkungan yang keras? Bukankah aku juga justru akan makin matang jika dapat menerima jalan penyelesaian masalah yang jauh berbeda dengan milikku? Semua ini hanya soal perspektif. Jadi, yang kalian lakukan itu, kesalahan atau bukan?”

Ia hanya mendegarkan kemudian mengangguk. Abu rokok yang berjatuhan ke lantai balkon sampai terdengar saking heningnya malam itu. Kami menutup obrolan itu dengan dua hal:

Pertama, bahwa jatuh cinta itu harus dibarengi dengan kedewasaan.

Kedua, bahwa jatuh cinta itu tidak masuk akal.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.