Menjadi Abadi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”― Pramoedya Ananta Toer

Dalam berbagai kesempatan, orang-orang menggunakan berbagai media untuk mengekspresikan apa yang ada di kepala-kepala mereka. Sebagaian memilih untuk menangkap cahaya melalui lensa-lensa mereka, sebagian lagi asik menyuarakan melodi-melodi mereka. Tidak boleh ketinggalan, tidak sedikit yang kemudian memilih menulis sebagai media mereka agar didengar.

Barangkali kutipan dari Pram di atas ramai di sana dan di mana-mana, dan barangkali juga, banyak dari kita sepakat dengan yang beliau kemukakan. Tapi kenapa menulis? Dari sekian banyak hal yang bisa manusia lakukan, kenapa menulis lah yang kemudian mengabadikan kita dalam sejarah?

Saya pikir, Pram hanya sedang bercanda. Mungkin saja ia sedang menertawakan dirinya sendiri ketika itu, karena sedang miskin ide dan tidak bisa melanjutkan trilogi Bumi Manusianya. Barangkali ketika itu, Pram sedang menyanjung dirinya sendiri bahwa ia adalah pribadi yang pintar dan karena ia sudah menulis, ia akan abadi. Barangkali semua yang ditulis Pram tidak lebih dari guyonan dan seringan fiksi di majalah Bobo yang terbit sebulan sekali itu. Memangnya siapa yang membatasi kita semua menafsirkan mahakarya Pram?

Seperti Pram, kita semua ingin dikenal. Melalui tulisan, imajinasi tumbuh dengan subur. Tidak ada batasan jelas mengenai tafsir sebuah tulisan, dan di situ lah letak kesenangannya. Orang-orang bisa dengan bebas liar mengartikan makna tersirat yang ada di setiap tulisan, dan si penulis bisa saja sedang tertawa, menangis, terkagum, atau bahkan kecewa membaca tafsiran yang dipublikasikan atas tulisan. Tapi justru dengan liarnya tulisan-tulisan, kita bisa menjelajah banyak hal. Dan tentu saja, kita bisa menyelam dalam bagian kecil sejarah dan diabadikan di dalamnya.

Siapa yang sangka kalau tulisan Pram akan menjadi legenda sama seperti sekarang? Mungkin seperti kita, Pram juga pada awalnya hanya iseng. Untuk mengisi waktu kosongnya, di antara studi atau bahkan urusannya mengurusi unggas kesayangannya, Pram menulis. Semata-mata untuk mengisi waktunya dan menumpahkan isi kepalanya. Mungkin saja Pram tidak pernah mengejar banyak penghargaan atau larisnya penjualan, Pram hanya menulis dengan jujur. Lalu dengan mengejutkan, kejujuran Pram sampai pada hati-hati pembaca, dan tentu saja tulisan Pram jadi primadona.

Dan sekarang, Pram abadi. Pram telah berhasil menguasai waktu dan membuktikan kalau ialah yang abadi, dan waktulah yang fana. Pram merupakan bagian dari sejarah, yang mungkin saja tidak disebutkan dalam buku sejarah mana pun, tapi tidak dapat kita pungkiri kalau Pram juga merupakan satu dari banyaknya bagian sejarah yang bangsa ini punya. Meski tidak ada lagi di antara kita semua, Pram tetap hidup dalam kepala-kepala kita, kutipannya gandrung menjadi caption di berbagai kanal sosial media, juga bukunya tidak berhenti dicetak pada percetakan-percetakan besar.

Pram abadi. Karena Pram menulis. Dan begitulah cita-citanya. Bahkan ketika sudah berpulang, cita-cita Pram justru semakin nyata wujudnya.


Saya tidak pernah mulai menulis karena saya ingin abadi.yang saya ingat, saya mulai menulis ketika duduk di bangku SMP. Di waktu-waktu sulit ketika tidak ada telinga yang mampu mendengarkan, saya menyuarakan perasaan saya melalui tulisan. Tentu saja bukan tulisan yang berbobot milik Pram, tapi saya meyakini, bahwa tulisan saya ketika itu adalah tulisan-tulisan jujur dan telanjang — yang tidak memiliki intensi apapun kecuali untuk menyampaikan.

Sejak saat itu, saya tidak pernah berhenti jujur pada setiap tulisan saya. Saya hanya menulis ketika saya ingin, bukan karena kejar tayang di kanal-kanal menulis saya. Saya mempertahankan nilai ini, karena menurut saya, kejujuran adalah modal penting dalam menulis. Setiap yang jujur dan ditulis dengan secarik perasaan yang ditumpahkan, akan sampai pada pembaca. Saya yakin, hati dan perasaan yang ada di tulisan yang dibuat dengan jujur akan selalu terjaga nyalanya sampai kapan pun. Mungkin inilah sebabnya kenapa saya suka menulis, karena saya bisa berbagi emosi, juga buah pikir, dengan orang-orang yang tidak pernah saya temui atau kenal sebelumnya.

Hingga hari ini, menulis tetap menjadi obat bagi perasaan saya yang luka, hati saya yang patah, kepala yang penuh dengan pikiran, juga tempat paling aman untuk berbagi kebahagiaan. Semua terekam dengan jelas pada diksi-diksi yang saya tulis di tulisan-tulisan saya.

Saya ingin abadi, seperti Pram. Saya memang tidak bisa menjadi legenda seperti Bumi Manusia, tapi saya abadi dengan cara saya sendiri. Saya dan seluruh kata-kata saya akan tetap ada sampai kapanpun, akan jujur sampai kapanpun. Meski sebagian orang tidak mengerti tulisan-tulisan saya, setidaknya tulisan saya akan mengajari mereka satu hal: bahwa tafsiran bebas adalah tempat bermain semua orang, juga bagi mereka yang membenci tulisan-tulisan saya.

Orang-orang yang menulis adalah pejuang,

Karena menulis adalah keberanian.