Tentang Tidur

Belakangan ini, pola tidurku membaik. Kini deretan digit yang menyambutku kala aku membuka mata cukup masuk akal. Enam lewat dua puluh tujuh memang rupawan dibanding kepala satu atau dua yang menghantuiku berbulan-bulan.

Kupotong singkat saja: ini cerita tentang tidur.


Aku ingat sekali terkesiap bangun seolah sudah hilang kesadaran hingga siang, hanya untuk mendapati langit di balik ventilasi masih bertinta hitam. Oh, pikirku, lalu merosot lagi ke dalam selimut. Ternyata untuk kesekian kali aku terbangun lebih dini dari mentari. Memang sudah cukup lama tidurku terganggu — tidak nyenyak, tidak tenang. Bangun-bangun bukannya segar, malah seakan belum istirahat sama sekali.

Kubuka ponselku. Seperti sebuah ritual, dengan lihai aku mengecek semua media sosial dengan urutan persis begini: Instagram, Twitter, LINE. Siapa tahu ada yang mencariku. Ada yang, entah siapa, ingin aku tahu isi hatinya.

Biasanya, tidak ada.

Awal-awal masa kesulitan tidurku ini menyerang, ketiadaan itu sering membuatku kecewa. Lama-lama semakin jarang. Kerap menemani subuh membuatku mengerti kalau horizon yang memisahkan malam dan pagi memang interval paling sepi dalam hari. Paling gelap, paling bahaya juga. Waktu di mana monster-monster yang numpang tinggal di tubuhku ber-crescendo. Mereka memakai sepatunya dan berderap kencang. Forte.

Tadinya ia cuma satu, membayangi kulitku. Lama kelamaan merembes ke dalam tubuh, lalu menggelayuti otak. Ngotot ingin disimak. Untuk sesuatu yang menumpang, ia cukup tidak tahu diri. Membenciku setengah mati. Aku yang terlalu naif mengira ia akan lelah berteriak-teriak sendiri. Salah besar. Dia belah dirinya. Dikoloninya aku.

< Mati kamu, mati.

Fortississimo.

Aku memejamkan mata.


Lari!

Saat aku membuka mata sekelilingku asing, tapi aku sedang berlari. Instingku mengatakan untuk tidak tunduk pada kebingungan, apalagi berhenti. Mataku panik menentukan belokan mana yang akan kususuri. Butuh waktu hingga aku sadar, ada yang berderap di belakangku. Mengejar. Mengejar. Derap sepatunya familiar: Forte.

Sial. Sampai dimensi lain pun aku diburunya.

Saat itu sepertinya jelmaannya adalah sepasukan tentara. Pernah ia tsunami, pernah banjir bandang. Pernah pula mengambil wujud seseorang yang kukenal, bersenjata. Entahlah, sesuka hatinya saja. Yang pasti aku selalu dikejar, dan ia mengejar dengan tujuan menghabisiku.

Untungnya, aku masih punya kekuatan untuk lari, meski tak tahu berapa mililiter sisanya. Bukankah itu yang penting? Bahwa aku belum pernah mati di tangannya — di dimensi ini, maupun yang lain.


Sempat aku tidak tahan.

Aku digerogoti. Tidak ada tempat berpegang. Tidak tahu di mana rumah. Benci pada nyawaku sendiri. Aku bercerita pada seorang teman di rumah makan yang penerangannya remang. Dia kenal monster-monster itu, tahu nama konduktornya. Saat dimuntahkannya nama itu dari mulutnya, justru kerongkonganku yang asam. Aku menggelengkan kepala.

“Nggak mungkin,” kataku sambil memindahkan mata, ke mana saja asal bukan wajahnya. Jatuhlah ke ayam geprek pesananku yang sudah rontok sepertiga.

Rasanya aku tidak kuat kalau ia benar. Aku berusaha menyangkal dan menjadi seperti beberapa orang terdekat.

(Itu cuma di kepalamu.)

(Lo cuma lagi capek.)

(Ada yang lebih penting dari itu.)

(Nggak mungkin.)

Tiba-tiba, hidangan di depanku tidak lagi mengundang selera.


Mungkin, lari bukan solusi.
Aku berhenti. Berbalik. Ada sepasukan tentara berancang-ancang menerjang.
Kali ini, tidak kukatupkan mataku.

Tadi pagi aku bangun sekitar jam lima. Riasan masih menempel di wajah, lensa kontak di mata, dan aku meringis saat ingat belum gosok gigi.

Sambil berjingkat ke kamar mandi, aku mengutuk diri yang bisa-bisanya lalai padahal gigi lagi sakit. Sepertinya kemarin aku lelah sekali, langsung amblas ke kasur begitu sampai di kandang sendiri.

Tapi aku, yang sedang belajar bersyukur, menyadari satu hal.

Tidurku lelap tanpa bunga

.

.

(bangkai).

Jatinangor, 25/11/17

00:24


Catatan:

Tulisan ini sulit sekali dikerjakan. Menuangkan kompleksitas kekalutan selama berpuluh-puluh fajar ke dalam kata-kata bukan hal yang sederhana. Kurasa tidak akan ada tulisan yang bisa cukup dekat menerjemahkan gelapnya waktu-waktu itu. Alhasil, banyak bagian dari kisah ini yang kutinggalkan. Mempublikasikan tulisan ini juga sulit. Takut mendapat reaksi seperti yang aku rekam di sini. Tapi, aku merasa ini adalah sesuatu yang harus dilakukan.

Menulis selalu menjadi caraku mencapai kesembuhan. Menutup sebuah era. Belajar berjalan maju. Dengan setiap tulisan yang kubuat, aku menanggalkan sesuatu dan mengenakan yang baru. Begitupun “Tentang Tidur”, bentuk perlawananku pada mereka yang mengusik jiwa.

Untuk kalian yang juga sedang memerangi sesuatu: semoga tulisan ini bisa menghibur. Jangan menyerah.

Dan,

selamat tidur.