Secangkir Kopi dan Sepiring Nasi

http://www.lintasgayo.com/wp-content/uploads/2012/05/cangkir-kopi.jpg

Sore hari pukul empat. Suara mesin motor CB terdengar berhenti di depan rumah. Gadis kecil itu segera berlari menuju keluar rumah, meninggalkan televisi yang selalu ditontonnya sejak pulang sekolah di siang hari menyala menayangkan acara kartun kesukaannya.

“Ayah!” pekiknya.

Rambut ikalnya sesekali mengayun ke depan dan belakang terkena angin yang dia cipta karena berlari dan kadang melompat girang dengan kaki-kaki kecilnya. Di depan rumah, didapatinya lelaki yang juga berambut ikal sedang memarkir motornya. Segera ia dekati lelaki itu dan mencium tangannya.

Di atas meja di ruang tengah, seorang perempuan baru saja meletakkan secangkir kecil kopi pekat dan manis, dilengkapi dengan lepek sebagai alas dan tempat mendinginkan kopi sebelum diminum, juga penutup cangkir mungil untuk menjaga kopi tetap panas. Ia lalu kembali ke dapur, menyiapkan makan malam.

Lelaki itu menuju meja dan duduk menghadap kopinya, diikuti si gadis kecil ikal yang juga duduk di seberangnya. Lelaki itu membuka tutup cangkir dan menyeruput kopi panasnya. Sedikit. Sementara si gadis kecil hanya memandangi dengan antusias, sambil mengayunkan kakinya yang belum cukup panjang untuk menjejak sampai ke lantai.

“Yah, aku nyuwun kopinya, ya?” Pandangan si gadis kecil tertuju si lelaki, lalu ke cangkir kopi sambil menunjuknya.

Iyo.” jawab si lelaki singkat.

Tangan mungil si gadis lalu menarik lepek ke arahnya agar lebih dekat. Dituangnya kopi ke lepek dengan hati-hati agar tak tumpah, juga agar panasnya tak terkena tangannya. Ia lalu meletakkan cangkir di sebelah lepek, agak jauh. Ditiupnya kopi yang ada di lepek. Setelah dirasa tak terlalu panas, ia menyerputnya dengan semangat.

Si lelaki mengambil sebungkus rokok dari saku jaketnya lalu mengeluarkan sebatang dari bungkus tersebut dan menaruhnya di bibir. Korek api lalu diambil dari saku yang sama. Cress.. Suara roda pemantik digesekkan dengan jari membentuk api kuning yang melambai-lambai. Segera api diarahkan ke ujung rokok. Bara kecil terbentuk dan menjalar melingkar di ujung batang rokok. Asap lalu mulai melambai-lambai keluar dari bara tersebut.

Sesekali bara itu akan terang, saat si lelaki menghisap rokoknya. Lalu ia akan redup saat si lelaki tak menghisapnya, dan menyembulkan asap keabuan dari dalam mulutnya. Asap itu seakan segerombolan anak-anak yang keluar dari pintu kelas saat jam istirahat menuju ke beberapa penjual jajan yang berjajar di sekitar lapangan sekolah, memencar.

Si gadis kecil masih asyik dengan kopi di cangkir. Kali ini ia ingin minum lebih banyak, langsung dari cangkir. Alih-alih meniup kopi yanga da di dalam cangkir, dia justru membatukinya, meski sesungguhnya ia tidak sedang flu. “Uhuk, uhuk..” bunyinya seperti batuk biasa, tanpa dahak.

Setelah menyeruputnya, si gadis kecil lalu menyodorkan kembali cangkir yang kini berisi kopi dua pertiganya itu kepada si lelaki.

Nyo, Yah,” ucapnya sambil menyodorkan.

Moh. Kopinya sudah kamu batuki.” sambil sesekali menunjuk dengan tangan yang memegang rokok.

Lelaki itu lalu mengambil remot kontrol dan mengganti saluran televisi dengan berita. Sesekali ia menghisap rokok dan baranya akan menyala. Lalu, asap keabuan akan tersembul keluar dari mulutnya menuju ke langit. Suara seorang perempuan dengan nada yang tegas lalu terdengar dari televisi, menyiarkan kejiadian hari ini dari nusantara, mulai dari politik yang didominasi sekelompok golongan yang dijadikan alat sang kepala negara untuk mengamankan posisinya selama bertahun-tahun, hingga ekonomi mengenai harga-harga di pasar.

“Yah, aku baca puisi, ya.” Si gadis kecil lalu segera beranjak menuju ke depan meski si lelaki belum mengiyakan, berdiri menghalangi pandangan dari si lelaki untuk menonton televisi.

“Ulang.. Ulangnya sangat panjang..” kepalanya sesekali terangkat bersamaan dengan tangannya yang membentuk gerakan melebar dari kanan ke kiri.

Sek to, Nduk. Kok ulang-ulang? Yang kamu ulang itu apa?” si lelaki memandang kebingungan ke arah si gadis kecil. Salah satu tangannya lalu menepuk-nepukkan rokok ke asbak, membuang bagiannya yang sudah menjadi abu.

Si gadis kecil cemberut. Dia lalu menjawab dengan mendengus, “Ulo, ulo!” Lalu kedua lengannya saling melingkar di depan dada, pertanda jengkel.

Si lelaki hanya bisa tertawa, memperlihatkan gigi kuning hasil merokok selama bertahun-tahun.

Perempuan yang sedari tadi di dapur lalu menuju ruang tengah, membawa sepiring nasi dengan lauk sayur lodeh dan kerupuk asin, kesukaan si lelaki. Wajahnya juga membungkus senyum lebar dengan deretan gigi kecil dan rapi. Sesekali ia hanya menggelengkan kepala mendapati kelucuan si gadis kecil.

Setelah makanan yang dibawa itu diletakkan di atas meja, si lelaki lalu lahap menyantapnya. Si gadis kecil yang sudah lupa dengan kejengkelannya kemudian menuju si lelaki.

“Aku mau, Yah. Aaaaa..” mulutnya lalu terbuka lebar.

“Nih, ambil sendiri.” si lelaki lalu menyodorkan sendok dan piringnya, disambut oleh si gadis kecil dengan senyum terkembang di wajahnya.

Setelahnya, ia akhirnya kembali makan dengan lahap karena si gadis kecil sibuk mengunyah makanan hasil rampasan yang ada di mulut mungilnya.

“Mau lagi, Yah.” Si Gadis kecil kembali mendekat ke si lelaki setelah sekian lama.

Si lelaki lalu mulai jengkel dan berkata, “Kamu kenapa to suka banget ngerusuhi orang makan? Mbok makan sendiri sana, wong sudah besar.”

Si gadis kecil hanya tersenyum polos tanpa merasa berdosa dan menjawab, “Lha enak kok kalo makannya ngerusuhi gini.”