Membela Nihilisme yang Lucu

Mari melihat sisi lucu dari kekosongan.

Khoiril Maqin

Tuhan sudah mati. Tak ada yang penting. Semua tak ada artinya. Kebenaran pun tak ada. Ini adalah jenis-jenis ratapan yang sering dikaitkan dengan nihilisme, sebuah perspektif filosofis yang didasarkan pada keyakinan bahwa dunia ini memang tidak sempurna, cacat dan rusak.

Menurut nihilis, dunia ini tidak berjalan seperti seharusnya. Berharap menggapai kebenaran, tetapi sepertinya tidak pernah menangkapnya secara utuh. Menginginkan kemolekan, tetapi hanya menemukan contoh-contoh kecacatan di dunia. Ingin segala sesuatu memiliki nilai, tetapi pada akhirnya tidak ada yang penting. Ingin dunia menjadi sempurna, tetapi selalu mengecewakan.

Mungkin tidak terlalu buruk jika nihilis percaya pada potensi kita untuk memperbaiki keadaan. Akan tetapi, para nihilis menolak optimisme semacam ini, alih-alih mengklaim melampaui kemanusiaan untuk memperbaiki keretakan abadi antara keadaan eksistensi kita sebenarnya dan cara yang kita inginkan dari hal-hal yang ideal. Bagi nihilis, ‘yang nyata’ dan ‘yang ideal’ berada dalam konflik berkelanjutan satu sama lain, dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah kondisi ini.

Dalam bukunya, The Ethics of Ambiguity (1947), eksistensialis Simone de Beauvoir mencirikan nihilis sebagai idealis yang frustasi, mengutuk mereka sebagai contoh dari ‘niat buruk’. Artinya, alih-alih meraih situasi tidak sempurna mereka seperti eksistensialis budiman, ia mengklaim nihilis mengundurkan diri ke semacam fatalisme impoten di mana semua usaha mereka memahami dunia pasti akan gagal sempurna. Jika kesempurnaan adalah kriteria kesuksesan, maka apapun yang kita capai di dunia nyata tidak akan pernah bisa diukur. Prestasi terbesar manusia masih mengecewakan, dan semua aktivitas duniawi merupakan perjuangan sia-sia menuju tujuan mustahil.

Filosofi kehidupan yang kelihatannya suram dan menyedihkan ini telah digeluti oleh banyak pemikir besar dunia, sebagian besar, seperti Beauvoir, telah berusaha keras untuk menolaknya, dan bergerak melampaui itu. Tapi kita tetap menemukan filsuf seperti Buddha, Immanuel Kant, Max Stirner, Søren Kierkegaard, Arthur Schopenhauer, Martin Heidegger, dan mungkin yang paling eksplisit, Friedrich Nietzsche, berjuang dengan masalah nihilisme, mengusulkan ‘solusi’ mereka sendiri, dan menyarankan cara-cara yang mungkin membimbing kita ke jalan menuju mengatasi keputusasaan.

Terlepas dari upaya intelek-intelek besar ini, menurut beberapa catatan, nihilisme adalah sindrom filosofis yang saat ini lebih mendesak daripada sebelumnya. Tentu saja terus menjadi tantangan untuk tidak dianggap enteng, dan tentu saja bukan sesuatu yang membuat orang cenderung untuk menertawakannya. Namun inilah tepatnya usulan saya di sini. Dalam uraian berikut, saya berpendapat bahwa respons paling tepat terhadap nihilisme bukanlah keputusasaan, tetapi mengadopsi sikap lucu, respons yang memungkinkan kita untuk menertawakan kekosongan yang memisahkan kita dari cita-cita tertinggi.

Keganjilan

Koneksi sentral antara humor dan nihilisme terletak pada keganjilan atau ketidaksesuaian. Keganjilan adalah ketika dua atau lebih kenampakan dunia gagal mencapai konsistensi satu sama lain: kita mengatakan bahwa dua fitur realitas tidak sesuai ketika mereka kurang harmonis, berbenturan dengan cara menolak segala jenis resolusi stabil. Jadi, misalnya, akan aneh menjadi seorang Kristen dan pada saat yang sama menyangkal keberadaan Tuhan, karena penolakan keberadaan Tuhan bertentangan dengan kepercayaan dasar yang mendefinisikan kekristenan. Kontradiksi (dua pernyataan tidak dapat keduanya benar dan keduanya tidak bisa salah pada saat yang sama) adalah salah satu bentuk keganjilan yang dramatis, tetapi ada banyak jenis lainnya, yakni Contrariety (dua pernyataan tidak bisa keduanya benar pada saat yang sama tetapi keduanya bisa salah pada saat yang sama). Selain itu juga terdapat Ironi, di mana seseorang mengatakan kebalikan dari apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Secara tradisional, para filsuf telah melihat kembali keganjilan, melihat di dalamnya sesuatu yang tidak logis, tidak rasional. Dengan demikian, ketidaksesuaian biasanya dianggap memohon resolusi, pencegahan, atau paling tidak, semacam klarifikasi.

Sikap ini diartikulasikan pada awal filsafat Barat, ketika Socrates mengembangkan metode penyelidikan dialektisnya. Dalam Apology Plato, misalnya, dimana Socrates menyela Meletus mengenai tuduhan yang diajukan kepadanya, Meletus mengklaim bahwa Socrates adalah seorang ateis dan bahwa ia mengajar tentang para dewa yang tidak diakui oleh negara. Tentunya, Socrates menegaskan, ada ketidakkonsistenan di sini, karena orang tidak dapat sama-sama menyangkal keberadaan para dewa dan mengajarkan keberadaan mereka.

Strategi Socrates untuk membasmi, mengekspos dan /atau membubarkan keganjilan logis akhirnya diambil dan diintensifkan oleh para pemikir seperti Hegel. Hegel berusaha menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu eksis yang mungkin tidak sesuai dengan apa pun yang eksis juga. Meskipun tentu saja ada fenomena duniawi yang tampaknya saling berbenturan (seperti tuan dan budak), Hegel berpendapat bahwa pada akhirnya ketidaksesuaian ini bekerja dengan sendirinya dalam sintesis historis akhir yang dapat dipahami oleh pikiran yang cukup pintar untuk memahami logika yang mendasari alam semesta. Semua hal, bahkan yang tampaknya saling bertentangan, benar-benar merupakan ekspresi dari ‘ide absolut’ yang mendasar dan menyatu, berpotensi dapat dipahami oleh akal manusia. Ketidaksesuaian duniawi, dalam pengertian Hegelian ini, adalah kesalahpahaman yang menutupi Kebenaran universal, tersembunyi dan sepenuhnya konsisten. Bagi Hegel, ‘yang sebenarnya adalah yang rasional’.

Strategi umum yang ditempuh oleh para filsuf mengikuti jejak Socrates dan Hegel adalah menggunakan alat-alat logika untuk mencoba membubarkan keganjilan. Langkah ini membantu menjelaskan mengapa banyak dari intelek terhebat dalam sejarah dunia, ketika mereka bertemu nihilisme, bekerja keras untuk ‘menyelesaikannya’, dan dengan bangga menyuarakan keberhasilan mereka dalam ‘mengatasi’ teka-teki yang meresahkan ini. Seperti yang disebutkan, nihilisme terdiri dari jenis keganjilan yang spesifik: sebuah pemahaman bahwa dunia nyata tidak akan pernah bisa diselaraskan dengan cita-cita superlatif. Saya menyebutnya disonansi antara ‘yang ideal’ dan nyata dari ‘keganjilan nihilistik’. Seperti kebanyakan bentuk keganjilan, para filsuf secara tradisional tidak nyaman dengan keganjilan nihilistik, melihatnya sebagai tindak keputusasaan atau sebuah resolusi hidup, dan tidak ada opsi lain di antara keduanya. Tapi ini adalah dilema yang salah.

Humor

Salah satu teori humor tertua menyatakan bahwa keganjilan juga merupakan akar penyebab tawa. Menurut pandangan ini, jejak yang dapat dideteksi sejauh Aristoteles, kita cenderung menemukan hal-hal lucu ketika menemukan keganjilan namun tidak mengancam ide, persepsi, atau fenomena lainnya. Ketika ketidaksesuaian yang dirasakan tersebut dianggap sebagai tidak berbahaya, akibatnya kita tidak mengalami urgensi untuk menyelesaikannya atau untuk mencari solusi atas ketidakmungkinan itu; alih-alih, kita cenderung untuk berlama-lama di menghadapinya, menggambar pengalaman yang menggembirakan dari kontemplasi terus menerus. Ahli teori humor kontemporer John Morreall mengaitkan kapasitas ini dengan penyempurnaan nalar pada manusia, menunjukkan bahwa kesenangan yang kita peroleh dari kontemplasi atas keganjilan mendorong kita untuk menyelaraskan dan mengasah kemampuan logis, pada gilirannya memberi kita keuntungan evolusi.

Apapun sumber evolusi dari pengembangan kapasitas kita memahami humor, tidak dapat disangkal bahwa teori keganjilan bekerja cukup baik dalam membantu menggambarkan mekanisme struktural yang terlibat dalam banyak lelucon. Contohnya kartun ini, bagi kita yang tertarik pada nihilisme adalah contoh bagus tentang kelucuan:

Nihilism cartoon © Juneko Robinson 2015

Di sini, humor muncul dari ketidaksesuaian antara dua konsep: gagasan berkumpul dengan penuh semangat di depan umum untuk beberapa alasan, dan gagasan nihilistik bahwa tidak ada yang benar-benar nyata, atau berharga, dan dengan demikian layak diperagakan sejak awal. Lelucon itu memainkan makna ganda dalam kata ‘tidak ada’. Dalam satu pengertian, ‘tidak ada’ berarti ‘tidak ada sama sekali.’ Jika diambil dengan cara ini, kita dapat mengacaukan lelucon itu dengan maksud bahwa para nihilis ingin menunjukkan sesuatu tanpa imbalan sama sekali. Dengan kata lain, mereka tidak ingin melihat apa yang bisa seseorang buktikan. Namun, ada juga perasaan ‘tidak ada’ sebagai tujuan tertentu — bisa jadi isi sistem kepercayaan nihilistik. Dalam pengertian ini, lelucon itu dapat disamarkan artinya bahwa para nihilis ingin Anda membuktikan sesuatu atas nama ketiadaan.

Perhatikan bahwa ketika kita menyelesaikan ketidaksesuaian di antara dua arti yang mungkin dari ‘tidak ada apa-apa’, lelucon itu menjadi lucu. Tidak ada yang lucu dalam mengatakan “Nihilis tidak ingin Anda membuktikan apa pun.” Demikian juga, tidak ada yang lucu mengatakan “Nihilis ingin Anda membuktikan sesuatu atas nama kekosongan.” Kesenengan kita mengharuskan ambiguitas antara dua makna dari ‘tidak ada’ yang tetap tidak terselesaikan. Mengklarifikasi dan membubarkan keganjilan yang berisi lelucon semacam itu menyebabkan penguapan humor, menggantikannya dengan jenis kepuasan memecahkan teka-teki yang lebih rasional. Tetapi dalam memecahkan teka-teki tentang bagaimana lelucon itu bekerja, efek komedinya menghilang. Menertawakan lelucon dengan pikiran yang geli mengharuskan kita berlama-lama bersenang-senang, memegang dua gagasan aneh dalam pikiran kita sekaligus. Dalam hal ini tidak ada teka-teki yang terpecahkan. Kata bermain adalah imbalannya.

Nihilisme yang lucu

Jika dunia memang mengandung keganjilan yang benar-benar tidak terpecahkan, akan sia-sia untuk mencoba melakukan rekonsiliasi logis. Hegel adalah seorang yang optimis dalam berpikir bahwa realitas sejati, jika dilihat dengan jelas, bebas dari keganjilan; tetapi bagi nihilis konflik antara yang nyata dan yang ideal sedang berlangsung, tidak terselesaikan, dan tak terhindarkan. Karena itu, mereka harus menyerahkan harapan pada resolusi akhir untuk memisahkan mereka dari kesempurnaan; karenanya pembuka awal tulisan ini adalah sebuah ratapan, ‘Tuhan sudah mati. Tak ada yang penting. Semua tak ada artinya. Kebenaran pun tak ada.’

Justru karena ketidaksesuaian logis nihilis yang tidak dapat didamaikan antara aspirasi dan keadaan dunia yang sebenarnya, membuat banyak filsuf yang mengalaminya telah jatuh dalam keputusasaan atau memilih untuk ‘mengatasi’ nihilisme dengan mengubah keyakinan fundamental mereka tentang realitas. Tetapi ada opsi ketiga, yaitu mengadopsi sikap komikal menghadapi dunia absurd. Jika kondisi manusia dipandang sebagai lelucon — sesuatu yang menggelikan, dan tentu saja dirusak oleh ketidaksempurnaan — maka masuk akal untuk berhenti mencoba memperlakukannya seperti teka-teki mencari semacam solusi cerdas. Mungkin akan lebih tepat jika kita hanya berlama-lama di tengah jurang perbedaan antara dunia yang sebenarnya dan yang kita inginkan, menatap ke dalam jurang dengan kesenangan tanpa rasa takut. Dengan melakukan hal itu, para nihilis mungkin mengekstrak kesenangan dari situasi yang seharusnya hanya akan menimbulkan frustasi dan rasa sakit.

Jadi mengapa tidak tertawa? Lagi pula, jika benar bahwa tidak ada yang benar-benar penting, maka fakta bahwa tidak ada yang benar-benar penting juga tidak penting, bukan?

_______________________

Diterjemahkan dari In Defense of Humorous Nihilism yang ditulis oleh John Marmysz untuk Philosophy Now. Marmysz mengajar filsafat di College of Marin. Dia menulis buku Laughing at Nothing: Humor as a Response to Nihilism (SUNY Press, 2003), The Path of Philosophy: Truth, Wonder and Distress (Wadsworth Publishing, 2011), and The Nihilist: A Philosophical Novel (No Frills Buffalo, 2015).

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade