Konflik Domestik

Hari ini sudah memasuki sudut pagi dan aku menemukanmu dalam seblak sepuluh ribu lengkap dengan telur. Aroma asap rokok tukang gorengan gerobak coklat menembus punggungku dan sepatu hitam dan putih berlalu lalang mengejar kelas pagi. Perempuan berbaju biru duduk dibalik tiang penghalang pejalan kaki, mengais iba dan menambah keriput. Kemudian aku melihatmu habis terkunyah dalam mulutku, menjadi bagian dari sakit perutku. Sekelompok lelaki berbaju merah berdiri linglung dengan telepon genggam yang menangkap peluh perempuan tua penjual seblak dalam lihainya mengaduk micin dan rupiah. Satu perempuan disampingku mengkhawatirkan harga terlampau murah yang ia bayarkan untuk sebuah jasa lebih daripada apakah hari ini sudah cukup berharga dan dihargai dari waktu-waktu sebelumnya.

Akupun sudah melupakan rasamu dimulutku, tertinggal jauh dipepet kerumunan realita yang perlahan menyingkirkanmu dan keberadaanku dalam kata kita.

-

31/08/18

Kidung Kinanti Wulandari

Written by

Writer & Printmaking student.