Terik Prambanan

Kehangatan sinar matahari di Prambanan menjadi suasana yang dinanti tiap pengunjung yang datang. Melangkahkan kaki di Hamparan rumput hijaunya memberikan kesan yang menyejukan mata. Memerlukan waktu selama satu jam dari kota Yogya ke Prambanan. Rasa lelah di perjalanan hilang begitu saja ketika melihat panorama Prambanan yang sangat mempesona. Sebuah candi yang di bangun sejak lama namun keindahannya masih tetap bertahan sampai kini, sebuah candi yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi hingga setiap kepala harus dengan sekuat tenaga mendongakannya untuk melihat pucuk dari candi tersebut, ya itulah Candi Prambanan.

Menelaah suasana saat berada di Prambanan sangatlah menakjubkan bagi sepasang mata yang melihatnya. Walau ketika itu matahari benar-benar sedang berada di ubun-ubun kepala namun candi kokoh tersebut bisa membuat penulis tetap menikmati indanya suasana. Setiap pengunjung yang ingin masuk kedalam candi di wajibkan memekai kain, untuk menghormati adat istiadat di sana.

Sebuah kain yang tidak terlalu panjang dengan bercorak batik ciri khas Jogjakarta. Menaiki setiap anak tangga di Prambanan sambil memandang langit biru dan awan-awan putih melebur menjadi sebuah langit yang indah dan tertata. Walau saat penulis berkunjung ke sana, candi tersebut di kelilingi oleh banyaknya kendaraan-kendaraan besar dan suara-suara bising dikarenakan alat-alat yang digunakan oleh para pekerja, ketika itu Prambanan sedang di renovasi, sebuah candi yang kokoh namun mungkin sudah di anggap rapuh.

Pengunjung mungkin akan merasakan kebisingan dan debu yang menyerbak, dan juga ketika penulis ingin memasuki sebuah candi penulis diwajibkan untuk memakai sebuah helm, demi keselamatan karena pada saat itu banyak sekali reruntuhan batu. Beberapa anak tangga sudahlah cukup ketika kita ingin menikmati suasana dari atas candi untuk melihat keindahan sekitar Prambanan, bukit menjuntai luas, tumbuhan tertata dengan begitu rapihnya, pekerja bangunan begitu bersemangat, dan begitu banyak turis mancanegara di candi Prambanan.

Turis pastilah merasakan keeksotisan Prambanan, dengan di tambahnya seorang pemandu yang menceritakan asal-mula candi ini, mereka sangat terlihat antusias dalam menyimak sang pemandu dan itu akan membuat semua terlihat sangat menarik. Terlihat juga banyak anak-anak yang berlari-larian sembari orang tuanya mengejarnya, dan terdapat juga banyak lansia yang masih sangat kuat ketika menaiki anak-anak tangga. Pengunjung juga banyak mengabadikan foto mereka di candi dan pengunjung saat itu juga sangat banyak walau tahun ajaran baru sudah dimulai.

Banyak fotografi yang bertebaran di sekitar candi Prambanan, ya foto yang langsung di cetak dan di jual dengan harga yang cukup mahal dan banyak juga penjual topi dan kacamata karena pada saat itu cuacanya sangatlah panas. Beberapa bagian candi tidak di buka, walau penulis agak sedikit kecewa namun keindahan Prambanan mengobati semuanya. Penulis merasa jika keindahan di Prambanan ini sangatlah luar biasa, pantas saja begitu banyak mancanegara atau warga Indonesia yang datang ke Prambanan. Penulis kemudian mengunjungi bagian belakang dari candi, disana kita benar-benar bisa melihat keindahan Indonesia rumah-rumah beradat jawa, sumur-sumur yang terlihat, terlihat embun di antara pepohonan di hutan walau saat itu sudah sangat terik. dan tidak lupa penulis juga mengabadikan foto ketika berada di sana.

Akhirnya penulis sudah merasa cukup puas berada di candi Prambanan. Pemandangan di prambanan sangatlah menakjubkan, indah dan elok dan sangatlah rugi jika kita sebagai orang Indonesia belum pernah mengunjungi candi Prambanan yang mempunyai daya tarik yang luar biasa.

Fotonya difoto lewat laptop akibatnya kualitasnya jelek. Tulisan ini dibuat sekitar awal tahun 2014. K.P
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.