Me and a descendant of the demon king
Chapter 3
Sampai di rumah aku masih sedikit takut dengan kejadian tadi sore. Bahkan saat ini pun, saat aku ingin tidur aku masih memikirkan hal tersebut. Ada hal lain juga yang menggangu pikiranku. Biasanya dewa kematianku hanya pergi menghilang setengah hari, tapi kali ini seharian aku tak melihatnya mengikutiku, bukannya aku tak senang hanya saja ini hal yang sangat aneh. Masih memikirkan hal itu, tiba tiba pintu kamarku terbuka sendiri. Aku yang masih ketakutan dengan kejadian tadi, tambah ketakutan. Entah apa alasannya aku menutupi tubuhku dengan selimut, dan memejamkan mataku seolah olah sedang berlindung dari sesuatu.
"Sepertinya dia sudah tidur," terdengar suara berat dari luar kamarku, entah suara siapa itu, yang kuyakin ia tak sendirian. Setelah memastikan aku sudah tidur suara itu pergi menghilang bersamaan dengan suara pintu kamarku yang di tutup kembali. Aku yang masih ketakutan, tetapi penasaran mencoba menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar.
"Kita harus cepat cepat membunuh penyihir itu, sebelum dia menghancurkan semua rencana yang sudah kita susun selama bertahun tahun lamanya," terdengar suara yang sama dengan suara yang ku dengar tadi.
"Tapi bagaimana cara membunuhnya? Yang kutahu penyihir itu bukanlah penyihir sembarangan yang mudah di bunuh, penyihir itu sungguh merepotkan," ucap salah seorang lagi diantara mereka.
"Kalau soal itu tenang saja, aku sudah mempunyai rencana lain. Mula mula kita bunuh dulu pemuda itu, setelah dia mengingat semuanya kita tinggal memprovokasi dia. Bagaimana?"
"Ide yang cemerlang, aku setuju," ucap salah seorang lagi diantara mereka.
Aku yang mendengar rencana pembunuhan mereka merasa kalau aku harus menghentikan rencana mereka, pasalnya hanya aku seorang yang mengetahui rencana ini.
***
Pagi harinya dewaku sudah kembali mengikutiku, aku merasa seperti sedang di awasi. Bagaimana tidak tatapan matanya hari ini lebih tajam dari biasanya, bahkan aku yang tak menoleh ke arahnya pun sudah tau bagaimana tatapannya hari ini yang sungguh mengerikan.
Kali ini aku memastikan untuk sarapan dengan cukup, aku tak mau kejadian kemarin terulang lagi, dan sekarang sebaiknya aku melupakan kalau dewaku sudah kembali, dan mulai mengikutiku lagi.
Sambil berjalan menuju sekolah, aku mencoba memikirkan kejadian kemarin sore, dan juga cara mencegah rencana mereka tadi malam. Semakin ku pikirkan justru malah semakin membuatku semakin takut, bukannya menemukan jalan keluarnya.
Kuakui kalau aku seorang penakut, yang ku takutkan bukanlah hal seperti hantu dan sejenisnya. Yang kutakutkan itu rencana mereka, dan kejelasan kejadian kemarin yang benar benar janggal. Bukannya menemukan jalan keluar justru aku malah mengkhayal hal hal yang tidak penting.
"Hei, Shahiro kenapa kau melamun? Apa ada hal yang tak beres?" suara Katsumi dari belakang sambil menepuk bahuku membuatku kaget.
"Ah tak ada apa apa kok. Dan bisa tidak kau jangan muncul dari belakang, hal itu membuatku kaget tau."
"Haha, sorry sorry. Habisnya kamu dari tadi serius banget, ku panggil saja tak menoleh sama sekali. Memangnya ada hal serius apa? Sampai membuatmu tak dengar saat kupanggil," tanya Katsumi dengan penuh keheranan.
"Bukan hal yang penting kok," tentu itu adalah sebuah kebohongan besar.
"Oh, baiklah jika itu bukan hal yang penting. Sebaiknya kita cepat cepat menuju sekolah sebelum gerbang sekolah di tutup."
Dan benar saja setengah jam lagi bel masuk akan berbunyi, setengah perjalanan pun belum sampai, tanpa pikir panjang aku langsung berlari. Menoleh kebelakang, ternyata Katsumi sudah berlari terlebih dahulu di bandingkanku. Masih mencoba mengejar, tiba tiba terlihat sesosok hitam besar menghadangku dari depan. Kali ini wujudnya lebih besar di bandingkan dengan dewa kematian yang biasa kulihat. Refleks, langkahku langsung terhenti. Mencoba menenangkan diri, aku masih mencari cari jalan lain menuju sekolah. Saat aku melihat ke atas sosk itu justru tersenyum lebar seperti senyuman yang biasa yang ku lihat, tetapi kali ini senyuman itu lebih seram di bandingkan yang biasa ku lihat.
Panik, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arah persimpangan di sebelah kanan, entah menuju kemana persimpangan itu. Aku masih terus berlari sambil menutup mata tanpa memikirkan dimana aku berada sekarang.
Merasa sudah aman aku mencoba membuka mata, dan menenangkan diri. Aku berfikir kalau aku sudah lepas dari kejaran dewa kematian itu, tapi aku salah justru lari tanpa memikirkan arah membuatku semakin mudah di temukan oleh dewa itu.
Bingung, aku hanya memilih arah secara acak, dan menandai bagian mana saja yang sudah ku lewati. Aku yang ingin berangkat ke sekolah kenapa malah terlibat dengan kejar kejaran ini? Apa karena semalam aku menguping? Atau justru akulah target yang di bicarakan semalam? Semakin di pikirkan semakin membuatku pusing.
Aku berhenti sejenak karena lelah, dan dari tadi juga aku sudah tak melihat sosok itu mengejar lagi. Aku meminum air minum yang kubawa untuk ke sekolah, untuk berjaga jaga aku hanya meminum secukupnya, jika kerjar kejaran ini berlangsung selama beberapa hari. Walau aku tak mengharapkan tak mengharapkan kejar kejaran ini berlangsung lama. Karena sosok itu tak muncul setelah beberapa saat aku menunggu, aku mencoba kembali ke tepat awal.
Aku kembali ke persimpangan yang pertama ku ambil tadi. Aku mencoba mengintip dari balik pohon besar yang cukup menutupi diriku. Masih belum kelihatan, aku pun mencoba mengintip dengan mengeluarkan setengah kepalaku, dan saat aku melihat, sosok itu sudah tidak ada di tempat semula. Aku berfikir kalau sosok itu sudah mengejarku ke arah yang tadi ku ambil secara acak, namun aku salah. Saat aku menoleh ke arah belakang saat itu aku baru sadar, sebenarnya sosok itu sedari tadi berada di belakangku. Sontak aku pun langsung berlari tanpa mempedulikan arah lagi.