Me and a descendant of the demon king
Chapter 4
Matahari sudah semakin terik, aku masih terus berlari sambil menutup mata, entah ke arah mana itu. Sampai langkahku terhenti karena tersandung batu, di saat itu juga aku melihat sebuah rumah kecil yang kelihatan terawat sekali. Kakiku terluka cukup parah karena tersandung tadi, dan tidak mungkin aku terus berlari dengan kondisi seperti ini.
Aku menghampiri rumah tersebut, mencoba mengetuk pintunya. Terdengar suara ribut beberapa orang di dalam. Berdebat siapa yang akan membukakan pintu. Tak lama suara ribut itu senyap, dan dari balik pintu tersebut muncul seorang perempuan berambut merah, yang kuakui ekhem cukup manis.
"Ada perlu apa ya?"
"Bisa saya menumpang di rumah ini sebentar?" kataku balik bertanya.
"Oh, tentu tentu. Silahkan masuk," perempuan itu membuka pintu lebih lebar di banding sebelumnya, dan menuntunku menuju sofa.
Setelah menuntunku menuju sofa perempuan itu kembali ke belakang, sepertinya sedang membicarakan masalah ini kepada keluarganya. Aku lekas mengambil kotak p3k yang ada di dalam tasku, dan mengobati kakiku yang luka tadi. Aku selalu membawa p3k ini kemana mana, takut takut ada yang terluka atau berada di situasi seperti ini. Cukup lama perempuan itu tak kembali, sekarang muncul seorang pria berambut cokelat menghampiriku. Melihatku dengan seksama seperti ada yang janggal.
"Benar! Dia memang tuan kita. Bagaimana sih kau ini Liyara, tidak bisa membedakan. Dasar bodoh!" perkataannya sontak membuatku kaget. Apa maksudnya tuan mereka?
"Emm.. Anu. Maksudnya "tuan kita" apa ya?"
"Emm.. Emm.. Aku mengerti. Sepertinya rencana Yataro berjalan dengan lancar. Kalau begitu apakah kau sedang di kejar kejar sesuatu saat ini?" bagaimana dia tahu aku sedang di kejar kejar oleh dewa kematian tersebut?
"Y..ya, aku sedang di kejar kejar oleh sosok hitam besar, yang biasa ku panggil dewa kematian," terangku.
"Buahahahahaha, ini lucu sekali. Benar benar menggelikan, aku tak bisa berhenti tertawa," sepertinya dia sedang meledekku sekarang.
"Kumohon jangan tertawa, ini tidak lucu."
"Haha, maaf maaf habisnya ini lucu sekali. Ah ya perkenalkan namaku Tanaka Kei, perempuan yang tadi membukakan pintu namanya Liyara Midori. Yang berambut biru ini namanya Mokide Sakura, sedangkan lelaki yang berambut putih namanya Sira Akiko."
"Salam kenal, namaku Shahiro Makari. Panggil saja Shahiro."
Sudah puas mereka bertanya-tanya padaku, akhirnya aku di persilahkan untuk membersihkan diri, juga beristirahat sejenak. Karena saat ini hari sudah semakin sore, kabar buruknya aku bolos sekolah satu hari. Sudah pasti saat aku masuk kembali akan kena omelan wali kelasku, dan tentunya Katsumi.
Aku yang cukup lelah dengan kejar kejaran tadi, merebahkan badanku di atas kasur yang sudah di sediakan Sakura. Aku masih memikirkan semua yang terjadi hari ini. Hari ini seharusnya berjalan seperti biasa, kenapa malah banyak kejadian aneh yang tidak ku mengerti menimpa ku terus menerus. Kenapa harus aku yang bisa melihat mereka? Andaikan aku tak bisa melihat mereka, sudah pasti aku takkan terlibat hal ini. Huft... Seperti biasa semakin kupikirkan semakin aku di buat bingung. Sudahlah tidur saja, lebih baik pikirkan hal ini besok saja.
***
Pukul tiga pagi aku di bangunkan dengan suara ribut yang sudah pasti di buat oleh mereka ber-empat seperti sebelumnya. Aku hanya mengabaikan suara berisik mereka, mencoba tidur kembali. Dua menit aku mencoba tidur, aku menyerah karena keributan yang mereka buat tak hilang hilang, justru malah semakin berisik. Aku yang tak nyaman dengan suara ribut mereka memilih membuka pintu kamarku, dan mencoba memarahi mereka sedikit.
Namun saat ku buka pintu kamar suara mereka menghilang begitu saja, padahal aku yakin sekali sumber suara itu dari ruang tengah. Ruangan yang sering mereka gunakan untuk berkumpul. Aku kembali menutup pintu kamar, dan kembali ke kasurku. Suara ribut itu kembali lagi, aku mulai kesal karena mereka sepertinya sedang menjahili ku. Ku buka pintu kamarku sekali lagi. Lagi lagi aku tak mendapati mereka berada di sana.
"Maafkan saya tuan, tapi ini perintah terakhir tuan yang harus saya jalankan," entah suara siapa itu, di saat itu pula darahku mengucur banyak sekali, dadaku di tikam dengan sesuatu oleh seseorang yang barusan berbicara kepadaku. Pandanganku mulai tak jelas, kini tubuhku ambruk karena lemas kehabisan banyak darah. Aku mencoba melihat orang tersebut, dan sosok itu adalah dewa kematian yang tadi mengejarku.
"Sepertinya hidupku sampai di sini saja, ujungnya pun aku di bunuh juga di tangan dewa itu. Sama seperti kedua orang tuaku. Semua waktu yang ku pikirkan untuk mencari jalan keluarnya terbuang sia sia," batinku yang sudah tak sanggup berbicara lagi. Pandanganku menjadi gelap seketika.
Di saat itu pula ada ingatan seseorang yang muncul di kepalaku, entah siapa orang itu. Sepertinya orang itu cukup kejam, karena yang ku lihat dia membantai satu desa habis-habisan. Saat dia menoleh, aku mencoba melihat wajahnya dengan seksama, dan wajah itu aku yakin sekali itu adalah wajahku. Bagaimana mungkin aku melakukan hal tersebut, aku yakin itu bukanlah aku. Masih dengan kebingungan, kini ingatan lain muncul lagi. Kali ini orang itu membakar sebuah panti asuhan yang cukup banyak menampung anak anak, dan wajahnya memang wajahku. Masih tidak percaya, ingantan lainnya muncul, dan perbuatannya kali ini benar benar membuatku geram. Kini aku tahu siapa yang membunuh kedua orang tuaku dulu ternyata bukanlah dewa kematian mereka, dan orang itu adalah aku. Tidak tidak, aku yakin orang itu bukanlah aku. Ku mohon siapapun hilangkan ingatan yang muncul di kepalaku ini.
"Shahiro! Shahiro! Oi, kau tak apa apa kan?" suara Tanaka membuatku sadar dari semua itu.
"Hei, Shahiro kau tak apa apa? Kenapa kau menangis? Apa barusan kau bermimpi buruk? Hei, jawab aku jangan hanya diam saja."
Mimpi? Apa maksudnya, barusan aku di tikam seseorang, dan dia tanya apakah aku mimpi buruk? Ini benar benar aneh, saat itu pun aku baru sadar kalau luka tikam barusan sudah bilang. Benar benar hilang ta berbekas.
"Hah... Semuanya makin tak masuk akal, sebenarnya apa yang terjadi?" ucapku dengan air mata yang tak berhenti keluar.
"Hei Yataro! Apa yang kau lakukan barusan?" suara Tanaka terdengar membentak seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamarku.
"Aku tak melakukan apa apa. Aku hanya mengembalikan ingatannya. Karena para penyihir itu sudah mulai bersiap menyerang-"
Bukkk...
Terdengar pukulan Tanaka yang di arahkan ke pria bernama Yataro tersebut.
"Apa-apaan kau ini, memukulku seenaknya?"
"Anggap saja itu balasan karena kah sudah melakukan hal yang sebelumnya tidak kita setujui. Bukankah sudah ku bilang lebih baik kita menunggu dua, tiga tahun lagi!" nada bicara Tanaka mulai tinggi, sepertinya dia sedang kesal dengan apa yang di lakukan pria bernama Yataro itu.
"Dua, tiga tahun lagi, hah? Neraka sudah hancur mungkin saat itu! Kau tahu para penyihir bedebah itu sudah mulai menjalakan rencana mereka, dan kau bilang lebih baik kita menunggu dua, tiga tahun lagi?" pria bernama Yataro itu juga mulai meninggikan nada bicaranya, sepertinya ini akan berlangsung cukup lama.
"Bisa kalian bicara di luar saja, aku masih lelah, dan belum mengerti apa yang sedang terjadi saat ini."
"Ya, tentu saja," jawab Tanaka sambil menarik tangan Yataro.
Aku kembali mencoba tidur, tetapi saat aku memejamkan mata, lagi lagi ingatan itu muncul. Membuatku semakin takut. Akhirnya aku tertidur juga karena terlalu lelah.