Jabang Bayi Juleha
Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, Surimin sudah siap dengan kemeja kumalnya yang dibeli di pasar kota bertahun-tahun lalu. Surimin bilang pada istrinya, Juleha, kali ini ia akan pergi ke tambak ikan milik Pak Darto untuk meminta belas kasih saudagar kaya itu. Meski jauh di dalam hati Juleha meraung-raung menolak usaha suaminya untuk mengemis harta orang, raungan perutnya jauh lebih keras. Maka bungkamlah ia, lantas mengamit tangan suaminya dan mencium punggung tangannya. Lagipula Juleha sadar betul, belas kasihanlah yang menjaganya tetap hidup sejak menikah dengan Surimin delapan tahun lalu.
Apalagi, ada nyawa yang ditiupkan Tuhan bersemayam dalam rahimnya.
Surimin segera pergi meninggalkan rumah kontrakan yang akan segera mereka tinggalkan jika tidak lekas dibayar — seperti nasib rumah-rumah yang telah mereka tempati dan tinggalkan dengan terpaksa sebelumnya. Membayangkan perjalanan yang akan ia tempuh saja membuatnya pening, sebab jaraknya jauh dan matahari sedang asyik memanggang desa tiga bulan terakhir ini. Sudah cukup banyak hutangnya menumpuk karena meminjam uang tetangga, maka ia harus mencari alternatif lain.
Surimin baru menyeret kakinya sejauh satu kilometer, tetapi seluruh tubuhnya sudah ribut memintanya berhenti. Masih ada empat kilometer lagi yang harus ia tempuh. Matahari yang sembari merangkak perlahan ke pucuk langit asyik menonton Surimin yang sempoyongan. Permainannya mengakibatkan pohon-pohon di kanan kiri Surimin mengering, pelepah-pelepah pisang runduk, daun-daun menjadi keriput dan kehilangan kekuatan untuk berpegangan di ranting-ranting. Tanah mengeras dan pecah-pecah, rumput-rumput setengah mati mempertahankan sisa-sisa air di dalam akar mereka. Dua ekor gagak berkoak-koak di atas kepala Surimin, seakan menertawakan nasib malangnya.
Seberkas harapan dalam benak Surimin menjaga kaki-kaki kurusnya tetap melangkah. Demi satu atau dua ekor ikan; atau jika suasana hati Pak Darto sedang baik, ia bisa mendapatkan beberapa lembar uang. Ia tahu ada semacam rasa benci dari Dewi Fortuna kepadanya, jadi ia tidak berharap banyak.
Hal-hal yang berkelebat di kepala Surimin perlahan membunuhnya, tapi juga memberi kekuatan untuk Surimin bangkit. Ia lebih dari paham bahwa ia bukan suami yang bertanggung jawab, dan fakta bahwa ia menyeret Juleha ke dalam kehidupan kelamnya sejak delapan tahun lalu membuat dadanya serasa ditikam tombak panas tiap ia mengingatnya.
Ia menikahi Juleha karena perempuan itu mengeluh terlambat haid. Juleha yang berumur empat belas tahun dirundung rasa panik dan ia terus-terusan mimpi buruk, maka ia mendatangi rumah Surimin dan mengakatakan bahwa ia hamil. Surimin tercengang dan ngeri, tapi ia tidak tega meninggalkan Juleha. Lagipula, pikirnya, jika sudah menikah ia dan Juleha tidak perlu repot-repot bersembunyi di balik kebun singkong di ujung kampung untuk memuaskan nafsu masing-masing.
Juleha terus mendesak dan Surimin sendiri mengamini ide pernikahan yang diminta kekasihnya. Lalu mereka bicara pada keluarga masing-masing dan menikah satu bulan setelahnya. Tapi setelah mereka menikah, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari jabang bayi dalam rahim Juleha. Sampai sembilan bulan setelahnya. Sampai satu tahun setelahnya. Sampai lima tahun setelahnya. Sampai delapan tahun setelahnya.
Barulah hari ini, pasangan suami istri itu cukup dewasa untuk tahu pasti bahwa Juleha memang benar-benar hamil.
Perjalanan di bawah matahari seakan tidak ada habisnya. Kini sang surya telah menggantung tepat di pucuk langit, membagi panasnya ke seluruh desa. Surimin terus berjalan, diiringi suara “krepyak-krepyak” dari rintihan dedaunan kering yang ia injak. Napasnya tersengal, ia berhenti sejenak, terengah-engah menghirup udara. Kemudian ia bergegas melanjutkan langkahnya, mengingat si jabang bayi.
Ah, bayi itu.
Hubungan Surimin dan Juleha tidak begitu baik sejak dua tahun lalu. Mereka bertengkar hampir setiap hari; Surimin memprotes masakan Juleha yang itu-itu saja, dibalas dengan amukan Juleha sebab uang belanja dari Surimin juga segitu-segitu saja. Maka Surimin terdiam, membiarkan Juleha yang tetap mengamuk. Surimin kadang kelepasan mengeluh ketika melihat ikan asin balado di atas nasinya — pemandangan yang sama berbulan-bulan- dan demi mendengar sepercik keluhan dimuntahkan oleh Surimin, tak segan-segan Juleha mengamuk.
Begitu pula di atas ranjang. Surimin payah sekali, tidak sekencang ketika masa pacaran dulu. Surimin cepat lelah, lalu tertidur, meninggalkan Juleha yang manyun dibuatnya.
Maka heranlah Surimin, mendapati pasukan benihnya cukup sehat untuk membuahi Juleha; meski nutrisinya hanya dari cabe, ikan asin, tempe, dan terong. “Aku akan menjaga bayi ini,” pikirnya.
Surimin bisa melihat gapura tanda masuk tambak ikan Pak Darto. Beberapa meter lagi, serunya kepada diri sendiri, dan berakhirlah sejenak perjalanan yang menyiksa ini. Kerongkongannya tandus, terasa seperti pasir menggerus amandelnya. Keringat membelai setiap inchi kulitnya, tidak terlewat sedikitpun.
Ia memasuki melewati gapura dan menapaki jalan kecil itu. Memasuki pekarangan, ia berdiri sejenak, termangu. Kolam-kolam besar berair keruh terbentang. Ikan-ikan menari-nari, membuat gemericik air.
Surimin menghampiri seseorang yang nampak seperti pegawai tambak. Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tipis melintang di bawah hidungnya.
“Bisa saya bertemu Pak Darto?” tanya Surimin pelan, suaranya serak dan nyaris habis. Pegawai itu memandangi Surimin dari ujung kepala sampai kaki. Tahulah ia, bahwa pemuda kumal ini telah menempuh jalan jauh. “Ia baru saja pergi,” Jawabnya. Mata Surimin melebar, ia bisa merasakan seluruh tubuhnya hampir tumbang. Melihat raut wajah Surimin yang putus asa, tumbuh rasa kasihan dari dada pegawai itu. “Desa terdekat dari sini hanya Desa Sonokeling. Apa kau berasal dari sana?” Surimin mengangguk. “Akan kuantar kau pulang.” Sekonyong-konyong laki-laki itu menyambar karung makanan ikannya, berlari menuju gudang, sembari berseru, “Tunggu di gapura!”
Surimin tidak dapat berkata apa-apa atas kebaikan pegawai tambak ikan itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia berjalan menuju gapura. Menunggu sebentar, lalu datang pegawai tadi dengan motor bebeknya. “Naiklah,” Lalu dengan cepat, motor itu melesat menuju desa tempat Surimin tinggal.
Surimin dan segenap tenaganya yang tersisa turun di kaki bukit yang menuju rumahnya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih yang sangat kepada laki-laki itu. Kemudian dengan gontai ia menyeret kakinya naik ke atas bukit, disanalah rumah kontrakkannya berada. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; fakta bahwa perjalanannya sia-sia atau ketidakmampuannya memberi istri dan anaknya makan hari ini. Juleha pasti sudah sangat kelaparan, dan anaknya yang belum lahir pasti menderita. Apa yang harus ia katakan pada Juleha? Tidak tahu. Sungguh, Surimin tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Perjalanan naik ke atas bukit ini terasa lebih lama dari perjalanannya menuju tambak ikan. Jantungnya berdetak cepat seakan mau keluar.
Surimin telah berdiri sekian menit di hadapan pintu rumahnya tanpa ia sadar. Rasanya ia ingin pergi berbalik, menghempaskan dirinya ke bawah bukit. Tapi tidak, ia punya istri dan anak yang membutuhkannya; dan ia paham betul kematiannya tidak akan memberi apa-apa melainkan hutang yang berlimpah ruah kepada Juleha. Maka ia memberanikan meraih gagang pintu.
Sebelum diputarnya gagang pintu, ia menyadari sepasang sandal hitam seukuran kakinya di depan pintu. Ia tidak ingat ia pernah membeli sandal itu. Atau ia membelinya di pasar loak? Ah, persetan, makinya dalam hati. Berhenti bermain-main, Surimin, masuklah segera.
Diputarnya gagang pintu itu perlahan, lalu ia memberanikan diri melangkahkan kaki ke dalamnya. Juleha tidak ada, mungkin sedang tidur di kamar. Surimin lekas melangkah ke kamar, hendak menemui istrinya yang tidur dengan perut kosong. Dibukanya pintu kamar.
Tersentaklah ia, Surimin, si pria kurus pengangguran, atas pemandangan di hadapannya. Lemas lututnya, seakan remuk seluruh tubuhnya.
Tahulah Surimin benih siapa yang tertanam dalam rahim Juleha.
Juleha, dengan tubuh moleknya, tanpa sehelai benang pun, tengah duduk di atas seorang laki-laki bertubuh besar.
Pak Darto.