This story is unavailable.

Membangun Sebuah Rumah

Fiksi
_Rahmat Radjendra

Di Jakarta Selatan, jalan Bangka empat, bulan Oktober saat musim merindukan turun hujan. Dalam rumah bernomor satu dengan warna cat serba putih cerah, kecuali cat warna hitam pekat di pagar besi paling depan. Meski hujan belum juga kunjung tapi di sini air demikian melimpah, sepertimana kontribusi seseorang Ibu kepadamu.
"Waktu jauh berlalu. Hari silih berganti. Maka, hidup terus berubah, dan mengubah kita semua."
Delapan ratus enam puluh meter persegi panjang bangunan rumah tersebut. Itu belum dikalikan dengan 'l' kurang lebih 's' awal dan akhir, siapa saja boleh masuk ke rumah ini. Walaupun pada awalnya setiap pengunjung akan diserang rasa segan dan takut yang lebih dominan. Bukan karena rumahnya yang megah melainkan sebab ada anjing rottweiler yang setia, percaya diri, tenang, berani, mandiri, waspada, protektif, dan diabur serampangan di halaman.
Mobil-mobil tamu dibiarkan telanjang tersirami cahaya matahari pagi kala waktu bergeser siang mengepung tanpa pilih kasih. Berjenis-jenis tumbuhan hias ditanam, diantaranya ada pandan Bali, rumput manila, Adam hawa, kamboja, bambu air, pucuk merah, dan ada juga dua pohon kurma meskipun tidak pernah berbuah. Padahal bunga bakal buahnya sering tumbuh tapi tidak pernah jadi buah. Mungkin bukan tempatnya lain di sini atau itu sekedar ornamental cerita belaka. Tetapi kalau itu dibuatkan nyata dan memang kenyataannya begitu.
Di belakang rumah ini terdapat sebuah kolam renang dengan airnya biru laut yang menawan. Berbagi macam bunga-bunga nan cantik yang tumbuh mengapit di antara tepi-tepi kolam tersebut. Bunga-bunga itu memiliki nama yang cukup asing di telingaku. Misalnya Scorpion Orchid, White Buttercup, atau turnera subulata. "Tanaman ini disebut-sebut juga bunga pukul delapan," ujar Mahader. "Karena bunganya mekar sekitar pukul delapan pagi. Kelopak bunganya berwarna putih dan kuning pada bagian pangkal kelopak." Lain lagi dengan bunga Crape Jasmine, Thunbergia Battiscombei, Amaryllis Variegata, juga ada kemuning micro, bunga matahari mini, Peregrina, Purple Gloxinia, Common Yellow Marigold, anting seranti, mawar merah, mawar jingga, dan lagi seterusnya.
Di atas kolam itu aku sering banyak menghabiskan waktu sambil menulis puisi, fiksi, lagu, naskah drama, teater dan novel sampai jauh malam. Seraya menikmati orkestra air mancur mengalir dari jari-jari patung perempuan dirindangi dedaunan bambu Jepang yang tumbuh sangat lebat. Pada tiap tengah-tengah tanaman hias itu ada lampu taman diletakan selama dua puluh empat jam. Kalau hari sudah akan lalu kegelapan pun datang merentang seolah ingin menerkam patung perempuan tadi. Dari balik daun-daun rimbun itu lampu-lampu berpendar dengan tipikal cahaya yang amat temaram, indah sekali.
"Semua yang tinggal dalam rumah ini hidup tentram, damai, dan tentu saling menghormati dengan satu sama lain. Kesan mereka kesemua penghuni di syurga ini semakin mempertegas keindahan tersebut."
Setiap pukul 12:56 siang hari, mungkin saat waktu anak-anak pulang sekolah. Kebetulan di samping rumah ini, tepatnya di luar sana berdiri sekolah SD dan SMP. Sesekali anak-anak kecil itu selalu ada saja yang iseng membikin bel rumah ini berbunyi satu atau dua kali. Jengkel memang tapi bagaimanapun mereka masih kecil-kecil, jadi orang dewasa dituntut betul memahami dunia mereka. Dalam waktu yang bersamaan terkadang suka ada kiriman paket buku dari beberapa teman yang belum pernah bertemu sampai sekarang.
"Besok akan ada beberapa tamu berkunjung ke sini," kata Riki Rikardho. "Dan kita akan kedatangan seorang wartawan dari salah satu stasiun televisi ternama di Indonesia ini."
"Tamu dari mana, Pak?" tanya Mahader. Orang yang paling di percaya sejak dia bekerja di sini.
Bel berbunyi.
Telpon berdering.
Jam berdenting.
Anjing mendengking.
"Coba kamu lihat kedepan!"
"Paling tukang pos."
"Siapa tau tamu."
"Kalau bukan lo-per koran."
Bel berbunyi lagi.
Telpon berdering-dering.
Jam masih berdenting.
Anjing terus mendengking.
"Cepat kamu lihat kedepan!"
"Nanti dulu, Pak! Kalau bunyi belnya sudah tiga kali."
"Berarti tinggal menunggu bel berbunyi satu kali lagi?"
"Iya, Pak. Semua orang pasti tau itu."
Bel berbunyi lagi kali ini lama sekali.
Telpon terus berdering-dering.
Jam berhenti berdenting.
Anjing tetap mendengking.
"Mahader?" seru Riki Rikardho. "Mengiatkan dia supaya segera melihat sekaligus menyambut yang datang. Tapi belum sempat melangkah, pintu gerbang rumah sudah terdengar digeser ke samping kanan."
"Ada yang masuk," bisik Riki Rikardho pelan-pelan. "Sebaiknya kamu tengok dulu halaman depan, pastikan ada siapa, takut ada apa-apa."
"Soalnya bulan sebelum dan bulan sesudah Oktober kemarin," ungkapnya. "Beberapa pasang sepatu Aldo anak-anak ada yang ngambil."
Mahader menganggukan kepalanya, kemudian bangkit berjalan dengan diselangi lari-lari kecil. Setiba di halaman rumah depan dia tidak menemukan siapa-siapa, selain anjing rottweiler yang masih mendengking sekaligus mengedepan ke mukanya. "Kimie diam kau!" hardik Mahader. "Anjing rottweiler itu seketika diam di bawah kakinya," ajaib sekali. Galak tapi jinak.
Pada suatu pagi, di mana waktu bunga-bunga pukul delapan sedang mekar. Disirami dengan terik matahari yang sudah menyiramkan sinarnya ke halaman, bahkan menerabas masuk ke seluruh isi ruangan rumah. Sejenak Mahader melamun, alam fikirannya meloncat dan melayang-layang di udara, semacamkan kapas dibating-banting angin ke sana kemari. Dalam alam bawah sadarnya dia sengaja menciptakan jalan-jalan terjal berdebu dan berbatu kelabu. Di sisi-sisi jalannya itu banyak pohon-pohon yang gede dan sampai-sampai akarnya menyembul, serupa jeroan manusia terburai keluar. Dahan dan ranting-ranting pohonnya pun mengapai-gapai Bumi, mirip jari-jari korban multilasi. Mengerikan, bila malam dan hujan datang halilintar sambar-menyambar pohon-pohon tersebut. Di situ saat raja dan ratu iblis bersemayam sekaligus bergentayangan melintasi pohon yang sangat mirip sekali dengan monster itu. Sekarang dia sadar.
Anjing mulai mendengking lagi.
"Kimie jangan berisik," bentak Mahader melengos kebelakang.
"Ada siapa?"
"Tidak ada siapa-siapa."
"Apa kamu sudah menginspeksi semua lokasi?"
"Belum, Pak."
"Kenapa?"
"Semua pintu rumah dan kamar sudah dikunci tapi saya lupa menyimpan kuncinya."
"Kok bisa?"
"Saya khilaf, Pak."
"Sekarang juga kamu cari kuncinya sampai kau dapat."
"Aku akan mencari kuncinya," jawab Mahader gemetar. "Aku akan mencari kuncinya."
Sudah seharian lepas ke sana kemari Mahader mencari; Double Cylinder Dekkson, itulah nama kuncin pintu rumah yang dicari tapi hasilnya 'n' dan 'l' "Ya Tuhan, di mana kuncinya?" keluh Mahader. "Kalau kuncinya tidak juga aku temukan, bisa-bisa tamatlah pekerjaan saya di sini." Bel rumah berbunyi lagi satu, dua, tiga kali. Suaranya sangat mengagetkan dia saat dalam kebingungan akibat kunci pintu rumahnya belum juga ditemukan. Tapi, bagaimanapun kondisinya - kewajibannya harus tetap dijalankan dengan profesional, apa pun kerjanya, ingat itu. Akhirnya dia memutuskan menghampiri dulu pintu gerbang lagi.
Tepat di halaman depan, Mahader melongokan kepalanya ke luar gerbang, dan didapatinya sepasang remaja yang mengenakan baju serba hitam. Di tangan kiri ke-dua orang tersebut, masing-masing menenteng plastik berwarna hitam pula. Serta di tangan yang satunya lagi mereka saling menggenggam Hangycam yang senada dengan rupa pakaiannya. "Mungkin mereka itu wartawan," fikir Mahader. Sekarang pintu gerbangnya sudah digeser ke samping kanan. "Apa Riki Rikardho ada di rumah?" tanya salah satu dari kedua tamunya. "Kebetulan dia lagi ada," jawab Mahader. "Boleh kami masuk?" katanya.
"Tentu."
"Mari masuk."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Kedua orang itu belum tahu sama sekali kalau di dalam ada anjing rottweiler tengah berbaring malas di poskonya, Mahader sendiri juga lupa tidak memberitahukan mereka. Sepasang remaja tersebut sudah masuk bersama-sama mengekori orang tangan kanannya Riki Rikardho. "Rumah ini besar sekali," celetuk dari belakang. "Tanaman bunganya cantik-cantik," Iya Mbak tempas Mahader. "Tapi ada yang lebih cantik daripada bunga-bunga itu," sambung suara pria yang mengikutinya. "Barangkali Itulah pemandangan dan tempat pemenjaraan hati kamu," sahut dari perempuannya.
Saat mau melewati posko anjing rottweiler yang protektif itu. Mahader berhenti, dia baru tersadar bahwa ada bahaya yang akan mengintai tamunya. Dan dia teringat lagi atas kunci pintu yang belum diketahui keberadaannya, Mereka berdiam sementara. "Jangan berisik!" pesan Mahader. "Kenapa?" tanya mereka. "Maaf, di depan ada anjing," jawab Mahader. "Anjing? Apa anjingnya galak? tanya tamunya. "Pokoknya jangan berisik," pesan Mahader seraya meletakkan telunjuk di bibirnya. "Apa kami akan baik-baik saja?" tanya tamunya lagi. "Kalau anjingnya menggigit?" katanya. "Bila itu sampai terjadi!" katanya lagi. "Awas, ya?" tambahnya. "Apa?" sahut Mahader. "Anda pasti kami tuntut!" jawab mereka sedikit mengancam. "Silahkan saja." ujar Mahader agak menggerutu. "Dibilang jangan berisik!"
Kini mereka kedua tamu itu sedang melewati posko anjing rottweiler dengan cara mengendap-endap. Si perempuan dipersilahkan paling depan diikuti temannya dari belakangnya dan terakhir disusul oleh si pelupa. "Mahader?" suara Riki Rikardho memanggil-manggil dari halaman belakang. "Siapa dia?" tanya tamunya. "Itu orang yang Anda cari." kata Mahader. "Riki Rikardho," ucap mereka malah balik nanya. "Iya," jawab Mahader singkat. "Mahader," suara Riki Rikardho terdengar lagi. "Biarkan dia jangan dijawab dulu," saran tamunya. "Kalau dijawab sekarang anjingnya pasti terbangun." terangnya. "Mahader," suara Riki Rikardho memanggil lagi. Sudah tiga kali nama si pelupa dipanggil-panggil dan sudah tiga kali pula dia tidak menjawabnya, kurang ajar betul si Mahader sekarang.
"Kemana dia?"
"Apa kuncinya sudah ada?"
"Bagaimana kalau belum ditemukan?"
Ketiga orang itu Mahader dan kedua tamunya sekarang sudah hampir habis melintasi poskonya, tentu sebentar lagi akan tiba atau tepatnya bertemu dengan Riki Rikardho. "Untung saja anjingnya tidak terbangun," ocehan tamunya masih terdengar seaat sampai di halaman belakang. "Itu orang yang Anda cari," kata Mahader seraya menunjukkan tangannya dengan gestur tumbuh sedikit condong ke arahnyanya. "Apa betul dia orangnya?" tanya mereka masih belum nyakin. "Iya dia orangnya," jawab Mahader meyakinkan tamunya. Kemudian mereka dipersilahkan untuk menghampirinya tapi Mahader sendiri buru-buru pergi meninggalkan keduanya. Hari bergerak begitu cepat berlalu awan di langit yang awalnya membiru kini memutih berarakan. Burung-burung gereja yang terbang berselipangan menuju pulang, setelah seharian mengembara demi sang buah hati yang bernyanyi di ambang sarang di atap rumah ini.
"Mahader?"
"Apa?"
"Sini sebentar."
Anjing mendengking.
"Iya, tunggu."
"Cepat."
"Tunggu dulu sebentar."
Bel berbunyi
"Cepat."
"Tunggu sebentar lagi."
"Mahader?"
"Iya?"
Telpon berdering.
"Cepat."
Mahader terlihat dari balik pintu dapur keluar dengan amat sangat hati-hati membawa nampan dari plastik bermotif 'Mega Mendung' di kedua lengannya, dalam posisi menengadah ke langit seperti gadis payung lagi berdoa minta jodoh. Di atas nampan itu ada stoples biji bunga matahari, dan tiga gelas minuman dari kaca dan masing-masing di-isi dengan 'k' dan 's'. "Silahkan diminum!" kata Mahader. "Saya kira kamu bukan sedang mengambil minuman," ucap Riki Rikardho dengan kalimat retorika. "Maaf sudah ngrepotin," basa basi tamunya. "Apa kuncinya sudah ada?" tanya Riki Rikardho. "Belum Pak," jawab Mahader polos. "Coba kamu ingin-ingat lagi disimpan di mana kuncinya?" tanyanya lagi. "Saya benar-benar tidak ingat sama sekali," jawab Mahader dan undur diri untuk mencari lagi kuncinnya. "Cari sampai ketemu," instruksi Riki Rikardho. "Mana hari sebentar lagi gelap."
Menjelang suara adzan maghrib berkumandang kembali mengundang untuk segera menunaikan hak dan kewajiban mahakarya seni yang paling tinggi. "Tau dari mana alamat rumah ini," tanya Riki Rikardho pada tamunya. "Dari internet," jawab mereka pas panggilan Tuhan mulai terdengar bersahutan. Maka tanya-jawab di antara mereka berhenti, suasana jadi hening. Orang-orang Muslim tau betul dan amat sangat takzim untuk etika demikian. Mari aku ilustrasikan tentang itu dengan sebuah hadits berikut. “Hendaklah kamu mendiamkan diri saat adzan, jika tidak Tuhan akan kelukan lidahmu ketika maut menghampirimu.” itu bukan soal sepele anak muda. "Namun bagaimana kau sanggup menghargai sesuatu yang lebih besar, kalau dengan perkara sederhana saja kita tidak mampu," katanya.
"Apa motivasi datang kemari?"
"Kami sungguh tertarik melihat profil rumah ini dalam sebuah situs."
"Ok, lantas?"
tanya Riki Rikardho.
"Kalau tidak keberatan,"
lanjut tamunya agak malu-malu.
"Keberatan apa?"
"Kami mau berfoto-foto dengan latar belakang rumah ini."
"Foto-foto?" tanyanya lagi.
"Iya, itu kalau boleh."
"Boleh, tapi dalam agenda apa?"
"Kami berencana akan membangun sebuah rumah," jawab tamunya sangat serius sekali.
"Kapan dan di mana tempat untuk membangun rumahnya?"
"Di Jakarta Selatan sekitar bulan Desember." jawab mereka.
"Saya turut berdoa."
"Terima kasih sekali, Pak."
"Semoga lancar."
"Aamiin."
"Mulai kapan foto-fotonya?"
"Malam ini."
"Apa tidak bisa besok?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Sekarang-sekarang ini kami akan banyak tugas di luar kota."
"Ohh...,"
"Kalau begitu silahkan siap-siap."
"Baiklah."
"Jika Anda butuh bantuan tinggal minta tolong ke Mahader."
Iya, Pak. Terima kasih banyak sebelumnya."

Jakarta,
10 Desember 2015.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rahmat Rardjendra’s story.