Masa’ Harus Bisa Masak?

Teks oleh Pam. Ilustrasi oleh Maha Fadillah.

Memasak adalah sebuah kegiatan yang selalu erat berkaitan dengan bagaimana mayoritas masyarakat masih menganggap itu adalah sebuah keharusan yang dilakukan sosok berkelamin perempuan. Tapi kenapa harus perempuan saja?

Well, coba kita tengok — tengok sebentar ke contoh juru masak profesional berkelamin pria seperti sosok macho plus bertato, Junior Rorimpandey, atau yang biasa dipanggil Chef Juna, yang secara implisit juga membuktikan bahwa pria, yang sejak dari dahulu kala mendapat wejangan dari keluarga dan lingkungan untuk tidak terjun dalam sesuatu yang berbau “kewanitaan”, malah mendapat keberhasilan melalui karirnya sebagai professional chef.

Nah mungkin ini menjadi sedikit pelega dahaga kita untuk tidak menganggap bahwa cuman perempuan kok yang harus memasak, tetapi juga di dalam hubungan pria-wanita yang sehat, terdapat pengertian yang kuat.

Folks, yang terjadi dewasa ini, dari zaman R.A. Kartini masih gadis sampai minimarket punya Wi-fi gratis, para wanita, yang katanya harus bisa masak, telah menjadi kriteria favorit bagi seorang pria ketika mereka memutuskan untuk menikah.

Dan bagi sebagian pria, “kriteria” adalah pakem utama untuk memilih wanita mana yang kelak menjadi istrinya. Apapun itu kriterianya, baik fisik, skill, atau bahkan sampai genre musik yang mereka tentukan. Nah, biasanya, para pria membuat standar kriteria yang sebagian besar mengambil peran dari pengaruh sosok ibunda mereka. Contohnya, sang ibu cekatan nan rupawan dalam memasak, nah mereka yang ibunya seperti itu biasanya membuat kriteria calon istri yang menyerupai bagian — bagian tertentu dari sosok ibunda para pria.

Bahkan, jika pertanyaan dari sang mertua yang pertama kali adalah ‘Kamu bisa masak tidak?’ terlontarkan, maka kamu sebagai wanita, jika tidak bisa menjawab pertanyaan ini, niscaya kamu akan ditolak secara halus agak sedikit kasar untuk dijadikan menantu, dear.

Tetapi juga untuk kalian, terutama makhluk tuhan bernama pria nan jantan, perlu kalian ingat saudaraku ; bahwa tugas wanita, tidaklah hanya tentang sumur, dapur, dan kasur.

Mereka juga memiliki kewajiban dalam memenuhi hakikatnya sebagai manusia terutama dalam hal aktualisasi diri. Masih ada ruang — ruang gerak yang harus mereka lakukan dengan tujuan untuk memenuhi kepuasan pribadi dalam bekerja atau berkarir.

Saat ini, kaum — kaum hawa sedang menghadapi tuntutan untuk bekerja dan berkeluarga yang dimana kedua tuntutan tersebut harus terpenuhi. Keren kan? The Working Mother Research Institute juga menemukan bahwa mayoritas ibu yang bekerja mengambil keputusan dengan tujuan bahwa keputusan tersebut adalah untuk keluarga (finansial khususnya), dan bukan untuk diri mereka sendiri, dan hal ini untuk membantu meringankan beban yang mereka pikul demi keberlangsungan keluarganya. Sangat altruistik yah para wanita itu?

Folks, balik lagi nih, terus hubungannya sama masak dan memasak itu apa?

Disini, terutama kita sebagai lelaki harus menyadari, kita itu sedang bersama, atau sedang mencari seorang pendamping hidup, bukan sebuah mesin pembantu hidup. Dan sebagai wanita, kita juga harus siap siaga dan waspada, kalau ternyata masalah yang ada tidak hanya ada di kasur, sumur, dan dapur. Tapi juga ada di isi dompet suami yang (mungkin) juga perlu kita bantu subsidi.

Karena dalam hubungan pria — wanita baik yang sudah ataupun belum menikah, adalah menguatkan satu sama lain dengan kekuatan yang dimiliki satu sama lain. Karena kalau mengisi kekurangan satu sama lain, kapan menguatkannya? Yhaaaa juga yhaaa~