#1

Pertemuan dengan sepasang kekasih itu mengusik pikiranku.

Aku merenung, sepulang bertemu dengan mereka. Pikiranku berputar dan teringat tentang kita. Dua kepribadian yang berbeda, yang menurutku seharusnya bersatu. Ya, menurutku kita seharusnya bersatu.
Sampai detik ini, pertanyaan itu tetap mengusik pikiranku :
Kenapa Tuhan tidak memberi jalan untuk kita agar bersatu

Dibalik banyaknya pertanyaan tentang kehidupan, pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang sulit ku jawab dan aku rasa, tidak sampai akalku untuk memikirkannya. Kita kenal sudah lama, mengetahui kepribadian masing masing meskipun belum seluruhnya. Komunikasi kita memang terbilang jarang — bahkan dapat dihitung dengan jari. Namun, kita selalu membahas apa yang terjadi apabila kita berbicara. Semua yang mengusik dan membuat kita bertanya tanya tentang satu dan yang lainnya, selalu masuk ke dalam daftar pertanyaan kita.

Tanpa perlu usaha untuk mencari tahu, untuk kehidupan pribadi pun tanpa sulit kita mendapatkan informasi satu dengan yang lainnya, langsung oleh bibir kita sendiri. Anak terakhir, katamu? kamu sendiri yang tanpa ragu memberitahukan segalanya padaku. Seperti memang keharusan bagimu untukku mengetahui tentang dirimu.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Berbulan bulan perpisahan kita berlalu, tidak ada kesempatan untuk kita dipertemukan. Bertemu denganmu merupakan hal mustahil apabila aku memintanya langsung, maka dari itu aku meminta kepada Tuhan untuk menjadikannya nyata. Iya, setiap hari sebagian doaku adalah agar bertemu denganmu.

Tapi, apalah dayaku ketika Tuhan memilih untuk tidak mengabulkannya?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Kopi Senja’s story.