Siapa Saja Bisa Jadi Reporter Dadakan

Fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak perkembangan gadget dan media digital semakin canggih sekitar tahun 2012. Di tambah lagi sejak Facebook merubah algoritma viralnya. Sebuah postingan apabila dikomen atau di-like akan terus naik ke atas pada timeline. Membuat sebuah berita yang diposting pada Facebook akan cepat sekali tersebar secara viral.


Sekarang hampir semua orang memiliki smartphone yang dilengkapi dengan kamera yang bagus, koneksi internet yang cepat dan berbagai aplikasi sosial media yang terinstal. Dengan mudah setiap orang dapat mengambil gambar setiap fenomena yang terjadi di lapangan dan menginformasikan dengan cepat ke seluruh dunia.

Fenomena ini dimanfaatkan oleh NET TV untuk membuat sebuah program yang bernama NET Citizen Journalist (http://netcj.co.id/), setiap orang dapat menjadi jurnalis — reporter hanya dengan bermodal gadget, mengambil data di lapangan, tulis berita, lalu kirim ke NET TV. NET TV akan memBroadcast berita tersebut ke seluruh Indonesia.

Program yang dilakukan oleh NET TV ini melalui tahap kurator untuk memilah-milah berita mana yang layak dan mana yang tidak layak untuk dipublikasikan. Tapi bagaimana dengan berita yang berterbaran di Blog atau Facebook ? Sama sekali tidak ada kuratornya !!

Untuk itu kita harus menjadi netizen yang cerdas. Mampu menjadi kurator untuk diri sendiri, mampu memilah-milah mana berita yang layak dan mana yang tidak layak untuk di konsumsi.

Tapi tidak bisa disangkal, banyak juga dampak positif dari fenomena reporter dadakan ini. Contoh, waktu itu saya melihat dari update foto yang direpost akun @infodenpasar di Instagram. Saat itu terjadi kerusuhan antar ormas di jalan Tengku Umar — Denpasar. Karena informasi tersebut, saya langsung ber putar balik arah untuk tidak melewati jalan tersebut.

Ada lagi, baru-baru ini ada seorang reporter dadakan. Dia memfoto oknum yang membuang sampah sembarang dan menguploadnya di facebook. Oknum tersebut berasal dari sebuah perusahaan minimarket di Bali.

Postingan ini menjadi viral dan mampu menjadi teguran untuk perusahaan tersebut. Tentunya ini membuat nama perusahaan tersebut jadi menjadi buruk.

Karena mendapat teguran dari masyarakat sosial media, akhirnya oknum tersebut bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Ada lagi, dimusim liburan seperti ini kemacetan Jakarta seolah pindah ke Bali. Tapi kemacetan itu tidak merata di seluruh Bali. Hanya pada titik tertentu saja. Nah postingan hasil Reportase dadakan seorang teman saya di Facebook ini cukup membantu saya untuk menghindari jalan tersebut.

Dan masih banyak lagi dampak positif yang dapat terjadi karena fenomena reporter dadakan ini, tapi banyak juga dampak negatifnya apabila sudah menyinggung soal SARA.

Saat ini setiap orang bebas mengajukan protes dengan menjadi reporter dan jurnalis dadakan. Jadi kita juga harus berhati-hati dalam berprilaku di masyarakat, karena di sekeliling kita banyak reporter dadakan yang tidak kita sadari. Layaknya seperti kita sedang dipantau 24 jam oleh kamera CCTV yang siap onair ke seluruh dunia. Contoh saja postingan dibawah ini adalah bentuk protes bebas masyarakat di era digital ini.

Silahkan saja menjadi reporter dadakan. Tapi jadilah reporter yang cerdas dam mampu menyajikan berita yang membuat dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.

Jangan sekali-sekali membuat berita yang memecah belah persatu. Cuma itu pesan saya buat para netizen di Indonesia. :)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Korniawan Prabowo’s story.