Jadi, Twitternya Udahan Nih?

Beberapa bulan ini, yang saya rasakan memang seperti itu. Kalau dihitung-hitung, saya sudah jarang sekali merasakan interaksi seru di Twitter. Kebanyakan interaksi di Twitter pun terjadi dengan orang-orang yang memang saya kenal di Twitter, bukan yang secara fisik sering ketemu dan bertukar pikiran. Lebih lanjut lagi, rasanya sudah jarang ada twit yang menghasilkan respon seru. Rasanya seperti saya punya corong megaphone terus saya teriak-teriak sendirian saja di gua. Di sebelah saya, ada lagi orang melakukan kegiatan serupa, jadinya ya tidak ada interaksi. Hmm.

Akhirnya, belakangan ini saya fungsikan saja Twitter sebagai sumber berita yang berkarakter. Artinya, saya ikuti saja akun-akun yang berpotensi memberikan berita seputar sepakbola, game serta opini-opini nyeleneh dari programmer-programmer handal. Lumayan untuk bahan berita yang berarti bagi saya. Interaksi sosial kemudian dipindahkan ke Facebook (yang sejujurnya mengagetkan, karena hampir setahun lalu saya mau menutup akun, tapi ujug-ujug jadi ramai lagi), serta grup WhatsApp/LINE. Path? Entah kenapa, saya malas sekali membuka aplikasi ini. Mungkin karena tidak terbiasa dari dulu ya.

Di 2 smartphone yang saya gunakan, hanya ada aplikasi Twitter di salah satunya. Itu pun jarang dibuka. Paling sering saya ber-Twitter-ria ya di browser. Ada yang kurang? Ya tidak. Mungkin bagi saya, era mainan Twitter sudah segini saja. Toh juga tidak perlu setiap waktu membaca berita ya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.