
Ada lumba-lumba yang terbang mengudara ketika aku tengah duduk dalam sebuah ruangan gelap kedap suara. Di sana aku terdiam, tidak tersenyum, tidak tertawa, atau bahkan terkagum. Semuanya tampak menyenangkan bagi orang lain, tapi tidak untukku yang seribu tahun sudah dihinggapi kesunyian.
Sampai aku harus menengok ke belakang, mendapati seseorang mengetuk pintu kaca. Tolong jangan kau ketuk pintunya, percumah saja aku tidak dapat mendengarnya, aku hanya bisa mengintip celah yang memerlihatkan dunia luar yang tidak pernah ku jelajahi.
Orang tadi melambaikan tangannya, menyapa dan tersenyum sejenak. Dibukanya pintu itu sehingga udara segar dapat masuk dan menghapus sedikit demi sedikit kabut tebal dalam ruanganku.
"Mau mewakali untuk melihat dunia luar?"
Aku masih duduk di dalam, menyaksikan lumba-lumba yang terus menari tanpa henti. Sesekali ku tengokkan kepala kepada orang di luar sana, dia mengulurkan tangannya, berharap aku dapat meraihnya dalam jarak yang tak bisa ku sebut sebagai dekat.
Tiga ratus menit ia habiskan untuk terus mengulurkan tangannya, apa tidak pegal? Pikirku sembari beranjak menuju pintu keluar.
Dikenakannya pakaian serba putih, aku seperti sedang berjalan dengan seorang malaikat yang tidak ku ketahui tugasnya. Apakah dia akan menjemputku?
"Aku ingin meminjam matamu."
Ketika aku ingin menggeleng lalu berlari, dia justru melepaskan ikatan tangan kami, membawaku pada sebuah bukit di mana aku bisa menyaksikan lumba-lumba lainnya dalam tempat yang lebih terang.
Sehingga kini senyum dan tawa hadir tak terkira.
Semua itu berlangsung selama puluhan tahun, hingga orang tersebut tak lagi mampu berjalan jauh naik ke atas bukit, terlebih saat ku ketahui bahwa ternyata ia tak dapat menikmati warna-warni dunia sehingga mataku menjadi satu-satunya hal yang dipinjamnya.
Pada malam-malam tertentu, aku akan duduk di sebelahnya, membalut tubuh dengan selimut tebal. Sementara dia duduk di kursi goyang dengan rambut-rambut putih tertiup udara di sore hari.
Diceritakannya seorang pedagang yang harus menempuh jalan panjang untuk mendapatkan sepeser uang. Ketika pedagang itu kelelahan dan tidak ada lagi tenaga tersisa, dia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon dan tidur sebentar. Tanpa disangka, sekawanan kera turun dan mengambil dagangannya.
"Nanti, kamu yang akan bercerita seperti itu." Aku mengukir pesannya. Sebuah pesan singkat dimana orang tersebut memintaku untuk menceritakan ulang kisah pedagang dengan sekawanan kera kepada orang lain yang mungkin nantinya duduk di posisiku pada kemudian hari.
Aku berdiri, meraih kupu-kupu yang hinggap pada dedaunan, "memangnya kenapa?"
Orang itu, pria tua dengan tubuh tinggi besar yang pernah membawaku keluar dari ruangan tak bercahaya hingga mengajakku naik ke atas bukit, kini hanya bisa duduk tenang dan mencoba mengatur nafasnya pelan-pelan.
"Karena aku juga harus terbang."
Aku memang suka menangis,
tapi tidak untuk jari yang teriris.
Aku memang suka mengadu,
tapi tidak ketika mataku terkena debu.
Aku memang suka membantah,
tapi tidak soal hati yang patah.Aku akan menumpahkan itu semua,
untuk seseorang yang sudah mengobati luka,
yang selama ini hinggap di dalam dada serta jiwa.
Aku akan menumpahkan itu semua,
untuk takdir yang tidak memberiku waktu lebih lama,
sehingga aku dapat mengulang kebahagiaan sekali saja.
