“Dia, sosok tangguh dalam hidupmu” #Part1

Sebelum kumulai cerita ini, izinkanku untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku adalah mahasiswa SI ITS 2014 atau biasa disebut dengan Osiris yang memiliki NRP 013. Siapakah aku? dengan effort yang tidak besar, aku yakin kau bisa mengetahuinya. Aku tak akan menuliskan nama siapapun pada cerita yang akan kubuat, bukan karena ku takut, namun anggap saja sebagai caraku menghargai privasi orang lain. Sebagai gantinya, izinkan aku memberikan setiap inisial untuk setiap identitas yang (mungkin) nantinya akan terlibat dalam penulisan ceritaku.

$H = aku;
$A = partner KP ku dengan NRP 156;
$F = Osiris NRP 147;
$O = Tempat KP ku;
$E = CEO / Founder tempat KP ku;
$Z = CMO / Co-Founder tempat KP ku;
$B = Teman KP ku, anak PENS 2014;
$S = Teman KP ku, anak UNAIR 2014;
$R = Teman KP ku, anak TC 2015;

Prologue
Apa yang ada dalam benak kalian ketika mendengar kata Kerja Praktik? Cerita ini berawal di bulan Mei tahun 2017. Ketika diriku dan $A, teman KP ku dinyatakan ditolak oleh salah satu perusahaan yang menyuguhkan informasi dalam bentuk tulisan untuk dibaca setiap harinya. Tahukah kamu? Mendapatkan tempat KP bukanlah hal yang mudah, itulah yang kami rasakan. Setelah mengirim proposal di bulan Februari dan kami follow-up hingga bulan April, dan juga bolak balik ke tempat perusahaan tersebut, akhirnya kami disuruh mengirim ulang proposal yang kami kirim 2 bulan lalu itu. Kami lakukan follow-up lebih intens, sampai kami dapatkan pemberitahuan pada tanggal 5 Mei 2017, bahwa kami diminta untuk menemui seseorang dari bagian IT di perusahaan tersebut esok harinya. Senang rasanya, akhirnya pengajuan kami ditanggapi . . . 
Keesokan harinya, kami mempersiapkan diri sebaik mungkin dan menuju ketempat perusahaan tersebut sesuai dengan pemberitahuan untuk menemui bagian IT pada jam 11 Siang. Kami datang lebih awal, memberitahu resepsionis keperluan kami, dan diarahkan untuk menunggu orang yang akan kami temui. Orang itupun datang, membawa botol minum, mengajak kami duduk bertiga dan aku pun memperkenalkan diri dan temanku, begitu pula dirinya. Aku masih ingat hal yang dilakukannya saat itu, dia meminum air dari botol dan dibawanya, mengatur posisi duduknya, dan memandang kami sembari berucap

“Jadi begini . . .” dia berhenti sejenak dan berpikir, lalu melanjutkan kalimatnya “to the point saja ya, mohon maaf kalian tidak diterima magang, karena anak yang magang disini sudah penuh sampai akhir tahun”.

Kami terdiam sebentar, beruntung aku bukan tipe orang yang melankolis sehingga selang beberapa saat aku menjawab kalimat yang dikatakannya. Tanpa ekspresi kecewa, dengan profesionalisme yang kumiliki, kujelaskan padanya bahwa sebagai bentuk penolakan perusahaan, aku meminta tolong agar dibuatkan semacam surat penolakan dari perusahaan sebagai bukti bahwa kami telah ditolak perusahaan tersebut. Hal itu sebagai syarat untuk mendapatkan formulir pengajuan KP lagi, syarat yang diberlakukan oleh jurusan agar tidak bercabang dalam melakukan pengajuan KP. Dia menyanggupinya dan berkata bahwa surat penolakan tersebut nantinya akan dikirim via email. Dengan begitu berakhir sudah pertemuan kami dengannya, kami memohon izin dan keluar dari gedung membawa rasa kecewa, sedih, dan bingung.

Kebimbangan
Sepulang penolakan tersebut, kami memutuskan untuk singgah dirumah $A terlebih dahulu. Dikamarnya, kami berdua bingung, merasakan kebuntuan atas penolakan yang dilakukan. Bagaimana tidak? 2 bulan kami sia-siakan, menunggu balasan dari apa yang kami kirimkan, setiap minggu setelah 1 bulan berlalu, tiap minggu kami pergi ke perusahaan, hanya untuk mendapatkan pemberitahuan dari resepsionis bahwa HRD sedang diluar kota, sampai diberi nomor telepon, itupun masih dilempar sana-sini. Kami anggap itu suatu pengalaman, mencoba menghibur diri. Kami coba mencari lowongan internship dari website-website yang kami temukan di google, sangat sedikit sekali yang kami bisa dapatkan, mungkin karena kami sendiri yang membatasi untuk mencari tempat KP di Surabaya, agar tidak repot ngurus sandang/pangan/papan(read:nyari kosan, mikir transport, nyari makan). Akhirnya kami putuskan untuk pending dan memikirkannya, karena kebetulan ada tugas yang deadline nya senin juga sehingga harus dikerjakan terlebih dahulu.
Selasa, 9 Mei 2017. Aku menuju ke rumah $A bersama salah satu teman kontrakanku. Disana kami berencana untuk kembali ke perusahaan yang menolakku, meminta kejelasan penolakan yang sampai hari itu belum dikirim oleh pihak perusahaan. Seperti dugaan kami, lagi-lagi kami dihadapkan dengan kenyataan bahwa tidak ada yang bisa kami temui saat itu, dan meminta tolong kepada resepsionis untuk mengingatkan bagian HRD ataupun IT perihal surat penolakan perusahaan. Kami pulang kerumah $A tanpa hasil. Hari itu kami lanjutkan dengan mengerjakan tugas Final Project salah satu mata kuliah yang kebetulan memang kelompoknya berisi aku, $A, dan teman kontrakanku yang kuajak kesana. 
Beruntung, entah mengapa, aku mengingat bahwa aku masih memiliki nomor yang menghubungiku, yang memberitahukanku untuk menemui bagian IT waktu itu. Kucoba mengirim pesan WA ke nomor tersebut, memberitahukan permintaanku untuk mengirimkan surat penolakan dari perusahaan, kuberitahu bahwa tidak apa-apa apabila pemberitahuannya lewat balasan pesan WA. Selang dua hari dari pesan WA yang kukirim, orang tersebut membalas pesan WA ku mengirimkan pemberitahuan penolakan perusahaan dalam bentuk pesan yang mengakhiri cerita penolakan pengajuan Kerja Praktik yang kulakukan, menyisakan kegundahan kemana ku harus mencoba mengajukan Kerja Praktik selanjutnya.

Harapan
Minggu perkuliahan telah memasuki minggu ke-14, kami berdua masih belum mengajukan Kerja Praktik ke tempat lain. Masing-masing masih sibuk dengan tugas kuliahnya sembari mencari informasi tempat KP yang sekiranya pas untuk kami daftarkan, karena pertimbangan satu perusahaan dalam satu waktu, tidak boleh mendaftar ke beberapa perusahaan langsung. Senin sore itu, tiba-tiba ada informasi penerimaan magang di $O yang disebarkan ke grup angkatan oleh anak $F. Langsung saja aku PM $A, mengirimkan broadcast dan gambar yang dishare tersebut. Singkat cerita beginilah percakapan yang kami lakukan :

$H : *Broadcast + Picture Sent*
$A : Nang ndi kuwi? Dal tok ayoooo, kene wes buntu wkwk
$H : wkwk, ndak eroh, PM $F jajal
$A : okeee

langsung saja $A bertanya kepada $F mengenai kejelasan informasi tersebut. $F menjelaskan secara umum kepada $A tentang informasi tempat KP yang dishare olehnya, dia menyarankan untuk menghubungi CP yang ada pada broadcast tersebut. Aku meminta agar $A lah yang menghubungi CP tersebut . . . beruntungnya, persyaratan yang diminta oleh $O tidaklah rumit, kita hanya cukup mengirimkan CV dan juga Scan KTM melalui email, tidak harus melalui surat permohonan dari jurusan.
Kamis, 18 Mei 2017. Sore hari itu aku selesaikan berkas pendaftaran yang diperlukan (sebenarnya tinggal comot dari proposal kemarin yang ditolak kemarin sih, ehe). Aku kirimkan email ke $O, dengan isi email yang juga copased(Copy, Paste, Edit) dari email yang kukirim ke perusahaan sebelumnya. Hari berikutnya, kami telah mendapat email balasan yang memberitahukan bahwa berkas yang kami kirim telah diterima dan akan masuk dalam proses seleksi(Cepat juga, seperti yang dijanjikan pada chatnya dengan $A bahwa maksimal akan direspon dalam waktu 24 Jam).
Selasa, 23 Mei 2017. Aku mendapatkan email dari $O, isi dari email tersebut adalah :

Assalamualaikum saudara $H
Selamat saudara, lolos seleksi tahap 2 untuk wawancara, 
selanjutnya saudara akan dihubungi oleh kepala Marketing kami ($Z)

langsung saja aku membalas email tersebut dan mengucapkan terima kasih dan bertanya perihal wawancara yang akan dilakukan, dan dibalas bahwa nanti akan diinfokan oleh $Z untuk detail wawancara yang akan dilakukan. Kuberitahukan pada $A bahwa kami lolos untuk tahap wawancara, aku minta dia untuk mempersiapkan diri sembari menunggu informasi lebih lanjut.
Pada tanggal itu juga, aku mendapatkan pesan WA dari $Z yang berisi :

Assalamuallaikum
Selamat sore $H
Saya $Z — $O
Saya berencana untuk melakukan interview kepada mas $H.
Hari kamis minggu ini apakah bisa ?

kebetulan kamis itu memang kalender berwarna merah, kulupa libur apa itu, yang jelas langsung saja kubalas pesan $Z (I’m fast respond dude, remember that) bahwa kami menyanggupi dengan menanyakan waktu(jam), tempat, dan apa saja yang harus kami persiapkan dalam wawancara tersebut. $Z meminta kami untuk mempelajari hal berkaitan dengan $O dari berbagai sumber. Aku screen capture dan kukirimkan chatku dengan $Z kepada $A. “Dal” balasnya. Mengingat minggu telah memasuki minggu-15 perkuliahan, harapan segera diterimanya kami dalam Kerja Praktik semakin tinggi rasanya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.