Puisi- puisi untuk Enggan

PELAKON

Seperti daun di balik daun yang lain, engkau menahan dengan baik, bersembunyi dengan berani.

berjalan di tengah- tengah ketidakmapuanmu menyelami hatimu sendiri, kadang kau yakini keberanianmu, tak jarang kau dustakan kerapuhanmu engkau bermain di lingkaran air yang berputar dengan cepat. meyakini engkau mampu kembali muncul ke permukaan tanpa terhuyung.

apa yang sedang kau lakukan?

terselip jauh di suatu tempat di dalam hatimu. benarkah seperti ini? baiknya? harusnya?

memainkan hatimu dengan buruk tanpa pernah kalah

NYARING

Kepada duniaku, aku malu. Mereka bertanya tentang apa yang kulakukan, dan aku menjawab, “sedang kurapikan bekal makanan ke seribu kalinya untuk lelaki di matanya ratusan ilalang tumbuh menuakannya namun tak sedetikpun ia mampu memilih.”

kepada duniaku, aku malu. Mereka menanyakan tentang gundukan tanah kering tempat airmataku jatuh, dan aku menjawab, “aku sedang menunggui kuncup bunga musim semi yang telah kusemai di musim gugur bermusim- musim yang lalu.”

kepada duniaku, lelaki di setiap puisiku, aku malu. Mereka menanyakan kewarasanku berdiri diatas kaki yang berdarah, namun aku menjawab, “ Aku, perempuan di ujung upayanya sedang menantikannya mengeja namaku dalam diam yang kudengar, menggema namaku dalam bisikan yang nyaring.

Nyaring membangunkanku, lalu aku bersiap untuk pergi.

**

UJUNG

Akan ku buru sepi, sesaat kau meninggalkan matahari di belakangmu yang kian berdarah.

Mungkin aku akan menangis dalam sedu, melihat cakrawala meludahiku sesaat aku menengadah

Aku…

Sungguh sebentar saja seakan selamanya. Kau dengar?

Ya, yang baru saja kau dengar,

Suara angin yang membawa debu yang kasar, pelan menyakitimu, merusak pori ketulusan cintamu

Dan aku, sungguh. Mati seakan telah mengakhiri hidup selamanya.