Persma Mencuci Otak Calon Kerabat pada Pertemuan Pertama
Calon kerabat adalah sebutan calon anggota Pers Mahasiswa — salah satu unit jurnalistik di ITB —yang tengah melakukan rangkaian kaderisasi yaitu OSJUR atau Orientasi & Studi Jurnalistik. Penyambutan sekaligus pembukaan hari pertama OSJUR Sabtu 1 September 2018 dilakukan dengan sederhana namun hangat.
Setiap rangkaian OSJUR dilalui oleh cakra dari mulai pengetahuan umum tentang berita, internalisasi, wawasan KM ITB, dan dasar-dasar jurnalistik. Lalu tiba di penghujung acara, sebuah forum yang mendiskusikan tentang fenomena pers zaman sekarang. Pembicara membawa diskusi dari mulai pengertian jurnalisme secara mendasar yaitu membuat catatan untuk dipublikasikan.
Pembicara menyebutkan bahwa terdapat perbedaan antara pers zaman sekarang dan zaman dulu. Hal tersebut dapat ditinjau dari kemampuan seseorang untuk menjadi jurnalis. Dulu, jurnalis adalah profesi yang eksklusif dan dalam hal pekerjaan jurnalis sangat mendalami tentang hal terkait yang mereka geluti. Selain itu, pada zaman dulu akses untuk membaca karya hasil jurnalis masih terbatas misalnya surat kabar. Hal ini menunjukkan tipe pers one way atau pembaca tidak dapat secara langsung berkomentar terhadap hal yg dibawakan oleh penulis. Berbeda dengan pers zaman sekarang. Setiap orang dapat menulis atau menjadi jurnalis. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh dari kemajuan teknologi misalnya setiap orang bebas menulis di blog. Biasanya informasi yang disampaikan oleh pers zaman sekarang hanya sekedar menggantung di permukaan saja dalam artian tidak sedalam pers pada zaman dulu. Keadaan orang yang cenderung menyukai hal yang instan membuat beberapa berita hanya membahas hal mendasarnya saja. Orang-orang yang dewasa ini difasilitasi kemudahan mengakses informasi sebagian besar hanya melihat permukaan dari suatu informasi. Di sisi lain, pembaca dimanja juga dengan diberikan kesempatan melampirkan komentar pada sebagian karya hasil jurnalis (two way).
Setelah memaparkan hal tersebut di atas, pembicara mengajak cakra untuk melakukan diskusi dalam kelompok tentang bagaimana pendapat dan solusi yang bisa ditawarkan menimbang keadaan pers zaman sekarang. Pada sesi ini setiap cakra dipaksa untuk berpikir dan mengkritisi keadaan pers. Banyak sekali pandangan misalnya terkait pers sekarang yang kenetrelannya sudah mulai dapat diragukan atau pers yang memihak hingga membahas perilaku pembaca yang lebih senang membaca sesuatu hiburan daripada pendidikan. Dari hasil diskusi ini, cakra seolah digiring untuk beranggapan bahwa pers zaman sekarang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Seperti pertanyaan di penghujung momen kegiatan yaitu: apakah jurnalistik mesti dibuat eksklusif lagi tapi hilang tipe two way? Tapi sebenarnya perlukah two way itu?