Kenapa Saya Kadang Suka Malas Bantu Orang.

Sedikit curhat karena sebal sama tingkah satu orang.

Krishna Kastubi
Jul 27, 2017 · 2 min read

Beberapa waktu yg lalu, seorang kawan sedang ada proyek karya. Lalu secara kebetulan, Saya menemukan di internet, sebuah ilmu/teknik "aneh" yang saya rasa cocok dan bisa memberikan "feel" unik di proyeknya kawan saya itu. Saya riset sedikit dan coba jabarkan ke dia.

Tanggapan dia dikala itu, teknik itu tidak mungkin dilakukan, susah, ribet, dan malah merusak konsep dia.

Perlu diketahui, dia menanggapi seperti itu sebelum mencoba implementasi di proyek dia secara langsung. Dia hanya mendengar penjabaran teknis/teori dari saya, dan sialnya, karena skillset/style saya tidak 100% sama dengan dia, saya tidak bisa memberikan "example yang layak". Hanya referensi dan teori saja jadinya.

Yasudah, saya sih tidak kesal atau gimana ditanggapi macam gitu, toh dia terlihat sudah mantap sama konsepnya.


Fast-forward beberapa waktu,

Ada seorang terkenal (sebut saja MisterX). MisterX ini adalah "hero/panutan" dari kawan saya dan skillset/style mereka pun hampir 100% sama.

MisterX ini mengerjakan suatu karya megah yang —wait for itmenggunakan teknik aneh yang tidak sengaja saya temukan itu!! Sesuai dengan tujuan dan "fungsi" dari teknik itu! As intended. Persis! Dan hasil akhirnya luar biasa bagus!

Saya (excited) langsung kontak kawan saya dan menanyakan apakah dia sudah melihat karyanya MisterX. Dia jawab, "sudah".

Dan dia lanjut bercerita panjang lebar kekaguman dia akan hasil akhir karya MisterX. Keluar tuh nyerocos semua omongan konsep, makna, filosofi ngalor-ngidul.

Saya belum sempat mengarahkan topik ke "Teknik aneh" ketika dia tiba-tiba bilang bakal tiru tekniknya MisterX buat proyek dia (yang adalah "teknik aneh" yang dimaksud), soalnya menurut dia, teknik yang dipakai MisterX cocok, sesuai dengan konsep yang dia inginkan. "Sempurna, terimakasih MisterX," kata dia (sambil pakai emoji sujud syukur).

Saya terkejut, “Lah lah, khan gw sudah cerita kemarinan tentang 'teknik aneh' itu, gimana sih?” seru saya. Dia terdiam beberapa saat... Typing... diam... Typing... diam...

Lalu, omongan dia mengejutkan saya lagi. Menurut dia, "teknik aneh" yang saya jabarkan ke dia BERBEDA dengan yang dipakai MisterX. Dia melanjutkan dengan omongan konsep filosofi ngalor-ngidul, defensive...

Saya diamkan saja. Karena saya yakin 100% teknik yang dipakai sama MisterX persis sama dengan teknik yang saya maksud. Jelas "presentation" MisterX beda jauh dengan cara penjabaran saya. Sudah pasti dia akan membela panutannya. Yasudahlah...

Eeeh ndelalah... Karena saya orangnya senang riset (gak ada kerjaan), saya menemukan sebuah artikel yang ditulis oleh sebuah news outlet luar negeri (lumayan) terkenal yang me-review karya dan Interview MisterX... Dan MisterX sendiri bilang kalau dia pakai "Teknik Aneh" yang itu.

Saya langsung share artikel itu ke teman saya. Lalu saya diamkan. Belum ada balasan apa-apa dari dia.

Dan itulah alasannya kenapa saya kadang suka malas bantu orang.


Silakan berspekulasi atau mengait-ngaitkan ke segala hal. Saya tidak mengungkap detil-detil pentingnya untuk menjaga indentitas dan konteks yang terkait secara spesifik.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade