Ksatria & Langitnya

Khoirul Umam
Nov 4 · 3 min read

Siapa yang bertanya tentang suatu masa?
Ialah Sang Pencari Tanda yang mengarungi lautan karsa
Di antara jelaga tawa ia temukan sebuah tanda
yang sudah lama tak ia jumpa,
namun ternyata masih juga menyisakan banyak tanya

Siapa yang dibisikkan desisan hati?
Ialah Sang Penggores Tinta yang tengah melukis mimpi
Di antara puing-puing relung ironi
dan benteng yang ia bangun tinggi-tinggi,
seseorang tengah mendobrak pintunya tanpa henti

“Kepada engkau yang berdiam di balik benteng tinggi ini,
sudikah kiranya engkau membiarkanku masuk
dan biar kubacakan sabda Sang Raja
tentang sebentuk rasa yang hadir dalam singkapan takdir?”

“Kepada engkau yang telah lama berdiri di luar sana,
setelah jutaan detak dari detik mengalir menuju akhir
mengapa baru kini engkau singkap kabut tabir?
Adakah engkau singgah untuk menjadi sungguh?
Atau sekadar hilang arah untuk nanti kembali luruh?”

“Tiada yang tahu bagaimana kuasa Sang Waktu
Yang aku tahu tanyaku menggapai hilir di garis senyum matamu
Tak satu jua yang bisa menunjukkan arah kemana akhirnya kaki menumpu
Namun kutekadkan langkahku berhenti dalam percayamu.

Apakah engkau ragu?”

“Entah, aku tak tahu…”

Angin laut berhembus dan menggiring awan dalam keharibaan sebuah kenangan
Di antara bunga-bunga penuh warna, tanyanya kembali bersuara

“Apa kabar kita yang selalu bercanda,
hingga tak dapat bedakan ceria dan cinta?”

“Apa kabar kita yang terus menghalau detak,
setiap kali semesta membawa kita mendekat?”

“Bagaimana dengan jarak?”

“Jarak hanyalah satuan pemisah ruang,
yang tak kan mampu memisah rasa sayang”

“Bagaimana dengan waktu?”

“Ia penghamba rangkaian sendu,
namun setia menuliskan rindu”

“Kemana engkau ‘kan mengalir?”

“Ke sudut do’a bergulir,
dimana kau memeluk setia Sang Akhir”

“Apa yang engkau harapkan?”

“Kau mewujud masa depan yang ku nantikan,
juga mewujud jawaban atas segala pertanyaan”

“Apa yang engkau nanti?”

“Saat kita tak hanya menjadi sepasang janji,
namun sepasang pasti”

“Lalu bagaimana dengan perasaan
yang masih saja menanyakan kemana ia bertuan?”

“Biarlah perasaan tetap menjadi ranah Tuhan
Kita hanya perlu sama-sama berjuang
dalam cakrawala keteduhan”

“Dan bagaimana jika nyata tak sesuai pinta?”

“Maka tak ada yang sia-sia
Biar ia menjelma sebuah bijaksana”

Benteng pertahanan masih berdiri tak terpatahkan
Pun pada tekad Sang Pejuang

“Pada pintu-pintu yang aku tutup”
“Pada pintu-pintu yang aku ketuk”

“Pada jendela yang tirainya aku tahan”
“Pada cahaya yang aku sisipkan pelan-pelan”

“Untuk apa?”
“Untuk sekadar berbagi cerita di hari-hari tanpa jeda”

Ia masih di luar sana,
mengetuk pintu yang sama
juga bersabar atas segala kabar

Ia pun masih di dalam,
menimang derai-derai kelam
bertahan untuk sebuah angan

Inilah kisah seorang Ksatria
dan juga Langitnya…

(4 November 2019)

Ksatria & Langitnya
    Khoirul Umam

    Written by

    Ruang rasa Sang Ksatria

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade