Surat Pertama
untuk saya, menulis surat kepada seseorang adalah suatu yang asing di hari-hari saya. Terlebih kepadamu. Benar jika keengganan saya menulis surat adalah isyarat bahwa saya bukan seorang romantis, tapi lebih dari itu sebenarnya saya memiliki keterbatasan dalam mengungangkapkan sesuatu melalui tulisan. Meski di saat sama, di suatu malam dengan kelembaban persis sama dengan yang diderita matamu, tulisan pulalah yang menyelamatkan saya dari kata-kata terlanjur berantakan yang belum sempat saya ucapkan. Di depan matamu.
Dan lagi bagiku, belakangan kata-kata serupa pusat perbelanjaan yang memisahkan anak kecil dan museum. Mereka ada namun hanya sebagai tanda bahwa mereka tidak hidup hanya sebagai kata. Saya mulai mencurigai kata-kata.
“Tetapi, berkata lebih mudah daripada berbuat, bukan?”
Kutipan dalam Surat-Surat Kartini yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno ini tidak lagi relevan untuk hari-hari sekarang. Kedua hal sama mudahnya bagi sebagian orang, dan pula sama susahnya untuk sebagian lagi. Setidaknya bagi saya. Kedua hal itu sama-sama cukup hebat membuat saya berkeringat. menggenggam tanganmu dan mengatakan “saya cinta kau”. misalnya
Maaf, tapi tolong untuk menahan diri dari berkesimpulan bahwa semua itu hanya alasan dibuat-buat karena saya tidak pernah gelisah merindu kau. Jelas sudah selama ini bahwa saya menulis puisi, dan semua puisiku hanya bertujuan kau. Puisi saya hidup sebagai tukang pos pembawa sebagian kerinduan yang tidak lagi sanggup dimuat hati dan surat kabar kota pagi ini. Saya, dengan segala keterbatasan, begitu rindu pulang ke pelukmu.
Surat pertama ini adalah benar-benar hal pertama untuk saya. Karena ini merupakan tulisan pertama saya selain puisi, dan surat pertama yang saya buat untuk dapat disampaikan kepada orang lain. Dan orang lain itu adalah kau, cinta pertama saya.
Surat pertama ini pun saya tidak tahu harus dengan apa mengisinya. Karena sebagai permulaan, saya yakin jika kita membahas teori relativitas-nya Albert Einstein atau bagaimana politik pada era perang saudara yang pecah di Amerika dengan pemimpin Jefferson Davis pada pihak konfederasi sangat cukup untuk kau pakai sebagai alasan masuk akal untuk membakar segera surat pertama saya ini, tepat sebelum kalimat ini menyentuh tanda titik. Atau paling tidak, saya masuk ke dalam daftar lima pria yang seharusnya berbicara dengan batu.
Buang jauh-jauh jika terpikir bagi kau surat ini serupa pereda rindu — entah bagi saya atau kau — , karena saya belum pernah menemukan, lebih-lebih merasakan kegelisahan yang begitu deras disebabkan oleh rindu seketika reda oleh selain pelukan. Benar memang surat ini adalah lain cara dari saya untuk memeluk kau, tapi ia bukan pelukan itu sendiri. Saya tidak benar-benar memeluk kau selain memeluk semua kemungkinan. Saya punya potret dirimu yang jumlahnya lebih dari cukup untuk memenuhi gudang sebuah supermarket. Dan benar saja, mereka — semua potret dirimu yang saya punyai — tidak ada yang berhasil meredam rindu saya kepada kau. Lucunya lagi, semua potret dirimu yang saya punyai itu, kembali hanya sebagai penyebab untuk tiap rindu saya kepada kau yang makin di luar kendali.
Surat ini boleh saja nanti kau baca di tengah perhatian keluarga besar, atau di antara beberapa sahabat terdekatmu. Atau diam-diam kau nikmati serupa api yang melahap kayu, yang menjadikannya tiada, seperti pada puisi Sapardi Djoko Damono. terserah saja, tidak ada syarat untuk kau dapat menikmati surat ini.
Ah iya, foto itu. Itu foto bangunan dengan arsitektur renaissance yang sekarang digunakan sebagai kantor Bank Indonesia, dulunya merupakan kantor dari De Javasche Bank. Dibangun pada sekitar 1879 dan selesai pada 15 Februari 1915 , diarsiteki Hulswitt dan Cuypers. Lalu pada 1 Juli 1953 diambil alih oleh Indonesia setelah nasionalisasi pada tahun 1951 dan menjadi Bank Indonesia hingga sekarang. Letaknya persis di sebelah timur kantor pos. Tepat di depan gedung ini, di antara lalu lalang pelancong, di apit bangunan yang hidup bersama sejarah cinta yang begitu parah, untuk kali pertama setelah melewati lebih dari cukup waktu untuk seorang anak kecil masuk ke sekolah dasar atau mempunyai adik — dua adik bahkan — , akhirnya saya bisa kembali secara langsung walau dengan mencuri-curi untuk menikmati senyummu. Dan disini pula, surat pertama saya kepada kau selesai ditulis.
Sudah, begini saja. Sebagai permulaan, surat pertama ini saya kirimkan kepada kau dengan mengandung permintaan maaf saya yang paling dalam. selain memang sudah terlalu banyak kesalahanku terhadap kau, maafkan juga jika selama ini, saya hidup penuh dengan kepercayaan bahwa saya begitu mencintaimu. Saya percaya bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan kecintaan saya kepada kau. Bahkan, sangat lama saya meyakini, jika cintamu tidak seberapa dihadapan cintaku kepadamu. Sungguh, maaf, jika selama ini tidak pernah saya berharap kau untuk mencintai saya. jika saya selalu merasa hari-hari akan baik saja, hanya dengan saya mencintai kau.
Jika saya selama ini lalai mengingat kau sebagai seseorang yang begitu rupa dalam menyayangi, hingga sanggup memberi maaf untuk segala salah dan kurang yang saya derita. Tolong dengan segala kelemah-lembutanmu, maafkan saya.
