Menulis dan TKI
HALO!
Jumpa lagi denganku di edisi Hujan Bulan September di Semester 5 yang Indah. Nggak kok, cuma judul asal tulis aja. Kali ini aku akan membahas tentang salah satu mata kuliah yang sedang kujalani di semester 5 di jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung. Katanya sih semester 5 ini adalah ‘dewa’nya dari kuliah di Biologi karena di paket mata kuliah wajib ada Proyek Ekologi yang katanya menguras waktu, tenaga, dan hati, duh.. Nah, bukan mau cerita Proyek Ekologi ya, tapi aku mau cerita tentang matkul namanya Teknik Komunikasi Ilmiah, apa tuh?
BI4002 adalah kode mata kuliah Teknik Komunikasi Ilmiah, jadi harusnya sih ini jadi matkul wajib di semester 7, karena angka 4 melambangkan mata kuliah wajib di tingkat 4 sedangkan aku masih tingkat 3. Usul punya usul nih, TKI ini banyak yang ngedrop waktu semester 5 katanya untuk nambah SKS atau alasan lainnya biar semester 7 tinggal ngambil matkul pilihan. Kalo alasanku, kurang lebih sama dan aku punya alasan kalo menulis itu sebenarnya menyenangkan, apalagi di sela-sela kegiatan Proyek Ekologi (meskipun aku jarang nulis, hehe).
Bedanya TKI sama TTKI matkul TPB apa ya? Setelah merenung sebelum membuat tulisan ini, aku mau menyimpulkan kalo di Tata Tulis Karya Ilmiah (TTKI) lebih condong ke tata cara menulis yang benar, seperti ejaan, tanda baca, diksi, dan jenis-jenis kalimat yang lazim digunakan untuk menulis sebuah karya ilmiah. Sedangkan di Teknik Komunikasi Ilmiah mempelajari bagaimana menyampaikan suatu konten ilmiah dalam sebuah tulisan, jadi kita dianggap sudah bisa menulis yang baik dan benar. Di TKI sendiri lebih banyak mempraktikkan untuk menulis ilmiah (dan tulisan populer awalnya, hehe) dan mempublikasikannya. Kata orang, cara kita menulis merepresentasikan cara berpikir kita. Mungkin untuk sekarang kalo tulisanku masih amburadul, ya dapat kita simpulkan bahwa cara berpikirku masih amburadul.
Harapan mengambil matkul TKI untuk memperoleh pencerdasan tentang cara berpikir dalam menulis agar konten yang ditulis menarik, ilmiah, dan tidak membingungkan orang. Katanya, pikiran manusia adalah suatu bentuk yang abstrak, lewat berbicara, menulis, menggambar, menari dan bermain musik merupakan sarana kita bisa membagikan pikiran itu. Semua media itu dapat dilatih, namun menulis merupakan jalan untuk orang kurang bakat sepertiku bisa mewujudkan impian untuk bisa berkomunikasi tanpa malu-malu (mungkin). Harapan lain sebagai mahasiswa yang ingin menggandakan IPK, ya… semoga mendapatkan nilai A (hehehe). Dan semoga saya jadi rajin menulis, terkadang aku ingin menulis, tapi lupa.. (alasan hehe).
Ide adalah makhluk abstrak. Agar bisa menjadi karya konkret yang bisa dibagi, ide membutuhkan disiplin, komitmen, juga struktur (Dewi ‘dee’ Lestari)
