Catatan Berserakan: Satu Juni dan Mahasiswa

Hari ini banyak hal melintas di pikiranku. Berserakan, tak beraturan. Namun aku pilih dua hal saja, sebagai pengingat di masa akan datang.

**

Satu juni, hari lahir Pancasila.

Saya teringat dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila yang sangat mengagumkan dan menyentuh sanubari. Namun semua menjadi miris ketika ibu menyalakan televisi. Ada berita salah satu ormas yang terkenal dengan jiwa premannya, mengutuk salah satu gubernur karena dia bukan seorang muslim. Mereka mengancam akan merebut balaikota dan menghancurkan kekafiran. Di lain media, ada pula yang mengkafir-kafirkan muslim lainnya dan menyuarakan khilafah sebagai pengganti sistem kenegaraan. Ada pula yang menanamkan kebencian antar umat beragama, ada pula yang menyiksa, ataupun mengusir salah satu umat beragama lainnya.

Dari manakah asal muasal kebencian tersebut? Tuhan memang menciptakan kebencian dan kasih-sayang dalam hati manusia, namun aku tidak percaya jika Tuhan mengasihi umat-umat penebar kebencian. Saya ragu, apakah mereka umat yang bertuhan ataukah mereka umat beragama tapi tak bertuhan? Semoga Tuhan mengampuni mereka.

**

Kata paling hegemonik? Mahasiswa!

Kata-kata ini tiba-tiba melintas di pikiranku. Aku membaca sebuah buku berjudul “How The University Works”. Bab paling menarik didalamnya adalah Students are already workers.

Kemudian saya teringat dalam sebuah diskusi bersama Mas Syahrir, Wahyu, dan Duta di sebuah warung kopi ketika para sopir bemo menuntut dicabutnya peraturan usaha angkutan umum kota. Sebetulnya mahasiswa adalah sebuah basis industri, yaitu industri pendidikan. Mereka bersama dengan pengajar melakukan kegiatan yang diulang-ulang untuk memreproduksi ‘pendidikan’.

Status mahasiswa menjadi pangkat mulia yang disandang manusia-manusia malang. Mereka dengan bangga menjadi sebuah kaum borjuis, merasa lebih mulia dibanding buruh-buruh dan tukang becak. Namun mereka lupa, perut mereka tak akan terisi tanpa jerih payah orangtua. Begitu pula dengan status mahasiswa, mereka tak akan menyandangnya tanpa uang yang dibayarkan orang tua ke rekening universitas.

Kesadaran sebagai mahasiswa justru menjadi ketidaksadaran akan realitas ekonomi-politik. ‘Mahasiswa’ menjadi sebuah kebanggaan semu. Mereka dielu-elukan sebagai agents of change, pembawa perubahan, bahkan menjadi bahan bakar reformasi. Namun sebenarnya mereka dipisahkan dari lingkungan sosial dan alam, menjadi kaum yang eksklusif, dan seolah-olah memegang kekuatan politik ke birokrasi.

Memposisikan diri sebagai mahasiswa dengan ilusi kekuatan politisnya justru membawa pemikiran ke atas langit dan jatuh menghunjamkannya ke dasar bumi. Mereka telah teralienasi semenjak mereka masuk ke dunia pendidikan. Bahkan dalam ruang kelas tempat mereproduksi kegiatan belajar mengajar, mahasiswa dan dosen adalah dua objek yang terpisahkan dan berseberangan. Mahasiswa adalah manusia lugu yang belum paham, bodoh, dan perlu dibenarkan. Sedangkan dosen adalah manusia yang bertugas memberi mereka pengetahuan, mentransformasikan dari bodoh menuju pintar.

Maka siapakah mahasiswa? Ia tidak lebih adalah manusia-manusia malang yang bertugas melenggangkan industri pendidikan, berjibaku dengan ujian dan tugas. Ia adalah medium industri pendidikan untuk menghisap kekayaan dan kesejahteraan masyarakat. Ia adalah manusia-manusia lugu dengan idealismenya, berakhir di pasar kerja. Dan apakah ‘status mahasiswa’ itu? Ia adalah ke(tidak)sadaran yang membuat mereka nyaman, merasa paling mulia, diantara semua elemen masyarakat. Status mahasiswa adalah benda dengan segala daya dipertahankan mahasiswa untuk melarikan (menghibur) diri dari kejamnya realitas ekonomi-politik.

Lepaskan status mahasiswa dari akal pikiran Anda, jadilah manusia pembelajar di universitas atau dimana pun Anda berada.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.