PRAMUSUASANA

#8


Bukan Pramugara.

Bukan Pramuniaga.

Bukan Pramusaji.

Tidak selalu siap sedia

Acap kali tak seiya sekata

Harus mereka-reka jatah pertemuan teruntuk saling menyidangkan tatapan mata

Jangan salah, Mutia.

Dirinya inilah seorang insan

Memberimu sayup-sayup rangkulan nan syahdu,

yang membisukan bisik kecewamu.

Memberimu nurani,

manakala rutinitas menghantammu bertubi tubi.

Menelanmu ke setiap ruang hampa peristiwanya,

hanya untuk menelisik jiwamu yang begitu istimewa.

Namun semua fana.

Sebatas penyejuk suasana.

Apa daya pohon cemara tanpa hawa yang ia suka?

Apa guna mantel baja tatkala api menyembunyikan baranya?

Apa bisa mengangkatmu kembali dengan kehilangan tulang hasta di saat yang sama?

Bukan Pramugara.

Bukan Pramuniaga.

Bukan Pramusaji.

Hanya Pramusuasana.

Begitu deru,

begitu haru,

tapi tetap menunggu.

Barangkali…..

memelukmu adalah hobiku.