Jordan #2: Kabur dan Diculik

Bel sekolah berdering tanda jam pelajaran usai. Dengan enggan, Jordan menyerahkan lembar jawaban ke gurunya. Hari itu ada kuis dan dia melupakanya. Sebenarnya Jordan bisa mengerjakanya, kalau dia belajar. Ck! Ivan pasti akan memarahinya dan memberinya ceramah membosankan kalau dia gagal dalam kuis itu. Hem… Ivan, sudah delapan tahun dia bertahan dengan pria itu. Dia tidak suka Ivan sama seperti ayahnya yang dulu. Dia berusaha tidak menyakiti Ivan hanya karena pria itu sangat baik pada ibunya. Jelas sekali pria itu mencintai ibunya.

Gadis itu membuka loker untuk melihat jadwal selanjutnya. Jordan menutup lokernya terlalu keras. Ah! Sial! Pintu lokernya memantul dan melukai keningnya. Dia bercermin beberapa saat dan mengamati lukanya menghilang. Setelah menutup pintu loker dengan lebih hati-hati, gadis itu berjalan menuruni tangga menuju lantai satu. Ketika akan berbelok di lantai satu, dia melihat guru biologinya berjalan di koridor. Segera gadis itu berbalik cepat dan berjalan ke arah sebaliknya.

Sepuluh menit kemudian, Jordan mengendap di bawah jendela. Berusaha sedapat mungkin untuk tidak menimbulkan suara. Gadis itu bolos kelas biologi hari ini. Dia tidak suka pelajaran biologi apalagi gurunya. Pelajaran itu menyebalkan sekali. Setelah sampai di ujung gedung, Jordan berdiri tegak dan tubuhnya mulai tampak. Perlahan dia terlihat lagi. Sambil membetulkan posisi tasnya, gadis itu berjalan cepat menuju halaman belakang sekolah. Dia akan tidur dulu sebentar, lalu setelah bel makan siang berbunyi, dia akan kembali ke gedung sekolah.

Gadis itu bersandar pada pohon yang biasanya, mengosongkan tas sekolahnya, lalu kemudian melipatnya untuk dijadikan bantal. Dengan segera dia tertidur. Jordan mengumpat ketika dering nyaring teleponnya membuatnya terbangun. Setelah mengumpat beberapa kali lagi dengan lebih keras, dia mengambil telepon dari samping tumpukan buku.

“Halo?”

Tidak terdengar jawaban, hanya suara gemerisik aneh. “Halo?” sekali lagi dia bertanya. Suara gemerisik itu tidak juga hilang. Suara itu semakin jelas saja terdengar, membuatnya pusing. Terasa olehnya kepalanya membentur bantal tasnya.

Jordan perlahan membuka mata, sedikit heran dengan sensasi lembut di indera perabanya. Gadis itu bangkit dan segera menyadari keberadaan tiga buah ranjang berseprei putih serta wajah-wajah asing yang duduk diatasnya. Gila….