Simak

Anak El,

Tanggal 8 Maret ini Simak datang ke rumah untuk menengokmu, bareng dengan Bude Ti, Mas Guntur, Mbak Viva dan Ochi. Simak ini adalah budenya bapak, ibu kandung dari nenekmu. Kenapa bapak tetap manggil Simak? Karena itu panggilan hampir semua orang ke beliau. Anak-anak, keponakan dan bahkan para cucu tetap memanggilnya Simak. Panggilan itu sudah jadi trademark di keluarga.

Sebenarnya yang datang berkunjung ke rumah untuk menengokmu ada banyak, baik dari saudara kandung maupun teman-teman bapak. Lalu apa istimewanya kunjungan Simak ini? Ya karena Simak cukup istimewa bagi bapak, makanya bapak pengen sedikit cerita tentang beliau.

Waktu bapak berumur sekitar 4 tahun Mbah Mar, nenekmu atau ibu kandung bapak, pergi ke Jakarta. Alasannya apa, nanti bapak cerita kalau El sudah lebih dewasa. Karena kakek kerepotan merawat empat orang anak sendirian, salah satu solusi adalah menitipkan bapak ke Simak. Mungkin karena bapak masih kecil dan belum sekolah, jadi dirasa butuh perawatan intensif. Jadi selama kurang lebih 1.5 tahun bapak tinggal di tempat Simak di Jogja.

Waktu itu keluarga Simak juga kondisi ekonominya masih pas-pasan, tapi tetap menerima bapak meskipun sudah ada 5 anak di sana. Tapi memang anak-anak Simak sudah besar-besar, paling kecil saja sudah SMA. Jadi ketambahan satu bocah lagi ga merepotkan, malah senang. Maklumlah, orang Indonesia kan senang sama anak kecil, pada umumnya. Bapak tinggal di sana sampai selesai TK (taman kanak-kanak).

Dengan kondisi yang sederhana, makanan yang kami makan juga seadanya. Tapi syukurlah kami semua tetap sehat. Kadang anak-anak Simak selalu bercerita kalau waktu kecil makananku cukup nasi dicampur garam dan bawang putih hehehe. Tentu gak begitu terus, tapi ya menu itu memang kadang kami nikmati. Aku senang tiap kali Simak pulang dari pasar, sering bawa jajanan, seperti apem solo dan jenang gempol. Enak!

Waktu TK, yang paling berkesan adalah ketika Simak menuruti kemauanku untuk masak bubur kacang hijau di sekolah. Jadi setiap minggu, secara bergilir orangtua murid akan memasak untuk dimakan seluruh kelas bersama-sama. Dananya disubsidi dari sekolahan dan juga dari iuran orangtua murid. Biasanya yang dimasak adalah makanan rumahan, yang aku ingat ada yang masak sop ayam. Waktu giliran kami yang harus menyediakan masakan, Simak tanya apa yang aku inginkan. Dengan mantap aku jawab, pengen bubur kacang hijau, dan Simak setuju.

Lulus TK, kakek meminta bapak untuk pulang ke rumah dan melanjutkan SD di Sleman. Kakak-kakak di rumah Simak merasa sedih, tapi toh jarak rumah kita gak terlalu jauh sebenarnya. Setiap liburan bapak selalu berusaha untuk liburan ke tempat Simak, bagaikan rumah kedua.

Oh ya, pernah suatu saat, waktu kelas 4 SD, bapak jalan kaki sendirian ke rumah Simak. Padahal biasanya kalau ke rumah Simak selalu naik angkutan umum. Waktu itu nekat saja. Jaraknya lebih dari 12 km, dan ditempuh sekitar 3 jam. Lumayan jauh untuk ukuran anak SD ☺. Kejadian itu bikin gempar satu dusun hehehe.

Setelah bapak menikah, Simak selalu menanyakan kapan aku akan punya anak. Biasalah, namanya juga orangtua. Tapi mungkin juga karena Simak juga menganggap bapak adalah anak kandung sendiri. Makanya ketika El lahir dan Simak ada kesempatan ke Jakarta, Simak tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjenguk El.

Like what you read? Give Kurniadarma a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.