Dan Saya Nyaris Lupa Kalau Masih Jadi Sysadmin.

Sejak dulu, profesi sysadmin adalah salah satu profesi yang menurut saya sulit sekali dicari definisi pastinya. Sejak pertama kali saya memilih jalan hidup menjadi seorang sysadmin, hampir sepuluh tahun yang lalu, setiap lebaran saya menghadapi dilema tahunan yang kronis.

Bayangkan ketika nenek saya, yang seumur hidupnya tinggal di sebuah kecamatan tiga belas kilometer jauhnya dari pusat kota Madiun, bertanya tentang pekerjaan saya di Jakarta.

Bagaimana kira-kira saya mendeskripsikan sebuah makna abstrak profesi system administrator kepada beliau?

Sesaat saya jadi berandai-andai betapa bahagianya andai saya adalah seorang guru SD. Profesi mulia yang hanya akan membutuhkan satu menit untuk menjelaskan kepada nenek, atau siapapun.

Dalam kurun waktu satu dasa warsa belakangan ini pula saya menyaksikan beberapa kali para sysadmin harus membetulkan letak kaca mata mereka, melihat kembali dalam gambaran yang lebih luas cakupannya.

Di mana layaknya sysadmin mengambil posisi, dan apa yang diharapkan para pemilik modal atas kehadiran mereka.

Bertepatan dengan momentum pergantian tahun, saya kira agak relevan jika kita, para sysadmin, mencoba mengambil napas sejenak dan berpikir dengan tenang.

Apa strategi kita setelah ini? Apakah profesi sysadmin masih cukup “seksi” dan menjanjikan untuk dijadikan tumpuan hidup?

Saya mencoba merangkum sedikit pelajaran yang saya peroleh dari perjalanan hingga saat ini sebagai seorang sysadmin. Hitung-hitung sebagai refleksi akhir tahun yang agak kesiangan. Terutama untuk saya pribadi.

Kesombongan Dalam Sekam.

Percayalah, hampir tidak ada orang yang merasakan kesombongan ada pada diri mereka. Termasuk saya.

Ketika saya mengundurkan diri dari Detikcom, sebuah portal berita terbesar dan terkuat di Indonesia, kala itu, saya benar-benar merasakan alam semesta berputar mengelilingi saya. The (whole) world revolves around me.

Mudah sekali mencari perusahaan yang mau mempekerjakan saya. Saya jadi tempat bertanya.

Saya tahu, bahkan saya alami sendiri, bagaimana mengelola infrastruktur aplikasi raksasa dengan beban seberat Detikcom.

Saya menepuk dada dengan jumawa.

Tapi pelajaran hidup pertama dalam dunia profesional ini saya dapatkan dengan cara yang pahit dan benturan keras. Saya terjatuh.

Begini, dalam dunia sysadmin, tidak ada ilmu pasti yang kalian kuasai sekarang dan bertahan selamanya.

Orang-orang di luar sana bekerja siang dan malam untuk menemukan teknologi lebih canggih. Oke, saya tambahkan, ini bukan hanya tentang sysadmin. Tapi semua jenis cabang disiplin ilmu dan profesi.

Jika kalian malas, orang akan berlari menyusul kalian. Kemudian berlari lebih cepat untuk meninggalkan kalian di belakang, yang ironisnya masih terbengong-bengong mencoba menyadari apa yang baru saja terjadi.

Kalian yang masih sibuk meyakinkan diri sendiri bahwa sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk dipelajari. Kemudian tergagap ketika sadar bahwa kalian ada di baris paling belakang.

Bergaul dengan Semua Orang.

Menjadi orang teknis tak lantas membuat kita hidup dalam gelembung kaca bening. Hanya berteman dengan sesama sysadmin, atau orang-orang teknis.

Sebetulnya alasannya cukup bisa diterima, jauh lebih mudah menemukan bahan diskusi dan obrolan jika kita berkutat dengan sesama sysadmin.

Belum lagi terbentur kenyataan (atau hanya pembenaran) bahwa kebanyakan kaum geek adalah introvert. Memang sangat menyenangkan, tapi melenakan.

Percayalah, sedikit demi sedikit kalian akan terjebak dalam paradoks yang aneh. Ketika hidup ternyata membawa kalian ke dunia yang jauh diluar tembok bening yang kalian ciptakan sendiri, kalian bakal kebingungan setengah mati.

Bangun pertemanan dengan semua orang, sebanyak mungkin orang, dari sebanyak mungkin bidang.

Mulailah dari yang paling dekat, tetangga sebelah kamar kos, divisi sebelah, driver di parkiran kantor. Hal-hal menyenangkan akan datang dari sudut pandang yang beragam.

Saya beri tahu satu hal, salah satu pertimbangan atasan untuk menempatkan kalian di posisi tinggi bukan semata karena kalian jago ngoprek Linux, atau sanggup begadang dua malam untuk bekerja di data center.

Kalian akan dipilih menjadi pemimpin jika kalian juga mampu berkomunikasi dengan baik, terutama dengan departemen lain, dan jika kalian disukai oleh teman sejawat. Coba pikirkan lagi.

Belajar Koding.

Sebaiknya kalian berhenti menjadi sysadmin jika merasa tidak mau belajar bahasa pemrograman.

Bukan, Shell scripting tidak termasuk yang saya bicarakan. Cobalah memilih antara Python, Perl, Ruby, bahkan PHP atau Java. Belakangan ini Go juga sedang ngetren.

Coba cari printilan pekerjaan kalian sebagai sysadmin untuk diselesaikan dengan Python atau Perl.

Script backup rutin misal, coba ganti Shell scripting yang sudah bertahun-tahun kalian banggakan itu.

Tak ada salahnya kok. Belajar koding dari awal memang menyakitkan, tapi tak perlu mengeluh, kalian boleh berterimakasih nanti.

Jangan Pelit

Tanamkan dalam diri kalian, bahwa with great With Great Power Comes Great Responsibility.

Tuhan tidak akan menitipkan semua pengetahuan itu pada kalian untuk dimiliki sendiri

Kalau mau sedikit religius, Tuhan tidak akan menitipkan semua pengetahuan itu pada kalian untuk dimiliki sendiri. Jika ada yang bertanya, berilah jawaban, ajari dia. Ingat, kalian juga dulunya nggak pinter-pinter amat.

Secara pribadi saya selalu percaya hal ini; kalau saya punya duit sepuluh ribu dan kalian minta dua ribu dari saya, maka duit saya berkurang dan tinggal delapan ribu. Tapi kalau saya punya ilmu dan kalian minta ilmu itu dari saya, maka sedikitpun saya nggak akan kehilangan ilmu yang saya miliki. Malahan besar potensinya untuk bertambah.

Jangan Abaikan Penampilan.

Di film, hacker yang jago-jago kebanyakan digambarkan dekil, lusuh, dan jarang mandi.

Tapi percayalah, jika kalian bekerja di sebuah perusahaan dan harus datang ke kantor setiap hari, jangan pernah berpikir untuk menjadikan orang-orang di film tersebut jadi inspirasi penampilan.

Jika kalian jarang mandi dan berpenampilan lusuh, maka bersiaplah untuk terkena masalah. Sebab kalian akan berurusan dengan orang-orang yang mengeluhkan gangguan yang kalian sebabkan.

Saya hormati orang dengan penampilan apapun, asal mereka layak dihormati. Tapi saya, dan banyak orang lainnya, jauh lebih menghargai kalian jika berpenampilan baik.

Tak perlu wangi. Yang penting tidak berbau menyengat. ;)

Banyak hal di kepala saya yang sebetulnya ingin dikeluarkan. Tentu tidak secara harfiah. Kita akan bahas lebih detail lain kali. Selamat bermenung.