Kurniawan
Kurniawan
Nov 3 · 2 min read

Sebuah obrolan malam, yang membuktikan masih ada orang yang peduli dengan masa depan ITB, dan juga KM ITB.
Entah keberapa kalinya datang ke warung di jalan Ganesha tepatnya Warung Dwilingga, sederhana dengan obrolan yang cukup banyak bercanda. Aku dan kawanku Meizy diundang oleh ketua himpunan kami, Pras ke warung tersebut.
Banyak obrolan terjadi dan banyak pula yang bisa aku tarik kesimpulan


Pertama, mengenai pemilihan rektor yang dilaksanakan di 7 November 2019 nanti, dan 2 November 2019 kemarin, dilaksanakanlah debat terbuka di Boulevard ITB. Meski penyerahan MoU berhasil, tapi sangat disayangkan kehadiran massa KM ITB masih minim. Hal tersebut menjadi evaluasi untuk hal kepedulian dan ternyata memang banyak massa kampus yang sedang berkegiatan di lembaganya. Semoga saja, masing-masing kita tahu dan peka serta mau mengejar informasi mengenai ITB #1 ini.


Kedua, mengenai Pemira KM ITB yang beberapa hari lalu sudah ada 3 orang yang berniat baik memperbaiki KM ITB dengan mengambil berkas K3M dan mulai mencari lembar dukungan untuk syarat berkas. Cukup setuju dengan hal ini, karena mengharuskan pemimpin kami nanti turun ke rakyat-rakyatnya. Kabar yang cukup menggembirakan untuk didengar, namun masih menunggu kabar gembira untuk MWAWM selanjutnya yang sampai saat ini belum ada yang meng-ekspos ke publik mengenai niatnya (siapapun itu). Aku pribadi sangat menunggu upaya memperbaiki KM ITB ke depannya dan menepis omongan "KM ITB sudah tidak relevan, bahkan kemahasiswaan".
Pun bila ia berkata demikian, semoga ia tidak lupa dengan tanggung jawab yang diemban sebagai insan akademis.
Obrolan yang ada pun mengarah bagaimana untuk meramaikan pemira ini agar massa kampus banyak yang terpapar kondisi yang ada.


Ketiga, mengenai pendidikan untuk calon penerus 'ketua-ketua' yang ada di warung itu, yang rencananya bekerja sama dengan Ganesha Upraising. Mungkin juga terdapat ajakan non-formal di lain hari bersama calon penerus yang lain. Terkadang kita melupakan bahwa pendekatan non-formal juga diperlukan untuk setidaknya berguyub bersama.

Abangku Darryl pernah berkata, "transfer ilmu paling baik ada di meja makan."
Mungkin hal tersebut menandakan bahwa tidak cukup bila hanya perut yang diberi makan, namun pikiran juga perlu disuap gagasan.
Namun hal itu, kurasa memiliki suatu kekurangan. Pendekatan informal yang kami hadiri, tidak menghadirkan stakeholder dari lini lain, memang yang datang hanya kawan-kawan ketua Himpunan (ketua umum, ketua BP, ketua BPH, atau apapun itu yang setara tergantung HMJ-nya yang menunjukan ia pemimpin eksekutif di lembaganya). Mungkin saja kedepannya, ketua unit, Kabinet KM ITB, dan tim MWAWM ITB lebih sering hadir dan duduk bersama dengan obrolan yang ada. Karena dengan hal ini, upaya sinergisasi bisa dilakukan.
Bila kita melihat ke struktur KM ITB, saya sendiri sepakat, perlu adanya upaya Bottom-Up dari massa lembaga dalam hal ini HMJ dan unit, sekaligus upaya Top-down dari stakeholder terpusat.
Afif Pajar pernah mengatakan padaku, "KM ITB akan lebih baik bila tidak hanya Kabinetnya saja yang bekerja keras, namun pemimpin basis massanya dalam hal ini Ketua Himpunan juga berusaha yang sama untuk memperbaikinya."
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater, dan Untuk PATRA yang lebih besar, dan lebih kuat.
Semoga makin banyak orang yang tersadarkan, untuk memperbaiki kondisi bersama-sama.


"Kau terpelajar, lalu apa?"

Iwan
12217092
Anggota biasa KM ITB
Anggota biasa HMTM "PATRA" ITB

    Kurniawan

    Written by

    Kurniawan