Perdana

Halo

Selamat malam

Salam rindu dari 3371 mil jauhnya.

Malam ini hujan turun sangat lebat, membasahi kota hampa ini tanpa ampun. Udara diluar terasa panas, maka kunyalakan pendingin ruangan dengan suhu 24 derajat saja. Tidak begitu dingin namun tetap nyaman dari udara panas.

Beberapa hari terakhir ini rasanya pikiran saya berkecamuk. Banyak hal yang ingin diungkapkan namun tak tahu pada siapa dan bagaimana. Maka dari itu saya pun bertekad untuk membuat akun di medium, hanya sekedar memuaskan ego saya untuk melepas pikiran saya lewat tulisan.

Jadi, salam kenal dari saya, sang kucing hitam. Yang kehadirannya banyak ditolak orang, namun di negara lain menjadi salah satu simbol keberuntungan. Dari kucing hitam ini saya belajar bahwa tidak selamanya kehadiranmu diterima di masyarakat, namun tidak pula berarti bahwa keberadaanmu sia-sia. Masih banyak tempat yang menerima dirimu apa adanya.

Mungkin tulisan-tulisan saya ini akan seperti kucing hitam, sebagian orang akan merasa tidak setuju dan menolaknya, namun ada saja yang merasa bahwa tulisan saya ini benar adanya.

It is simply just my opinion, but then I realized that this is Indonesia. Negara yang katanya demokratis namun masyarakatnya masih seprimitif itu untuk terbuka dengan opini orang. Dude, calm your ti… yeah, I mean, just chill. Opini bukan fakta, juga bukan sebuah pernyataan atas satu golongan atau satu kelompok yang memiliki kesamaan ciri.

Jadi sebelum anda rusuh akibat tulisan saya, saya ingin tekankan bahwa ini hanya opini saya, saya yang bertanggung jawab atas tulisan ini dan saya tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Jadi sebelum saya berbuat salah, saya mau meminta maaf terlebih dahulu.

Mengingat ini adalah tulisan pertama saya, maka saya tidak akan menuliskan opini-opini hasil pemikiran saya dahulu. Cerita-cerita ringan yang tadi saya tuliskan mungkin cukup sebagai pengantar saya ke dunia medium ini. Seperti teh hangat di pagi hari, sederhana dan menghangatkan. Mungkin tulisan ini sudah cukup menjadi pembuka untuk tulisan-tulisan saya kedepannya.

Kumandang adzan memang tidak terdengar disini, namun pengingat waktu sholat di ponsel saya sudah bergetar. Waktu subuh datang lebih cepat disini, sehingga tidur jam 2 malam rasanya terlalu sayang karena waktu sholat tidak begitu jauh jaraknya. Maka dari itu saya cukupkan tulisan saya ini karena saya harus bergegas sholat dan kembali tidur.

Terima kasih

Selamat tidur.