Pulang

Kelak jika tidak kamu temukan yang mampu mengertimu lebih dariku, sudikah kamu kembali?
Sebab aku adalah tempat kamu pulang, sejauh apa pun kamu pergi, sekelam apa pun perjalanan yang kamu lewati. Mari kita menyedu senja bersama, bercerita perihal apa saja sampai kamu muak melihatku tertawa. Bukankah kita selalu begitu, dulu? Mencuri-curi waktu disela padatnya lembaran buku yang musti kita pahami satu-satu.
Kelak jika kamu kembali, ‘kan kuserahkan waktuku untuk kamu curi. Mari kita mengobrol lagi sampai lupa diri, mengkambinghitamkan apa saja untuk dijadikan bahan tertawa, atau bertukar argumen perihal masa depan yang seolah kita rancang untuk dilewati bersama, atau sesederhana merumpikan kepala-kepala tidak menyenangkan di sekitar kita.
Kelak ‘kan kuajari kamu seluk-beluk sebuah hati: bagaimana menyayangi tanpa perlu menyakiti, bagaimana menjaga tanpa ada yang terluka. Hingga kamu pun memahami, hatimu tak ‘kan pernah kubiarkan meradang lagi, tak ‘kan pernah kubiarkan kecewa menghampiri.
Maka pulanglah, Kekasih. Tak ‘kan kutanyakan mengapa dulu kamu memilih pergi, aku hanya ingin kamu kembali — dan mencintaiku lebih dalam lagi.
Maret 2016
pulang/pu·lang/ v pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke)